
Dalam dua puluh tahun terakhir ini, siti kusujiarti lebih banyak hidup di amerika serikat. Namun, sebagai diaspora Indonesia, dia sering wira wiri menengok kampung halamannya di Yogyakarta. Selain melepas kangen, ia menyempatkan diri memberikan motivasi kepada para dosen di sejumlah universitas negeri dan swasta.
Guru besar yang pandai menari jawa ini berpengalaman mengajar di sejumlah universitas, melakukan puluhan penelitian, menulis dan mengedit buku serta jurnal. Ia juga meraih seabrek penghargaan ilmiah dari sejumlah lembaga internasional. Tak mengherankan jika tahun lalu ia diundang kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi agar berpartisipasi dalam visiting world class professor di Jakarta untuk berdiskusi mengenai penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“saya mempresentasikan makalah tentang bagaimana memublikasikan karya ilmiah dijurnal internasional,” ujar siti kusujiarti yang biasa disapa atik. Setelah presentasi, Ketua departemen sosiologi dan antropologi di warren Wilson college, North Carolina, amerika serikat itu laris manis diundang sebagai pembicara tentang penulisan di jurnal internasional. Ia antara lain bicara di universitas jenderal soedirman, universitas hasanudin, Universitas sebelas maret dan universitas janabadra.
Pemerintah kebetulan menargetkan peningkatan jumlah karya ilmiah dosen dan peneliti Indonesia yang dipublikasikan di jurnal internasional. Tahun 2016, jumlah publikasi dosen dan peneliti Indonesia di jurnal internasional sekitar 10.000 publikasi. Terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah dosen, peneliti dan mahasiswa S-3 yang mencapai 150.000an pada 2015. Tahun ini, publikasi dijurnal internasional diharapkan menjadi 15.000 sampai 16.000 publikasi.
Dalam beberapa perjumpaan dengan dosen di Indonesia sebelumnya, atik memotivasi mereka agar lebih banyak melakukan penelitian terutama yang bersifat kolaboratif. “riset kolaborasi itu macam macam, bisa kolaborasi antarbidang ilmu, antar universitas, kolaborasi antara dosen dan mahasiswa, dan universitas dengan masyarakat. Bukan hanya dosen atau professor saja yang memiliki knowledge, kita menganggap partner itu juga sebagai sumber pengetahuan,” katanya.
Dalam praktik mengajar di Amerika serikat, atik tetap berprinsip kolaboratif, yaitu perkuliahan yang diintegrasikan dengan pengabdian (service learning course). Mengajar dengan melibatkan masyarakat sekitar. Atik pernah berkolaborasi dengan SMP yang berada dekat kampus, mahasiswanya membantu siswa SMP dalam program ekstrakurikuler. Melalui pelibatan tersebut, terjadi interaksi.
“mereka jadi kenal anak anak, tahu kondisi keluarga. Nanti dalam kelas kita bisa membahas permasalahan yang ditemukan dengan teori tentang keluarga. Misalnya, ada anak korban perceraian, mahasiswa jadi tahu secara langsung apa itu sosiologi keluarga,” ungkap atik
Kompleks
Persoalan yang menghambat dosen menulis di jurnal internasional sangat kompleks. Kendala bukan hanya soal kemampuan bahasa inggris. Budaya menulis dikalangan pendidikan tinggi juga belum mengakar. “keharusan menulis dilihat sebagai sesuatu yang membebani, padahal yang namanya menulis itu kan harus ada semangat dari dalam diri kita. Kalau taka da semangat, tulisan itu akan terasa kosong” ujarnya.
Memang ada perbedaan budaya. Di AS, sejak kecil anak diberi kebebasan untuk berekspresi tanpa banyak teguran. Beda pendapat dengan guru di sekolah merupakan hal biasa. Kalau salah dalam berpendapat juga tak ada hukuman. Dalam masyarakat Indonesia umumnya, orang tua terlalu mengontrol. Jiika anak punya pendapat sendiri atau salah sedikit akan ditegur. Ketika sekolah makin tinggi, budaya untuk ekspresif, mengungkapkan perspektif yang baru atau berbeda menjadi susah.
“Padahal dalam menulis di jurnal internasional, kita harus benar benar mengemukakan ide baru, beda dengan yang lain. Kita, kan selalu takut dan ragu untuk mengemukakan pendapat, kita kurang berani” ujarnya. Tulisan yang bagus dan focus juga memerlukan waktu khusus. Banyak dosen habis waktunya untuk mengajar di beberapa universitas, pulang sampai jauh malam. Akibatnya, tak ada tenaga tersisa untuk berkonsentrasi menulis karya bermutu. “tak mungkin menulis untuk jurnal internasional satu atau dua jam. Perlu menyediakan waktu 4-6 jam. Menulis satu dua alinea ditinggal, lalu balik lagi akan kehilangan momentum. Harus ada waktu untuk merenungkan ide ide kita,”ungkap atik.
Target pemerintah untuk meningkatkan jumlah publikasi internasional dibarengi dengan peraturan serta sanksi ekonoi bagi dosen. Satu hal yang seharusnya dilakukan berbarengan dengan aturan baru itu adalah perbaikan system atau infrastruktur. Menurut atik, di kampusnya semua orang berbahasa inggris, tetapi tetap ada lembaga yang disebut writing center yang membantu para dosen memperbaiki tulisan sebeblum dikirim ke redaksi jurnal internasional.
“kalau saya membutuhkan editing, saya bisa ke writing center. Sebenarnya, bukan hanya editing, segala macam yang berkaitan dengan writing, misalnya kita punya ide, tidak tahu harus bagaimana, kita bisa konsultasi dengan mereka. Saya selalu mengirim tulisan ke writing center sebelum mengirim ke jurnal karena saya kan bukan native speaker,” kata atik sambil tersenyum.
Banyak pertanyaan yang dilontarkan para dosen di Indonesia saat atik memberikan lokakarya penulisan ilmiah. Salah satu yang unik, sejumlah dosen meminta petunjuk bagaimana cara mencari jalan tikus agar tulisan segera dimuat di jurnal. “saya malahan enggak tahu jalan tikus itu seperti apa karena memang enggak pernah pakai. Tak ada jalan pintas. Ada satu tulisan saya di jurnal bahkan memakan waktu dua tahun, mulai dari pengiriman sampai pemuatan,” ujarnya.
Berdasarkan pengalaman atik sebagai editor jurnal internasional, memeriksa tulisan membutuhkan waktu lama. “untuk menjaga obyektivitas, nama penulis pada naskah sudah dihilangkan. Jadi saya benar benar hanya memeriksa substansi, tak terpengaruh nama penulisnya,” kata atik.
Sumber: Kompas, Sabtu 15 Juli 2017
