
Penulis : Pongki Pamungkas
“Apa-apa yang terjadi padamu dan itu kamu tidak sukai, jangan lakukan itu kepada orang lain.” (Papyrus, 664-332 SM)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan aturan, melarang warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim masuk ke AS. Putusan itu dihadang pengadilan federal dan kemudian diperkuat oleh Mahkamah Agung. Trump kemudian merevisi aturannya, dan menyatakan pelarangan hanya berlaku bagi enam negara. Namun, aturan itu kemudian kandas lagi. Trump dianggap melanggar konstitusi karena melakukan diskriminasi agama. Meskipun ia berkilah, menyangkal, pernyataan-pernyataan Trump selama kampanye, yang anti-Islam, menjadi pegangan para hakim.
Saya, sebagai seorang Muslim, jelas sangat terusik dan kecewa dengan aturan Trump itu, meskipun Indonesia bukan termasuk dari enam atau tujuh negara yang diblokir. Ini alasan-alasan kekecewaan saya. Pertama dan yang utama, diskriminasi atas alasan apa pun, termasuk SARA, adalah hal yang melanggar kodrat kemanusiaan. Secara kodrati, manusia, di belahan mana pun di dunia, diciptakan sama oleh Tuhan Yang Maha Esa. Di hadapan-Nya, manusia, siapa pun dan apa pun kekuasaannya di dunia, adalah sama.
Semua manusia berdarah merah. Semua memiliki struktur fisik yang sama. Semua mempunyai mekanisme biologis dan psokologis yang sama. Semua memiliki kesamaan sebagai umat-Nya. Ada perbedaan-perbedaan manusia dalam kehidupan di dunia, beraneka rupa: ukuran, warna fisik, dan pelbagai hal lainnya. Perbedaan utama kelak hanyalah terjadi pada saat manusia kembali kepada-Nya. “Khairunnas anfa’ahum linnas. Yang terbaik di antara manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama,” kata Nabi Muhammas saw. Dan, pendangan ini bersifat universal. Segenap agama di dunia mengakui soal prinsip manfaat ini sebagai kemuliaan utama manusia. “Cintailah yang di bumi agar dicintai yang di Langit,” kata pepatah kuno China.
Kedua, saya jadi makin yakin bahwa kemunafikan itu makin mewabah di dunia. AS yang konon berjulukan negara pelopor demikrasi di dunia, negara yang sangat lantang berseru tentang penghormatan hak asasi manusia, ternyata sama saja dengan banyak para munafikun di dunia, termasuk di Indonesia. Lain di bibir, lain di hati dan lain di perbuatan. Prinsip “walk the talk” hanyalah kosmetik belaka.
Ketiga, dalam perkembangan situasi di dunia yang tak sehat saat ini, dengan perbagai permasalahan yang harus dihadapi umat manusia di seluruh negara, AS tak menunjukkan jiwa kepmimpinan yang sehat dan dewasa. Masalah kemiskinan dan kebodohan umat manusia akibat kejahatan korupsi, narkoba dan radikalisasi tak mungkin diatasi dengan pendekatan yang berprinsip pada “America First”, pokoknya AS menang dahulu.
Bila Anda merasakan kekecewaan yang sama dengan yang saya rasakan, lalu apakah kita harus melakukan pembalasan karena itu? Saya pikir sebaiknya tidak. Karena kalau kita terus saling membalas, apa jadinya dunia ini? Kalau kita terus membalas api dengan api, betapa dahsyat kerusaka dunia akibat kebakaran yang bertumpuk ini. Saya coba, sepenuh hati, menyiram api itu dengan air, tidak dengan api. Saya coba sekuat tenaga, untuk selalu mengingat yang disebut dengan Aturan Emas, The Golden Rule,” Jangan lakukan apa-apa yang Anda tak ingin diperlakukan orang lain kepada Anda. “Pendek kata, “Kalau Anda tak mau dicubit, jangan mencubit.” Saya yakin, sebagian besar umat manusia sependapat dengan saja, karena tak ingin merusak bumi beserta segenap isinya.
Jika kita sakit karena perlakuan orang lain terhadap kita, adalah lebih mulia kita menjalani penderitaan itu, tanpa harus membalaskannya ke orang lain, siapa pun orang itu. Dan, bukankah kita semua ingin menjadi manusia mulia di hadapan-Nya?
Pada 664-332 SM, Papyrus memberikan afirmasi soal Aturan Emas, dalam bentuk negatif, “Apa-apa yang terjadi padamu dan itu kamu tidak sukai, jangan lakukan itu kepada orang lain,” kata “The Golden Ruleí” ini konon mulai dipakai pada abad ke-17 di Inggris, dan yang paling dikenal sebagai pengguna awal adalah Charles Gibbons pada 1604. Tertulis pula, sebagai sejarah, terwujud Deklarasi Menuju Etika Global yang disepakati oleh 143 pemimpin pelbagai agama dan keyakinan di dunia, pada 1993, yang menyatakan Aturan Emas sebagai prinsip dasar bersama seluruh agama.
Seandainya saja, karena perbedaan pilihan politik saya, kemudian ada orang-orang sesama Muslim yang menjuluki saya sebagai kafir, saya hanya akan meniru Pak Jokowi, “Aku rapopo.” Meskipun menyakitkan mendapat julukan itu, tetapi kembali, “Saya tak ingin memperlakukan orang lain sebagaimana saya tak ingin diperlakukan orang lain.” Saya akan nikmati penderitaan itu dengan sabar-ikhlas-syukur. Bukankah sebahagiaan hanya akan terjadi karena faktor internal kita, karena keterampilan kita bersabar-ikhlas-bersyukur?
Saya juga dapat merasakan betapa sedihnya beberapa keluarga yang bernasib malang, manakala sanak-saudara mereka meninggal tidak dishalatkan di masjid oleh para tetangga terdekat, karena perbedaan pilihan politik. Astaghfirullah… Keluarga-keluarga yang malang ini sungguh sangat menderita karena perlakuan kejam kerabat yang menenteng agama sebagai senjata politik mereka. Namun, semoga “aku rapopo” tetap bersemayam di hati mereka yang tersakiti. Karena kembali, api yang hanya akan padam oleh air, bukan oleh api.
Kepada saudara-saudara sebangsa setanah-air yang tega menjuluki orang lain sebagai kafir, juga yang tega tidak menshalatkan jenazah saudara seagamanya, saya hanya mempu mengingatkan, “Apakah Anda semua juga berkenan bila disebut kafir? Apakah Anda semua ikhlas, jenazah sanak-saudara Anda tak dishalatkan di tempat sebagaimana seharusnya?” Saya berharap mendapatkan jawaban “Tidak” atas pertanyaan-pertanyaan saya itu. Artinya, dengan menjawab “Tidak”, nurani Anda masih sehat sepenuhnya. Artinya pula, keinginan untuk meraih kemuliaan di hadapan-Nya masih bersemanyam dalam sanubari Anda.
Alhamdulillah.
Sumber : SWA Edisi 10 23 Mei 2017 Hal 90
