Keraton di Surakarta (atau Solo) dan Yogyakarta dikenal memiliki akar budaya yang lekat. Keduanya berasal dari satu kerajaan, yaitu Kerajaan Mataram. Politik adu domba pada zaman kolonial Belanda telah membuat kerajaan ini terpecah sekitar abad ke-18. Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta kini menjadi salah satu tonggak budaya di kawasannya.
Popularitas Keraton Surakarta Hadiningrat (Keraton Kasunanan Surakarta) mungkin tidak semenanjak Keraton Yogyakarta. Namun, keraton yang Iebih sering disebut Keraton Surakarta atau Keraton Solo ini memiliki daya tarik tersendiri. Tampilan Keraton Solo mengusung unsur budaya Jawa Solo yang kental. Pada bagian depannya, terdapat hamparan tanah lapang dengan bagian pendhapa yang berhiaskan ukir-ukiran khas Jawa.
Keraton Surakarta terbagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya Alun-Alun Utara, Alun-Alun Selatan, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, dan Kompleks Kamagangan.
Pada salah satu sisinya, terdapat bangunan tinggi bak menara yang bercat biru—putih. Bangunan ini memang masih mengusung sentuhan arsitektur Belanda. Terlihat dari bentuk bangunan yang tidak menonjolkan unsur–ukiran, tetapi menggunakan jendela-jendela tinggi dengan desain minimalis. Bangunan ini disebut Sanggabuwana.
Sanggabuwana ini memiliki 5 lantai dengan total ketinggian 36 meter. Bagian atasnya serupa dengan tutup saji dengan puncak bangunan berwujud satu sosok yang menggunakan busur. Sanggabuwana dikenal sebagai bangunan keramat karena kerap digunakan sebagai lokasi semedi para raja Surakarta.
Tidak jauh dari keraton, terdapat museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan zaman keemasan Keraton Surakarta. Di antaranya kereta kuda dan kusir, keris dan tombak, serta benda-benda pusaka lainnya.
Satu lagi keraton yang kental akan unsur budaya Jawa dan sejarah di Solo adalah Keraton Puro Mangkunegaran. Layaknya keraton-keraton lainnya, pendhapa menjadi ciri khas Puro Mangkunegaran pada bagian depan. Menariknya, pada sisi-sisi pendhapa terdapat patung singa yang berwarna emas. Konon, patung ini didatangkan dari Jerman.
Pendhapa keraton ini menyiratkan keagungan. Suasana yang sejuk, aman, dan tentram terasa begitu menginjakkan pendhapa tanpa menggunakan alas kaki. Menariknya, pada bagian langit-langit pendhapa ini terdapat lukisan layaknya nyala api yang elok. Lukisan batik ini tersusun dari berbagai komposisi warna. Di antaranya, warna kuning, putih, merah muda, biru, ungu, hitam, dan merah.
Beberapa bagian yang terbilang menarik di antaranya Pringgitan yang menjadi lokasi pertunjukan wayang kulit, Dalem Ageng yang merupakan semacam museum, dan area tempat tinggal para penghuni keraton yang tertutup untuk umum.
Apabila masih penasaran, lebih baik luangkan waktu Anda saat liburan dan kunjungilah keraton-keraton di Surakarta. Jangan lupa, kenakanlah pakaian rapi dan sopan (kenakan celana atau rok yang menutupi lutut) saat berkunjung ke keraton-keraton di Solo.
Sumber : Kompas, 28 Agustus 2014, Hlmn 33

