Si Lincah nan Tangguh. Kompas. 17 Februari 2016. Hal.16

Bahwa Taylor Swift (26) kerap mengejutkan, itu bukan hal yang mengetjutkan. Namun, kali ini Taylor mengejutkan sekaligus melawan. Ya, melawan orang-orang yang mencoba menumpang ketenarannya. Ini sebentuk kampanye feminis di panggung Grammy Awards.

Taylor membawa pulang tiga Grammy Awards 2016 untuk kategori Album Tahun Ini, Album Vokal Pop, dan Video Musik. Piala itu mengenapi tujuh piala Grammy yang di dapat sebelumnya, menjadi total sepuluh. Taylor juga menambahkan predikat baru sebagai penyanyi perempuan pertama yang memperoleh Grammy kategori Album Tahun Ini, yakini album fearless (produksi 2008) dan album 1989 (produksi 2014)

Album 1989 mencengangkan sejak awal dirilis. Album itu laku terjual hinga lebih dari 2 juta kopi, sepanjang tahun 2015. Taylor menyebut album 1989 sebagai penanda resmi dia berayun ke titik pop. Sebelumnya ia lebih di kenal sebagai penyanyi country. The las Angeles Times menyebut 1989 sebagai album yang menarik, di produksi dengan kemilau, dan berbau biografis. Angka 1989 itu merujuk pada tahun lahir Taylor Swift, seolah ia ingin mengatakan bahwa lewat album tersebuat dia terlahir kembali.

Taylor memang penyanyi dengan segudang prestasi. Ketika masih menekuni musik country, sejumlah penghargaan ia sabet, antara laim Top-Selling Digital Artist in History 2010 versi Nelsen SoundScan. Penyanyi termuda yang menerima Country Music Association (CMA), Enter-tainer of the Year, November 2009, dan Artist of the Year dari majalah Billboard tahun 2009.

Dari zona nyaman itu, dia lari ke zona pop yang masih remang-remang baginya waktu itu. Keputusan pindah haluan musik karena Taylo merasa lebih bisa berekspresi lewat pop. Ternyata sambutan publik luar biasa, yang mengubah remang-remang menjadi terang.

Beberapa lagu dari 1989, seperti “Shake It Of” dan “Blank Space”, merajai lagu-lagu di Amerika. Bahkan, lagu “Blank Space” menduduki puncak tangga di billboard hot 100 selama tujuh pekan.

Billboard Hot 100 adalah tangga lagu yang berisi 100 lagu terlaris di Amerika Serikat dan menjadi ukuran resmi populaaritas sebuah lagu. Itulah yang menyebabkan album ini laris terjual

Apasih menariknya lagu-lagu Taylor di album ini? Apa yang berangkat dari hati, mendapat tempat di hati. Begitulah Taylor, dia menghancurkan kegaduhan hatinya dalam lagu dan lirik-llirik naratif.

Ketika banyak pembenci yang menginginkan dia jatuh, Taylor menciptakan lagu “Shake It Of”. Lewat lagu itu, ia ingin mengatakan bahwa selalu ada orang-orang yang tidak ingin dia (kita) sukses. Ya, abaikan saja, mendingan membahagiakan hati daripada memedulikan pembenci.

Rumus serupa tercemin dalam lagu “Blank Space” yang menceritakan perempuan yang kerap berganti pasangan. Sebagian penggemar memilih itu adalah cermin dari Taylor yang memang berkali-kali berganti pacar, mulai John Mayer, Joe Jonas, Taylor Lautner, hingga Jake Gyleenhaal.

Lewat situs resminya, Taylorswift.com dia mengatakan bahwa itu bentuk kritik dia terhadap cara media menajikan karakter Taylor. Tetapi ia tidak mempersalahkan orang mengartikan makna lagu itu.

Taylor memang kerap menulis lagu bertolak dari pengalaman pribadi yang di bumbui sebuah sikap atau resolusi untuk menjalani hidup lebih baik. Di mata penggemarnya, cara Taylor itu seperti membantu mereka menemukan jalan keluar.

Kalau lagi patah hati, pas banget lagunya,” kata seorang remaja setelah menonton konser Taylor di Ancol, pertengahan 2014 lalu.

Itu tercermin atara lain, dalam lagu “We Are Never Ever Getting Back Together” dari album Red (2012). Taylor mengakui, lirik-lirik terinspirasi dari hubungan asmaranya yang kandas. Lagu ni menceritakan makna pentingnya move on setelah putus cinta.

Memegang prinsip

Yang juga mencengangkan adalah saat Taylor memberikan sambutan ke dalam Grammy Awards. “saya ingin mengatakan kepada perempuan muda di luar sana. Akan selalu ada orang-orang yang mencoba melemahkan kesukaanmu atau mengambil keuntungan dari ketenaranmu, “tutur Taylor dengan suara agak gemetar dan tertahan.

Dia melanjutkan bawa jalan terbaik adalah tetap fokus pada kerjaan dan mengabaikan orang-orang yang mencoba mengalihkan. “kelak, sesampai di titik yang di tuju, kamu akan mengetahui itu kamu dan orang-orang yang selalu memberi dukungan. Itu akan ter jadi perasaan yang luar biasa,” tegasnya.

Begitu pidato singkatnya Taylor Swift saat menerima piala Grammy Awards 2016 di Los Angels, senin malam waktu setempat atau selasa pagi waktu Indonesia. Ia tampil dengan pakaian serba merah muda.

Pidato Taylor yang terasa pedas itu di maknai banyak orang sebagai serangan balik terhadap Kanye West, rapper yang mengklaim turut berjasa atas kesuksesan dan ketenaran Taylor. Kanye mengungkapkan itu dalam lirik salah satu lagunya “Famous”: “I fell like and Taylor might still have sex/ I made that bitch famous”.

Serangan balik Taylor itu menegaskan bahwa dia bukan sosok yang mudah di tindas. Baginya, setiap kerja keras harus di hargai karena di situlah letak nila kemanusiaan.

Tentu pembaca masih ingat “perang” antara Taylor dengan perusahaan raksasa berlogo apel. Semua Apple tidak bersedia royaliti kepada produser, penulis, dan seniman selama masa percobaan layanan musuk streaming. Tentu itu tak adil karena karya seni tidak bisa di jadikan gratisannbegitu saja dalam bisnis yang melibatkan uang banyak. Taylor lantas menulis surat terbuka dan mengancam tidak akan memasukkan lagu-lagunya ke Apple.

Perusahaan rasaksa itu pun mengubah kebijakan dan menuruti kemauan Taylor yang memang di rasa publik lebih adil. Bukan hanya Taylor yang senang seniman lainpun demikian. Muda, kreatif, dan punya prinsip, itulah Taylor Swift.

Bakat taylor sudah muncul sejak belia. Umur 10 tahun dia menjuarai lemba menulis puisi tingkat nasional. Pernah menulis novel meski tidak di terbitkan bakat menulis itu kemudian di salurkan untuk menulis lagu pada usia 12 tahun. Dua tauhn kemudian ia di rekrut perusahaan rekaman untuk menulis lagu.

Taylor menyanyi lagu country antara lain karena pengaruh Shania Twain. Debutya adalah lagu “Tim McGraw,” yang ternyata masuk tangga lagu country Billboard. Dari sana namanya terus meroket hingga di nobatkan sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia pada 2009 dan 2015 versi Farbes.  Taylor tidak hanya tangguh,tetapi juga lincah, baik di penggung maupun dalam kehidupan nyata.

 

 

UC Lib-Collect

KOMPAS, Rabu 17 Februari 2106