Perjuangan Butet Manurung untuk mengajarkan baca, tulis, dan menghitung pada anak-anak Rimba di pedalaman di angkat dalam film Sokola Rimba karya sutradara Riri Reza. Ada satu kalimat yang menarik dari Butet : “sikap yang tepat menghadapi perubahan adalah menjadikan pengetahuan sebagai senjata beradaptasi.”

Pesan kalimat Butet kuat dalam acara “Holiday for Solidarity 2022”. Itu acara untuk mendukung pertumbuhan pendidikan literasi di Asmat, Papua, yang dikemas dalam kegiatan lomba mewarnai tingkat kelas TK B dan kelas 1-2 SD.

Acara yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia bekerjasama dengan Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya, Kelly’s Co. Gramedia Basuki Rahmat Surabaya dan UD Purnomo Stationery itu dilaksanakan di Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya, Sabtu (9/7/2022).

Sekitar pukul 13.00 WIB peserta berusia usia 6-8 tahun bersama orang tua yang menemani sudah berkumpul di atrium. Mereka membawa perlengkapan sendiri untuk lomba, seperti meja/alas untuk mewarnai, krayon/pensil warna/spidol, dan tisu. Olivia Fransisca, Anggita, Gavriella, Daniel, dan Rebeka dari Wahan Visi memandu acara.

Rebeka Louhenapessy, Publik Engagement Executive Wahan Visi Indonesia mengatakan, acara itu untuk menumbuhkan solidaritas/kepedulian sehingga semakin menghargai dan mengasihi orang lain. “Selain itu, mereka juga belajar pengetahuan dan keterampilan baru dan dapat mengasah kemampuan melalui kegiatan ini,” kata Rebeka.

Panitia memberi waktu 40 menit untuk mewarnai gambar. Gambar yang diwarnai oleh 21 peserta itu menampilkan dua anak yang bergembria dan bersama membaca sebuah buku. Pada bagian atas ada tulisan Asmat Hope.

Gambar itu sejalan dengan semangat tujuan acara itu sebagai bentuk dukungan untuk pertumbuhan listerasi Asmat. Tahun ini Wahan Visi Indonesia mengajak lebih banyak anak dan merancang kegiatan untuk TK-SMA.

Di Asmat, Papua, akses untuk buku-buku pelajaran dan buku bacaan yang berkualitas sesuai dengan usia anak di sana terbatas. Kemampuan anak untuk memahami sebuah bacaan sangat renda, referensi bahan mengajar bagi para guru tergolong minim, serta masih banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya literasi bagi anak-anaknya.

Lokasi yang jauh dan akses transportasi yang belum merata menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan literasi di Asmat. Mereka yang terbiasa hidup di kota besar dan mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan mudah, mungkin sulit membayangkan kehidupan anak-anak di Asmat, bagaimana kesulitan mereka mendapatkan akses informasi dan literatur dalam pembelajaran mereka dan hidup keseharian.

Acara itu menjadi pemantik kesadaran pada banyak orang untuk melihat masih banyak hidup dalam keterbatasan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membantu dan menunjang pendidikan dan pengetahuan agar anaka-anak di Asmat.