Siapakah Profesional?

Oleh Ekuslie Goestiandi, Pengamat Manajemen dan Kepemimpinan

Para kolega yang sehari-hari bekerja di lingkungan bisnis, khususnya di kota besar, pasti sering mendengar kata “profesional”. Bahkan, dengan mudah seseorang bisa mengidentlfikasi dirinya sebagai seorang “profesional”, tentunya dengan pemahaman menurut versi masing-masing.

Para pegawal yang beketja di perkantoran kota besar, apalagi yang sudah menduduki jenjang jabatan staf senior dan manaje-rial, akan lebih fasih menyebut dirinya sebagai seorang “profesional”; dalam bahasa Inggris acap juga disetarakan dengan white-collars worker.

Sementara para pegawal yang bergelut di pabrik ataupun lapangan di kota kecil, apalagi yang menangani jenis pekerjaan administratif dan klerikal, cenderung menamai dirinya sebagai seorang “pekerja” biasa alias blue-collars worker.

Begitu “cairnya” pengertian kata “profesional” selama ini juga tak ada yang merasa perlu “menyalahkan” ataupun “membenarkan” pengakuan sepihak tersebut. Di awal tahun ini, saya terkesima dengan pertanyaan dari seorang pekerja muda dalam suatu forum diskusi manajemen. Pertanyaannya sederhana. “Sebenarnya, siapa sih yang pantas disebut sebagai profesional. Apa kriterianya?”

Kamus bisnis businessdictionary.com mendefinisikan profesional sebagai seseorang yang secara formal sudah disertifikasi oleh institusi/dewan profesional (yang terafiliasi dengan profesi) tertentu, karena dinilai telah berhasil menyelesaikan rangkaian pendidikan ataupun praktik yang disyaratkan. Kompetensi yang diraih (lewat proses sertifikasi tersebut) juga biasanya dapat diuji dengan mengacu kepada seperangkat standar pengukuran yang telah ditetapkan.

Secara etimologis, kata professional berasal dari kata profes, yang berarti having professed one’s vow atawa “telah menyatakan kaul/sumpah”. Dengan demikian, saat seseorang menjadi ahli di bidangnya, ia akan mulai “menyatakan” (mengungkapkan) keahliannya tersebut kepada orang lain, sekaligus juga berkaul untuk menunjukkan kinerjanya ke tingkat yang paling tinggi.

Tantangan etis

Selain soal sertifikasi, kompetensi, dan kinerja, beberapa ahli juga membedah sosok profesional dari sisi etis. Howard Gardner, guru besar psikologi Harvard Graduate School of Education, menelaah wacana etika para pelaku bisnis dari sudut plkiran manusia. Gardner percaya bahwa satu-satunya cara pelaku bisnis untuk membangun relasi yang baik dan langgeng dengan konsumen, karyawan, dan publik adalah dengan meletakkan etika sebagai dasar operasi bisnis.

 

Standar etis adalah fondasi yang membangun kualitas seseorang jadi “profesional”.

 

Dengan demikian, mereka harus mengembangkan salah satu kemampuan pikirannya, yang oleh Gardner disebut ethical-mind (pikiran etis). Dalam wawancara lawasnya dengan jurnal Harvard Business Review (Maret, 2007), Gardner mengatakan bahwa seseorang yang memiliki ethical-mind akan bertanya kepada diri sendiri: “Ingin menjadi sosok karyawan atau warga negara seperti apakah saya nantinya? Jika semua karyawan di sekitar saya berpikir sama seperti saya, atau jika mereka melakukan apa yang saya lakukan, akan seperti apakah wajah dunia ini nantinya?”

Gardner secara khusus menyoroti standar etis para pelaku bisnis. Berbeda dengan dokter atau pengacara yang memiliki sejarah perkembangan mapan, pelaku bisnis cenderung bertumbuh secara terbuka. Profesi-profesi mapan tersebut memiliki sejumlah mekanisme kontrol dan sanksi tegas kepada pelaku pelanggaran, yang dijunjung secara kuat oleh segenap anggotanya.

Sementara, pelaku bisnis sedari awal cenderung terdidik untuk menjadikan keuntungan sebagal prioritas nama. Standar etis mudah tercampakkan, karena banyak hukum dan aturan yang bersifat optional; akan direstui apabila diikuti, namun tak akan diberi sanksi (tegas) bila tak dijalankan.

Keberhasilan membangun standar etis dalam berbisnis dan berkarya, terutama ada di dalam kesadaran diri sendiri. Kita harus memutuskan di sisi mana akan berdiri. Tak dapat dipungkiri, semakin hari semakin banyak tantangan etis yang dihadapi seorang pelaku bisnis, dari urusan sederhana seperti penipuan hingga perkara raksasa semisal mega korupsi.

Gardner berpesan, “Jika tidak siap mengundurkan diri ataupun dipecat demi sesuatu yang Anda yakini, Anda bukanlah seorang pekerja, apalagi profesional. Anda hanya seorang budak belian.”

Lebih dari sekadar urusan kedalaman keahlian dan keunggulan kinerja, standar etis adalah fondasi yang membangun kualitas seseorang menjadi “profesional” dalam pengertian yang sesungguhnya.

Sumber : Tabloid Kontan 19-25 Februari 2018 Hal 29

URL : https://www.ciputra.ac.id/library/siapakah-profesional/