Konsep sustainable fashion atau mode berkelanjutan digaungkan lebih luas sejak dekade 2010. Pengelolaan limbah industri fashion jadi perhatian, baik oleh kalangan industri fashion maupun dunia pendidikan. Prinsipnya, tak meninggalkan sisa bahan kain serta look yang tak lekang waktu agar bisa digunakan bertahun-tahun. “Kami beri challenge mahasiswa untuk berkolaborasi dengan lini fashion yang juga fokus dalam isu tersebut,” ucap Janet Teowarang, dosen Fashion Product Design & Business (FPD) Universitas Ciputra (UC). Karya-karya yang dihasilkan semuanya menggunakan sisa kain dari masing-masing brand. Ada sebelas kelompok dalam project kali ini. Berikut enam di antaranya. (dya/c13/nor)
KARAWO KHAS GORONTALO
Desain formal top dengan potongan crop diberi sentuhan lengan puff. Ada pula, tanpa lengan gaun. Yang bikin spesial adalah sentuhan karawo, kain khas Gorontalo. Warna peach yang manis cocok dengan selera anak muda saat ini. “Bagian karawo dibuat buatan tangan sehingga memberi kesan eksklusif,” ucap Carly Widjaja, salah satu anggota FPD UCX Rumah Karawo.
GABUNGKAN SHIBORI DAN BATIK
Mengusung konsep semikebaya sebagai ready-to-wear, koleksi Amara menggunakan kain limbah Soloputri. “Dengan teknik patchwork, kami menggabungkan shibori dan beberapa kain batik,” tutur Fanny Gunawan. Antara lain, batik kawung, mega mendung, dan truntum. Hasilnya, tampilan anggun dari outer, blus, midi skirt, hingga obi yang cantik.
TAMPAK EDGY WARNA WARNI
Desain jas dengan jubah yang edgy sengaja dibuat untuk menembus batas laki-laki dan perempuan. Paduan warna-warna cerah jadi penyemangat di tengah pandemi. Cocok untuk dipakai ke acara formal atau artsy event. “Kami juga membuat celana dengan kancing di sisi-sisinya. Memungkinkan perubahan ukuran tubuh pemakainya tetap terakomodasi,” ucap Tesalonika Louise. Beberapa koleksi lain juga menonjolkan warna cerah.
WARNA NETRAL DARI ALAM
De Coeur mengaplikasikan teknik patchwork dari sisa-sisa kain 1719 yang menggunakan pewarnaan alami. Cutting bawahan dibuat dengan fashion dan warna alam atasan dan simpel, mudah dipadukan item lainnya. Misalnya, dress mix kemeja atau cropped blouse dan rok. Motif yang netral bersifat timeless. “Look yang dihasilkan bisa kasual hingga formal, sesuai kebutuhan,” ucap Fransisca Felicia, mahasiswa FPD UC anggota tim tersebut.
AKSESORI MULTIFUNGSI
Siklus menyuguhkan aksesori yang multifungsi. Salah satunya, bucket hat ini bisa dibalik dan diubah menjadi tas jinjing dengan mengaitkan tali tambahan. Taraaa… Desain dan warna simpel membuat tampilannya timeless. “Kami ingin memberikan solusi untuk mengatasi limbah kain dengan mengubahnya jadi produk yang multifungsi,” ujar Daniella Sharren. Plus, stylist.
SIMPEL DAN LONGGAR
Desain simpel dan cutting loose bisa dipakai siapa saja sepanjang masa. Misalnya, simple dress putih ini. Jika ingin memberikan siluet tubuh, tambahkan ikat pinggang. Untuk acara formal, bisa ditambahkan selendang pada lengan. “Desain dikonsep multiway, bisa dipakai dengan style yang berbeda-beda,” ucap Jocelyn Chandra, tim FPD UC X Sukkha Citta. Hal itu memberi keleluasaan untuk menampilkan gaya personal dan berganti look tanpa membeli pakaian baru.
Sumber: Jawa Pos.4 Juli 2021. Hal.20.

