Lahan seluas 2 hektare itu marginal tanahnya berwarna kemerahan, dan tandus. Semula petani memanfaatkan lahan itu sebagai sawah tadah hujan. Panen padi pun sekali per tahun dengan hasil rata-rata 5-6 per hektare. Namun, sejak 2017 lahan yang semula tandus itu berubah menjadi sawah, kolam lele, dan kandang ayam. Produksi padi pun meningkat 2 kali lipat menjadi 11 ton per hektare per sekali panen.

Kelebihan lainnya petani bisa panen hingga 4 kali pertahun. Uniknya budidaya antara ternak dan tanaman saling terintregrasi. Sisa metabolisme ayam dan lele mengalir ke mina padi dansawah. Sekilas mirip seperti akuaponik bersekala besar. Petani di Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Ir. Heri Sunarto yang menerapkan konsep pertanian terpadu itu.

Air Ikan

Heri menamakan sistem budidayanya itu dengan sebutan Tani Ternak Terpadi Tanpa Limbah dan Bau (T4LB). Bagaimana mengubah lahan tandus menjadi terintregrasi? Salah satu yang tidak bisa dipungkiri dan amat penting adalah ketersediaan air. Heri membuat sumur bor kedalaman 100 meter untuk memperoleh air. Langkah selanjutnya membuat kolam ikan sebagai tempat penampungan air.

Air dari kolam yang mengandung sisametabolisme ikan itulah yang digunakan untuk menggembungkan tanah yang semula tandus dan mengubahnya menjadi sawah. Proses itu sekitar 3 bulan untuk pembuatan kolam autoflow dan persiapan penanaman padi. Sayangnya, pada penanaman padi perdana pertumbuhannnya kurang optimal. Penyebab pertumbuhan padi kurang optimal karena nitrogen terlalu tinggi.

Saat itu Heri langsung mengairkan air dari kolam ikan menuju sawan secara langsung. Kolam sistem autoflow mengalirkan air dengan gravitasi tanpa pompa. Harap maklum nitrogen dari air sisa metabolisme ikan amat dominan. Salah satu suasat agar nitrogen ideal untuk padi dengan membuat mina padi selebar 3 meter di sekitar sawah. Mina padi selebar 3 meter itu berfungsi sebagai penyaring biologis sebelum air kolam masuk ke sawah. Di atas mina padi ada pula sistem akuaponik sumbu untuk budidaya sayuran.

Teknologi itu terdiri atas wadah plastik bersumbu kain flanel, bermedia tanah dan sekam. Komoditas yang ditanam antara lain bawang merah dan kangkung. Sistem itu bertujuan menyaring nitrogen yang terlalu tinggi. Kadar nitrogen air hasil penyaringan mina padi amat pas untuk memenuhi kebutuhan padi. Sisa metabolisme ternak dengan sistm pertanian terintegrasi bisa mendukung ketersediaan unsur hara makro nitrogen, fosfor, dan kalium untuk tanaman.

Contohnya air kolam lele amat dominan fosfor. Adapun limbah daun dan sisa pembakaran dominan kalium. Namun, pemupukan belum sepenuhnya organik. Sebab, padi masih menghendaki pupuk tambahan agar hasil panen optimal. Pemupukan tambahan dominan kompos kotoran sapi minimal 2 ton per hektare. Adapun pupuk kimia hanya 10%-30% dari dosis normal.

Pemupukan padi kovensional per hektare per musim rata-rata 300 kg Urea, 100 kg SP-36,dan 100 kg KCI. Artinya penggunaan dan biaya pupuk kimia biasa terpangkas 70-90% dengan sisem pertanian terintegrasi. Heri menghemat biaya produksi amat signifikan. Sekedar contoh harga Urea subsidi mencapai Rp2.250 per kg atau total Rp675.000. Ia menghemat minimal 70% setara dengan Rp472.000.

Untung

Heri berhasil panen padi dengan sistem pertanian terintegrasi hingga 10 siklus sejak 2017. Alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung itu menadapat Rp200 juta-Rp300 juta per hektare per tahun hasil budidaya pertanian terintegrasi. Teknik budaya padi sudah menerapkan IP 4 artinya menanam hingga 4 kali setahun. Siasat Heri menggunakan 2 varietas padi berumur 70 hari dan 90 hari demi meerapkan IP 4.

Siasat lain mengoptimalkan omzet ala Heri dengan menjual hasil panen saat harga tinggi. Pengalaman Heri harga tinggi pada Januari, April, Juli, dan November. Pada bulan Januari harga dan produksi padi bagus. Pada April harga masih lumayan bagus meskipun produksi tidak optimal,demikian juga pada bulan Juli dan November. Pada bulan Oktober saat akhir musim kemarau waktu tanam optimal sehingga produksi akan sangat bagus.

Siasat mengatur jadwal penanaman itu terbukti menghasilkan omzet optimal. Pada tahun kedua seluruh biaya produksi antara lain pembuatan kolam, pompa, dan sumur sudah balik modal. Model pertanian ala Heri sangat memungkinkan diterapkan diberbagai lahan tadah hujan diseluruh Indonesia. Namun, perlu biaya cukup tinggi diawal, terutama untuk pembuatan sumur.

Hal lain yang perlu diperhatikan edukasi rutin pada pelaku anyar agar bisa menerapkan sistem pertanian terintegrasi baik dan benar. Niscaya target balik modal pada kurum waktu 2 tahun seperti bisa terealisasikan. Heri membuktikan hal itu, bukan sekedar teori di atas krtas. (Ismail Ahmad, S.T.P., ketua Perhimpunan Penyluhan Pertanian Indonesia Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah)

 

Sumber: Trubus, Februari 2021