Menyusuri Bebatuan Zaman Klasik di Situs Sewu Umpak, Jember

Serpihan Sejarah di Lereng Pegunungan Hyang Argopuro

28 Desember 2024. Hal.15

Sesuai namanya, di kawasan situs Sewu Umpak terdapat ribuan bebatuan bernilai sejarah tinggi, yang menggambarkan kehidupan masyarakat di era sebelum Masehi.
Di sana, selain berwisata, pengunjung bisa belajar sejarah.

ADA banyak bebatuan yang tersebar di situs yang terletak di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, tersebut. Beberapa di antaranya berada di atas permukaan tanah, sementara masih banyak yang setengah terkubur atau benar-benar terpendam. Sebagian memiliki nilai sejarah yang signifikan.

Situs ini berada di lahan milik PDP Kahyangan. Masyarakat dapat mengunjunginya dengan melintasi pabrik karet, lalu melalui jalanan berbatu. Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi pemandangan benda-benda dari batu yang diperkirakan digunakan oleh masyarakat peradaban masa lampau.

Di bawah pepohonan karet, terdapat batu lumpang dengan cekungan bulat yang diperkirakan digunakan untuk menumbuk. Selain itu, ditemukan pula talut-talut dan struktur bangunan yang terpendam di bawah tanah.

Para pengunjung, kalangan muda, menjadikan kawasan ini sebagai wahana untuk menyaksikan serpihan sejarah asal-usul Jember. Pepohonan hijau di sekitar situs menciptakan suasana sejuk yang menambah daya tarik kawasan tersebut. Perpaduan itu pula yang membuat kawasan ini juga jadi destinasi wisata. Sejumlah kegiatan bertema traveling digelar di sana. Di antaranya jelajah purba. Para wisatawan diajak untuk mengeksplorasi beragam situs sejarah, sekaligus menikmati panorama alam sekaligus sejumlah wahana. Seperti wisata Boma, atau Lembah Binkes.

Kawasan ini ditemukan oleh seorang pegiat budaya dan sejarah Jember, Imam Jazuli, pada September lalu. Berdasarkan petunjuk seorang pencari rumput di daerah setempat, ia menemukan sebaran batuan interlock seperti pengunci struktur candi. Situs ini kini dinama- kan Situs Sewu Umpak.

Sebuah umpak dengan motif ukiran telah diselamatkan. Dugaan Imam didukung oleh berbagai referensi dari kitab- kitab kuno seperti Kedewaguruan, Raja Pati Gundala, dan Tatu Panggelaran, hingga prasasti Humanding, Jaringan, dan Batur. Nama Gunung Hyang Argopuro disebut dalam dokumen-dokumen tersebut. Menurut Imam, kawasan ini kemungkinan besar adalah Mandala Kedewaguruan, sebuah tempat untuk kegiatan pendidikan. “Cirinya persis, di gunung, sepi, dan jauh dari keramaian,” terang Staf Kebudayaan Juru Pelihara Cagar Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember itu.

Di kawasan Situs Sewu Umpak, terdapat pula prasasti batu sodong dengan ukiran timbul menggunakan aksara Kawi kuadrat. Prasasti ini menjadi bukti kuat bahwa situs tersebut merupakan peninggalan zaman klasik. Peradaban pada masa itu sudah menunjukkan tingkat kemajuan yang signifikan. “Sebaran batuannya banyak, mungkin lebih dari seribu jika ditelusuri hingga ke timur ke arah Kalijompo, Sukorambi,” tambah Imam.

Dulunya, kawasan ini diperkirakan sebagai tempat berlangsungnya sistem pendidikan, mulai dari Kedewaguruan hingga resi-resi sebagai guru.

Masa tersebut bersamaan dengan berdirinya kerajaan- kerajaan Hindu-Buddha, sehingga sistem kasta berlaku. Masyarakat mendapatkan tempat dan pendidikan sesuai dengan status sosialnya. (sil/nur/ris)

Kebudayaan Megalitikum Ada di Sini

BANYAK yang menyebut bahwa situs Sewu Umpak muncul akibat efek banjir bandang pada 2006. Banyak batuan dari sungai akhirnya terangkat ke daratan, termasuk batuan besar yang diduga adalah dolmen dari era Megalitikum.

Dugaan ini terlihat dari cirinya yang mirip dengan dolmen, yaitu adanya batuan penyangga di bawah dengan lorong atau ruang kosong sempit. Konon, ruang kecil di bawah batu itulah yang digunakan untuk menaruh sesajen atau persembahan.

Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada, Y. Setiyo Hadi, memaparkan bahwa Pegunungan Hyang Argopuro merupakan Mandala (lingkaran). “Konsep Mandala dalam sejarah memiliki be- berapa makna, yakni sebagai objek ritual, ruang pendidikan, ruang sosial, dan model politik, yang berpusat pada puncak gunung yang dianggap sebagai wilayah suci,” terangnya.

Menurutnya, ada berbagai macam peninggalan zaman prasejarah, Megalitikum, hingga klasik yang terpendam di Pegunungan Hyang Argopuro. Pegunungan ini merupakan wilayah suci bagi berbagai keyakinan sebagai cermin alam semesta.

Salah satu peninggalan kebudayaan Megalitikum tua adalah dolmen yang disusun dari batuan besar.

“Wilayah Jember, terutama dalam lingkaran (mandala) Pegunungan Hyang Argopuro, ditemukan ribuan tinggalan arkeologis Tradisi Megalitikum,” kata pria yang akrab disapa Yopi itu.

Dijelaskan lebih lanjut, bagian yang menonjol dari masyarakat pendukung Tradisi Megalitikum adalah kehidupan religinya yang menggunakan hasil budaya dari batu besar itu. Megalitikum dijadikan sebagai pemujaan arwah yang bersifat suci (sakral) untuk mendekatkan diri kepada
Sang Hyang. (sil/nur)