Penulis : Cornelius Helmy
Jarum jam manunjukkan pukul 21.00 di salah satu ruang tamu rumah di kawasan Buah Batu, Kota Bandung, Jawa Barat. Bagi sebagian orang, mungkin sudah terlalu malam. Sudah waktunya untuk mengistirahatkan raga.
Akan tetapi, pita suara Denden Suandita (14) masih menggetarkan nada menyanyikan punuh asmaranda. Ia berusaha keras mengeluarkan kemampuan oleh vokalnya yang berat dan sedikit serak. Naas, usaha juara di beberapa festival atau pasanggiri tembang Sunda tingkat Jabar itu belum memuaskan Neneng Dinar Ratna Suminar (52), pemilik rumah sekaligus guru vokalnya lima tahun terakhir.
“Kurang enakeun. Kamu teh lalaki jadi kudu gagah lamun nyanyi (Kurang enak. Kamu laki-laki jadi harus gagah ketik menyanyikannya),” kata Neneng.
Koreksi itu membuat Denden berhenti bernyanyi. Sadar keliru, Denden menepukkan tangan ke kepalanya. Di hadapan Neneng, ternyata kemampuannya masih banyak kekurangan.
“Sok ayeuna mah tulis heula lirikna dina buku, Pasihan tanda mana nu kudu gagah jeung mana nu kudu halus (Sekarang tulis dulu liriknya. Beri tanda di mana harus bersuara keras dan mana yang harus halus),” kata Neneng.
Selesai menulis dan menghafal tanda yang dibuatnya sendiri, Denden kembali bersiap menyanyi. Kali ini, Neneng tidak diam. Ia ikut berdendang. Jari telunjuknya membantu memberi isyarat.
Denden terlihat lebih percaya diri. Saat telunjur Neneng mengacung, kekuatan suara Denden ikut naik. Saat telunjuk berputar, Denden mengeluarkan cengkoknya yang khas.
Tempo nada milik Denden pun lebih terjaga seiring entakan teratur kaki Neneng. Begitu seterusnya sampai lagu selesai. Kali ini, senyum Neneng mengembang. Tepuk tangan mengakhiri latihan Denden malam itu.
“Semoga Ceu Euis tersenyum di atas sana,” kata Neneng lirih.
Transistor
Kegembiraan malam itu dengan cepat mengembalikan kenangan Neneng pada sosok yang sangat dikaguminya, Euis Komariah (1949-2011). Selama lebih dari 20 tahun, Neneng belajar kepada maestro tembang Sunda itu.
“Meskipun dari kecil pernah menyanyi sepanggung dengan Ceu Euis, saya baru benar-benar belajar padanya saat berumur 35 tahun. Ajakan untuk belajar lebih serius ppun tidak sengaja saat saya menawarkan selendang sutera milik seorang teman,” kata Neneng.
Saat tawar-menawar dilakukan, Euis tiba-tiba menawarkan Neneng untuk menyanyi mengikuti Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran Damas di Bogor, Januari 1988. Neneng sempat keberatan karena merasa tidak siap.
“Dulu waktu kecil, saya dipanggil ‘si transistor’, Seperti radio transistor, saya selalu menyanyi di mana saja. Bahkan beberapa kali juara sewaktu mengenyam bangku sekolah. Namun, periode 1983-1987, saya absen menyanyi karena harus mengurus rumah tangga,” katanya.
Akan tetapi, rayuan Euis tidak bisa ditolaknya. Euis berjanji akan terus mendampinginya menggetarkan suara kembali meski waktu persiapan sebelum pasanggiri tinggal tersisa empat bulan.
Waktu yang terbatas membuatnya berusaha lebih keras. Dua kali seminggi, ia pergi dari rumahnya di kawasan Buah Batu menuju Kopo sejauk 25 kilometer menggunakan angkutan umum. Setiap pertemuan, ia harus menghafal 4-5 lagu baru berikut penghayatannya. Tidak heran, satu sesi latihan memakan waktu hingga 12 jam.
Dalam satu sesi latihan ia pernah kesal. Nyanyiannya dinilai selalu keliru.
“Anu mana atuh teknik nu bener teh teh (Mana teknik yang benar)?” tanya Neneng.
“Teangan we ku sorangan (Cari saja sendiri)!” jawab Euis.
”Ningal, sok calangap (Lihat, coba menganga),” kata Neneng lagi.
“Haaa,” jawab Euis sembari membuka mulutnya.
Tingkat polah Euis itu tidak ia sangka. Namun, dengan mudah mencairkan ketegangannya.
Hingga akhirnya, pasanggiri di Cipanas itu menemukan harinya. Namun, tidak seperti yang ia harapkan. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya mengikuti pasanggiri tembang Sunda, ia tidak masuk babak final. Lagi-lagi Euis membesarkan hatinya dan mengajarkan bagaimana cara menerima kegagalan. Tidak lama menyasali keterpurukannya, Neneng kembali berlatih keras.
Tiga tahun kemudian, ia menuai hasilnya. Neneng menyabet juara pertama pada Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran Damas di Garut 1990 dan di acara yang sama, tiga tahun kemudian di Bandung. Ia dilarang panitia mengikuti pargelaran pasanggiri selanjutnya. Panitia ingin memberikan persaingan kepada generasi lainnya.
Untuk Ceu Euis
Menjadi juara berturut-turut membuat nama Neneng melambung. Ia masuk dapur rekaman dan menghasilkan sedikitnya 30 album sejak 1990-2013. Albumnya yang terkenal, seperti Benrang Kuring, Tembang Bandungan, Celempung Bandung, hingga Enteung-Enteung jeung Bentang Implengan, akrab di telinga penyuka musik, tradisi Sunda.
Undangan menyanyi hingga Thailand, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, Amerika Serikat, hingga Qatar membuat musik Sunda semakin dikenal dunia lewat suara Neneng. Namun, ia tidak lupa “rumah”. Ia tetap pulang ke kelompok “Jugala” yang diasuh guru sekaligus sahabat terdekatnya, Euis Komariah.
Hingga kebersamaan mereka terpisah pada 11 Agustus 2011, Euis pergi menghadap Yang Kuasa. Sempat terpukul, tetepi Neneng ingat pesan terakhir Euis seminggu sebelum kepergiannya.
“Wayahna sing rido. Urang kudu daek ibadah, ngajar nembang ka batur (Yang ikhlas ya. Kita harus mau ibadah, mengajar menyanyi kepada semua orang),” kata Euis saat itu.
Pesan itu juga yang membuat Neneng bangkit. Kerinduan kepada Euis diwujudkan lewat Ranggon Cijagra, tempat belajar tembang Sunda yang didirikan bersama Heri Suhariyanto dan elis Rosliani, tiga bulan setelah kepergian Euis. Neneng juga mengajar di Pangauban Kawih Sunda melanjutkan jejas Euis.
“Semuanya gratis tanpa memungut biaya. Tidak semua yang belajar punya uang berlebih,” kata Neneng yang masih tercatat sebagai mahasiswi Strada 2 Ilmu Pemerintahan Universitas Langlangbuana, Kota Bandung, ini.
“Sekarang gratis saja yang belajar tembang Sudnda tidak banyak, apalagi kalau bayar,” kata Neneng, yang menjadi pegawai negeri sipil pada Dinas Pendidikan Kota Bandung.
Meskipun gratis, Neneng tidak sembarangan mengajarkan teknik bernyanyi. Semua yang ia dapatkan dari Wuis digelontorkan kepada murid-muridnya dua kali dalam seminggu, sejak sore hingga malam hari. Mulai dari menghayati lagu, mengolah suara, hingga teknik mengatur pernapasan. Setidaknya, sekitar 60 orang merasakan sentulan Neneng. Selain Denden, ia melahirkan nama-nama muda dan tenar lainnya di dunia tembang Sunda, seperti Rita Tila atau Rika Rafika.
Sumber : Kompas 12 Febuari 2015

