DEWA GDWE SATRYA – Konser 30 Tahun Dewa 19 dimulai dari Surabaya pada Jumat kemarin (27/5) Surabaya dipilih sebagai panggung pertama pertunjukan karena band yang terbentuk tahun 1988 dan mengeluarkan album perdana pada 1992 itu berawal dari kota ini.
Antusiasme penonton, khususnya Baladewa (fans Dewa 19), sangat tinggi. Terbukti dari tiket termahal (Rp 5 juta) dan termurah (Rp 500.000) habis sejak pertama dijual. spek penting dari konser Dewa 19 tersebut adalah geliat industri pertunjukan yang kembali semarak pasca dua tahun berhenti karena pandemi Covid-19. Tak hanya konser Dewa saja, di saat bersamaan juga tepatnya mulai 27 – 20 Mei 2022, kembali digelar Java Jazz Festival di JiExpo Kemayoran Jakarta.
Marketeers (April 2011) menyatakan, masyarakat Indonesia haus akan hiburan dan ada dehidrasi pasar musik dimana show business menjadi pilihan. Secara global, hal itu terkait dengan industri musik yang berubah. Fenomena empiris yang tidak lagi aneh adalah, penjualan musik di satu sisi mengalami penurunan, di sisi lain penggemar musik terus bertambah, baik melalui komputer (Winamp, Media Player), pemutar MP3 (iPod), dan ponsel.
Rahardjo (2007) menyatakan, ada tiga hal mendasar yang menyebabkan penurunan penjualan musik di seluruh dunia: disruptive technology, perubahan kebiasaan orang modern dalam memutar lagu di CD/MP3 dan pola bisnis baru. Dewasa ini banyak bermunculan model bisnis baru, membeli lagu tidak satu album tetapi per lagu. Pola nyerupai pembelian buku hanya bab 1 dan 5.
Paralel dengan hal itu, digitalisasi memberikan dampak plus minus dalam industri musik. Konsumsi musik bergeser ke online atau daring, model bisnis tradisional pun terganggu. Di sisi lain, ketersediaan musik digital lebih mudah dan muah yang menguntungkan konsumen, tersedianya peluang lebih besar bagi artis atau musisi untuk memproduksi dan mendistribusikan karya musik mereka, serta tidak tergantung pada perantara.
Pembajakan musik di Indone peredarannya diperkirakan mencapai 9096 dari produk. Hanya 10% produk rekaman asli yang beredar di pasaran (Putranto, 2010: 1 Karena itu, industri pertunju atau konser menjadi elemen penting untuk menangkal pembajakan, mengatasi persoalan penurunan penjualan rekaman fiskal di era digitalisasi, serta menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif musik. Industri musik dan bisnis pertunjukan adalah kesatuan.
Maka, konser menjadi media penting yang menguntungkan semua pihak: musisi, pasar: pecinta musik, pemerintah, dan pertumbuhan industri kreatif. Bila disinergikan dengan baik, dampak berganda dari konser musisi dunia justru jauh lebih besar ketimbang penyeleng konser pada hari H. Dengan kata lain, ada waktu sebelum maupun sesudah pertunjukan.
Dalam konteks pariwisata, pasar penonton pertunjukan tidak hanya berasal dari tempat diadakah konser, namun juga warga dari luar daerah, bahkan mancanegara. Peran pemerintah haruslah terus mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas bisnis pertunjukan melalui regulasi yang kondusif dan infra yang memadai, karena potensi industri pertunjukan ini sangatlah besar dan memberi manfaat kepada banyak pihak.
Wujud entrepreneurship
Adapun industri pertunjukan merupakan wujud riil entrepreneurship, di mana promotor memegang peran utama yang memungkinkan pertunjukan dilaksanakan. Di tangan promotor, publik bisa melihat langsung raksi panggung dan pertunjukan musisi idola mereka. Hal yang sebelumnya jadi impian ribuan orang menjadi terwujud nyata karena kerja keras promotor.
Indonesia memiliki sejumlah nama besar promotor yang lahir dari kebutuhan (permintaan) sektor ini. Mereka jadi terspesialisasi pada beberapa aliran musik, ada jazz, rock, dan sebagainya. Pilihan (segmentasi) musisi internasional yang diundang pun disesuaikan dengan daya beli, minat, dan permintaan dalam negeri. Kerja entrepreneurial promotor menyatukan (menghubungkan) berbagai talenta dan sumber daya yang ada, mulai dari sponsor, organizer, persewaan tata suara dan pencahayaan, akomodasi, ticketing, tempat pertunjukan, suvenir, dan merchandise, hingga urusan keamanan pengalaman menyelenggarakan pertunjukan spektakuler musisi nasional dan musisi dunia di Indonesia menjadi potofolio yang penting untuk melobi dan menggaliang menyelenggarakan pertunjukan lain yang lebih besar dan mendatangkan musisi top dunia lainnya.
Musisi sebagai pelaku industri kreatif, dalam eksistensinya setia ingi peradaban bangsa di . Musisi merupakan profesi kehidupan yang dengan karakter khasnya menyuarakan nilai-nilai kehidupan dengan sumbangsih yang khas dan unggul selalu mendampingi peradaban bangsa dengan aneka dan kompleksitas persoalan kebangsaan. Musik juga menjadi media yang jujur mengekspresi secara positif fakta kehidupan: suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, cinta dan peperangan. Syair membawa pendengamya menja- lani hidup dengan penuh harapan dan jiwa kesatria atas semua fakta yang mengadang.
Dewa 19 dan musisi lainnya, lewat lirik-lirik lagu bernuansa kehidupan, dentuman irama harmonis, membawa peradaban dewasa ini menjadi bersemangat, berpretasi, tegar, dalam aneka peristiwa kehidupan. Pada masa krisis dan kesengsaraan karena pandemi karya seni dan musisi menjadi pelipur lara yang menyemangati, menghibur, dan membangunkan harapan akan kehidupan yang damai dan sejahtera. Sebuah anekdot earth without art is only eh, demikianlah seni,menjadikan hidup ini “dipeluk” dan dihidui secara penuh. Syair tentang cinta dan keindahan yang dibalut dengan irama yang harmonis dalam karya Dewa 19, menemani dan memengaruhi penggemar untuk mengisi dan membangun kehidupan yang bernilai dan berkuaitas.

