Senita Rizkiwahyuni (32) tampak sumringah. Senyuman lebar. Ucapan mengalir lancar. Bidan Desa Giri Sako, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Singingi (175 kilometer tenggara Pekanbaru) Riau itu baru saja mengikuti pelatihan tentang strategi, system, upaya kesehatan ibu dan anak selama dua pekan di “Negeri Sakura”.

Oleh Syahnan Rangkuti

 

Apa yang Senita bawa dari Jepang? “Saya ingin membuka kelas papa mama di desa. Di Jepang kelas papa mama dibuka untuk pasangan yang dirinya hamil” ujar Senita saat kami temui awal November di Pekanbaru.

Suami di Jepang. Lanjut senita sangat aktif. Dalam pertemuan dikelas, suami diajari akan kebutuhan ibu hamil, membantu mempersiapkan kelahiran, sampai cara merawat bayi. “saya ingin keluarga didesa bisa seperti itu” kata Senita, satu dari 13 orang Indonesia yang ikut dalam Program Persahabatan Indonesia-Jepang abad 21 tahun 2017 di Tokyo.  14 Oktober, 2 November 2017 di Jepang.

Kesempatan menimba ilmu yang dibiayai oleh Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) itu tentu tidak turun dari langit. Itu adalah puncak perjalanan panjang Senita mengabdi kepada masyarakat Desa Giri Sako selama 10 tahun terakhir.

Selaku Bidan Teladan di Provinsi Riau 2017, namanya masuk dalam daftar nama orang yang berprestasi di Kementrian Kesehatan. Dari sana namanya masuk dalam nominasi program ke Jepang.

Bidan adalah profesi utama Senita, selaku pegawai Puskesman Sukaraja , Logas Tanah Darat yang menempati Pos Kesehatan Desa Giri Sako sejak 2007. Kiprahnya sebagai bidan bagus. Belum ada ibu hamil yang meninggal ketika ia tangani. Angka kematian bayi juga sangat kecil.

Senita juga bukan bidan yang biasa. Diluar aktivitas kebidanannya, sayapnya melebar. Mulanya ia membuka pos pelayanan terpadu (Posyandu) khusus warga untuk usia lanjut (lansia) pada 2010. Kegiatan itu mulanya kecil, tapi melibatkan 170 warga lansia sedesa. Setiap bulan dilakukan pertemuan dengan memberikan program agar warga sepuh dapat menjalani masa tua dengan berkualitas.

Posyandu lansia melakukan pengecekan tekanan darah, gula darah secara berkala serta pengobatan. Disamping itu juga dilakukan senam untuk mendukung kesehatan.

Tiga tahun kemudian aktivis Senita menjadi lebih besar dengan melibatkan anggota keluarga para warga lansia. Mereka membentuk Bina Keluarga Lansia (BKL) bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Ada tujuh kader yang mampu yang membantu sukarela tanpa bayaran. Hampir semua kader adalah guru sekolah didesa. Selain itu ada pengurus desa, yakni Maryanto Sekertaris Desa Giri Sako. Dalam program PKL anggota warga dan lansia dilibatkan bersama-sama dengan mengembangkan dan memperbaiki beragam dimensi seperi, spiritual, sosial kemasyarakatan, fisik dan intelektual.

Para warga lansia juga memiliki kegiatan ekonomi tambahan sejak pemerintahan desa menyediakan lahan seluas 1 hektar untuk berkebun sayur dan buah. Dinas Peternakan Kabupaten Kuantan Singigi kemudian memberikan bantuan sapi yang sekarang sudah berkembang.

 

Berkat

Berkat keaktifan anggotanya, hanya dalam tempo satu tahun, BKL Desa Giri Sako mendapat prediakat baik ketua tingkat provinsi pada 2014. Posisi itu pertahan pada 2015.  Pada 2016, gelar terbaik pertama Provinsi Riau akhirnya diraih. Bahkan pada tahun itu juga BKL desa mendapat penghagaan terbaik nasional.

Keberhasilan menangani warga lansia tidak membuat perempua kelarihan 21 Oktober itu puas. Dia kemudian melopori pembentukan Bina Karya Balita (BKB) pada 2014. Dalam wadah baru itu, Sasarannya adalah keluarga yang memiliki anak usia dibawah lima tahun (balita).

BKB ini juga berjalan baik, focus kegiatan adalah membina tumbuh kembang anak balita melalui pola asuh yang benar. Tidak ada yang lolos dari pemantauan. Hampir 200 keluarga aktif mengikuti kegiatan untuk anak balita yang terintegrasi dengan posyandu, pendidikan anak usia dini, dan taman kanak-kanak di desa. Pada tahun 2017, BKB Desa Giri Sako sudah yang menjadi lebih baik ketika di tingkat Provinsi Riau.

Apakah sudah cukup? Ternyata belum. Tahun ini Senita membentuk Bina Keluarga Remaja. Sasarannya adalah menangani berbagai persoalan remaja.

“Kami baru membentuk struktur dan kader yang semuanya anak remaja. Saya ingin focus pada masalah rokok dan pernikahan dini” ujarnya.

Permasalahan pernikahan dini ternyata dikuatkan oleh penelitian Senita pada 2016 saat menyelesaikan gelar sarjana vokasi kebidanannya. Hasil penelitiannya menunjukan banyak orangtua didesa yang merupakan eks transmigran dari Jawa pada 1984 tidak terlalu keras mendorong anaknya untuk melanjutkan kuliah.

Penyebabnya sederhana, hasil kerja dikebun keluarga lebih bagus dibandingkan dengan kerja dipabrik atau menjadi pegawai biasa diperusahaan swasta. Setelah tidak sekolah, remaja desa yang memiliki penghasilan lebih senang menikah dini.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Riau Rozita yang menjadi juri penilaian Bidan Teladan mengatakan, Senita pantas mendapat predikat bidan terbaik. Aktivitas  ibu dua anak itu diluar tugas pokoknya sangat banyak dan berhasil.

“Kami melihat peran Senita mendukung program kesehatan desa itu sangat besar. Dia terlibat dalam berbagai program kesehatan warga dari usia balita sampai usia lansia. Bagusnya lagi semua organisasi yang dipeloporinya berjalan dengan baik. Anggotanya terlibat aktif itu yang menjadi dasar kami memilihnya” kata Rozita.

Diluar peran Senita, Giri Sako merupakan desa berproduktif 2500 jiwa yang terbilang makmur meski terbilang makmur mesti berada dilokasi terpencil. Hampir semua penduduknya merupakan petani yang memiliki lahan kelapa sawit minimal 2 hektar. Harganya memilki koperasi unit desa (KUD) dan rela menyisihkan dana untuk mendukung kesehatan.

“Setiap warga yang dirawat dirumah sakit akan mendapat dana kesehatan Rp.500.000 yang disediakan KUD. Desa kami memiliki ambulans yang siaga selama 24 jam dan gratis. Desa kami jauh dari kota, tapi kami memiliki website yaitu Girisako.desa.id. berbagai aktivitas kami dimuat disitus ini. Hebat kan desa kami? Kata Senita sangat bangga.

Apakah Senita tidak ingin pindah dari desa untuk meraih karirnya yang lebih tinggi? “Tidak” ujarnya. “Saya memilih untuk tetap tinggal didesa ini. Dari sini saya juga dapat berbagi dengan masyarakat lain” katanya.

Soal berbagi itu rupanya kini Senita sudah bersiap membentangkan sayap. Setalah menjadi alumnus Program Persahabatan Indonesia Jepang abad ke 21, Senita dijanjikan JICA akan diajak dalam program berbagi dengan warga Asia Tenggara lainnya.

 

 

 

 

Senita Riskiwahyuni

Lahir                            : Pangean, Kuantan Sangingi 21 Oktober 1985

Suami                          : Robert Yanson

Anak                            : Afra Nayla (9)

Darel Aditya (6)

Pendidikan                  : -SDN 02 Bangkinang, Kampar lulus tahun 1997

-SMPN 1 Bangkinang 2000

-SMAN 1 Bangkinang 2003

-D3 Ilmu Kebidanan Universitas Prima Indonesia, Medan 2006

-D4 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tuanku Tambusai 2016

 

 

 

Sumber                        : Kompas, 7 November 2017