28 Januari 2016. Aksa Mahmud tentang Peran Korporasi Swasta_Sepahit Apapun Tahun, Jangan Ragu Berekspansi. Jawa Pos. 28 Januari 2016.Hal.1,11

“ombak terbesar menggulung kita pada 1997 – 1998. Kenapa mesti gentar lagi pada gelombang ?”

 

Aksa Mahmud memperbaiki letak kacamata. Urat wajahnya lebih kentara lantaran senyum. Sambil menatap dnding kaca di hadapannya, dia melontarkan kalimat yang penuh gelora itu.

PENDIRI dan chairman kelompok usaha Bosowa Corporation tersebut mengenang peristiwa yang telah berlalu hampir dua dekade. Krisis ekonomi yang menerpa Indonesia saat itu disebutnya sebagai latihan yang menguatkan.

Itu pula yang membuat Aksa sama sekali tak mengeluhkan 2015, tahun yang diwarnai pelambatan ekonomi.

REPUBLIK INI SUDAH KENYANG PENGALAMAN

Mata uang melemah. Haga komoditas anjlok. Pembangunan tak agresif. Dampaknya, bisnis semen yan juga salah satu lini bisnis Bosowa ikut terpengaruh.

“Toh kuartal keempat tahun lalu, situasi perlahan membaik,” ujarnya saat bincang dengan harian Fajar (Jawa Pos Group) di Novotel Makassar Grand Shayla Jumat lalu (15/1).

Di hotel milinya itu, Aksa sekali melayani tamu yang dating silih berganti menyodorkan berkas-berkas. “Mereka investor yang ingin bekerjasama dengan Bosowa. Awal tahun yang baik bukan ?” tuturnya.

Ya, Aksa baru saja memberikan contoh yang konkret.

Di tengah optimisme yang meluap, adik ipar Wapres Jusuf Kalla itu tetap meminta semuanya mencermati kondisi global. Riuh trompet dan kembang api malam pergantian tahun tidak berarti 2016 bisa penh pesta. Sebab, faktanya, ekonomi Tiongkok masih melemah. Padahal, negara itu mitra dagang utama Indonesia.

Tetapi, kata Aksa, liku-liku bisnis memang seperti itu. Lagi-lagi republik ini sudah kenyang pengalaman dengan banyak contoh situasi kurang menyenangkan.

Tenang saja.

Pria kelahiran Barr, Sulsel, 16 Juli 1945, ituuga cukup antusias karena perekonomian Asia sudah makin menggigit. Apalagi, khusus Asia Tenggara, era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dia nilai akan sangat membantu bila para kontestannya bermain fair. Tidak saling sikut.

Satu hal yang ditakutkan Aksa adalah tidak akurnya tiga macan Asia. Korea Selatan (Korsel), Jepang, dan Tiongkok bersaing sangat ketat dan tak jarang berupaya saling menjatuhkan. Aksa mencontohkan penerjaan pembangkit listrik 35 ribu megawatt di Indonesia. Bila sudah ada Korsel di dalam sebuah proyek, Jepang ogah merapat. Tiongkok menjauh. Begitu juga sebaliknya.

Namun, dibalik itu, ayahanda Ewin Aksa, mantan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), ituingin bangsa ini meniru semangat tiga negara tersebut.

Aksa memberikan perbandingan. Korsel dan Indonesia sama-sama pernah dijajah Jepang. Begitu Jepang menyerah setelah bom atommenghancurkan Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Korsel langsung menyatakan merdeka 15 Agustus 1945. Indonesia menyusul dua hari kemudian.

“Sejak saat itu, Korsel bertekad mengalahkan Jepang. Sedangkan Indonesia malah selalu minta bantuan Jepang,” kata Aksa, lalu tertawa kecil, kemudian menyeruput tehnya dari cangkir putih mini.

“Korsel sudah diatas Jepang untuk beberapa sektor,” kata Aksa sambil melirik ponselnya, gadget produksi pabrikan Korsel berbasis Android. Walau dalam beberapa bidang lagi, tambah dia, Negeri Matahari Terbit tetap amat superior.

“Aksa juga senang pada semangat Tiongkok. Dia ingat betul, lebi dari 30 tahun lalu, saat dating ke Shanghai untu melihat kereta api tua dan tak layak pakai. Bangunan minim, di mana-mana pemandangan tak elok. Toilet bandara rusak. Bau. Aksa yang sudah jadi pengusaha saat itu malah digoda untuk mau membangun tol serta perumahan di dalam kota. Namun, dia tak tertarik.

Sekarang, ujar dia, Shanghai luar biasa maju dan cantik. Banyak hal yang mereka lakukan, tak dilaksanakan di Jakarta, Makassar, atau kota manapun di Indonesia.

Nah, sambil berhaap suhu eonomi global semakin sejuk, pembenahan dalam negeri juga amat penting. Bagi Aksa, ada kondisi yang tidak sinkron antara tiga lini ini : pemerintah, lembaga keuangan, pengusaha. Padahal, ketiganya harus saling menopang.

Dia beranalogi, pengusaha sebagai tubuh, pemerintah menjadi jantung, lembaga keuangan adalah darah. Bila lembaga keuangan tak melancarkan kredit, misalnya, jantung akan terganggu. Apalagi tubuh.

“pengusaha seharusnya dipermudah. Didukung. Pertumbuhan ekonomi kuncinya di pengusaha,” tegas Aksa.

“Dia uga menilai, ribut-ribut dalam pemerintahan masih lumayan mengganggu. Beberapa menteri jalan sendiri-sendiri. Undang-undang satu dengan undang-undang lain saling bantah. Satu lagi, penegakan supremasi hokum. Aksa mengatakan, Tiongkok pada awal kebangkitannya menjadikan hokum diatas segala-galanya. Pejabat korupsi dihukum mati. Itu efektif bikin kapok.

“kalau mau maju, pasal-pasal hukum tak boleh dibijaksanai,” imbuh pria yang merintis Bosowa dengan nama awal CV Moneter pada 1973 itu.

Bagaimana kedepan ? lagi-lagi Aksa tak pesimistis. Dia mengaku sangat yakin kemajuan signifikan ada di depan mata. “saya sendiri tidak pernah ragu. Tetapi, tentu tak boleh memikirkan diri sendiri. Kepentingan semua pelaku usaha di Nusantara harus terakomodasi dengan adil,” ucapnya. (Imam Dzulkifli/JPG/c10/sof)

 

(Sumber : Jawa Pos 28 Januari 2016)