Solis Hanny Felle, biasa disapa kak Hanny, beruki dikampung Yoboi, Distrik (kecamatan) Sentani Kota. Perjalanan dari Yoboi dari dermaga Yahim dengan menggunakan perahu motor yag melintasi danau Sentani sekitar 10 menit.

Saat ditemui kompas, Rabu (3/2/2020), pukul 12.00, Hanny sibuk mengajar anak-anak diteras rumahnya. Ia mengajar menghitung dan mengeja huruf. Cuaca di Senantai siang itu mendun.

Hanny menggunakan alat peraga agar anak-anak dapat lebih mudah memahami materi literasi. Ditempat 8 meter x 6 meter ia mendirikan Rumah Baca Yoboi sejak 2018.

Sebanyak 21 anak dari kelas I hingga III SD tampak tekun mengikuti materi yang disampaikan Hanny . biasanya kegiatan belajar di Rumah Baca Yoboi berlangsung dari Rabu dan Jumat selama 90 menit setiap pertemuan.

Mereka begitu menikmati kegiatan belajar literasi yang menggunakan modul khusus di tempat Hanny. Sudah 11 bulan lebih mereka tak merasakan kegiata belajar disekolah. Selama ii meraka hanya ke sekolah mengambil pekerjaan rumah pemberian guru.

Selain di Yoboi, Hanny juga membuka rumah baca di daerah Kehiran yang juga berada di Distrik Sentani. Pelaksanaan kegiatan literasi di Kehiran hanya sebulan sekal karena keterbatasan Hanny soal biaya transportasi.

Total ada 205 anak binaan Hanny di Rumah Baca Yoboi dan Kehiran. Khusus di Yoboi, plaksanaan kelas literasi secara bergiliran karena daya tampung rumah Hanny hanya 35 orang.

Anak-anak di Yoboi mengalamai kendala tidak bisa mengikuti kegiatan belajar secara daring karena pandemi Covid-19. Dari pendataan Pemerintah Provinsi Papua pada Mei 2020, 54 persendari 608.000 peajar di provinsi itu tak dapat menerapkan belajar dirumah secara daring. Kondisi ini akibat minimnya prasarana jaringan internet, televisi, radio, dan gawai.

“Saya sangat bersyuku anak-anak antusias mengikuti kegiatan. Mereka tidak memiliki telepon seluler atau biaya untuk membeli paket data internet sehingga terkendala mengikut kegiatan belajar secara daring. Mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan tradsional,” tutur Hanny.

Sebelum belajar,  anak-anak mencuci tangan dan mendaoat semprotan desinfektan. Fasilitas untuk mencuci berada di samping rumah Hanny. Tujuannya agar kegiatan belajar di Rumah Baca Yoboi sesuai dengan protokol kesehatan meski belum ada kasus Covid-19 di kampung itu.

Ia juga mebekali anak-anak denngan mengajarkan cara membuat kerajinan tangan seperti kalung dengan menggunakan buah sagu dan ukiran kayu motif khas Sentani. Misalnya, motif Yoniki berbentuk bulat dan melambangkan simbol kekeluargaan atau kebersamaan.

Ditempat itu juga tersedia sekitar 9.000 koleksi buku berbagai tema. Mayoritas buku khusus anak-anak agar menumbuhkan minat baca di kalangan mereka. Iamendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura,  Bank Indonesia, dan Sejumlah lembaga.

“Tempat ini tidak hanya untuk anak-anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Tempat ini juga menjadi perpustakaan yang dibuka setiap hari untuk menambah ilmu pengetahuan anak-anak Yoboi,” ungkap ibu dua anak ini.

Hanny tamatan sekolah menengah atas yayasan pendidikan Fransiskus Asisi di Sentani yang jatuh cinta pada dunia mengajat setelah melihat aktivitas ayahnya, Aser Felle.

Aser seorang petugas gereja di GKI Betel, kampung Yobeh. Setiap akhir pekan, ia mengajar anak-anak dalam kegiatan sekolah minggu. Hanny melihat sang ayah dengan sukarela mengjat anak-anak yang belum dapat membaca.

“Ayah selalu mengajar kami anak-anaknya untuk menjalani hidup dengan mandiri dn berbgi kepad sesama. Selama 30 tahun, ayah mengabdikan hidupnya sebagai petugas gereja dan telah berpulang pada 1994,” kata Hanny.

Setelah menikahia berpindah dari Yobeh ke kampung halaman sang suami, Albert Tokoro d Yoboi, 1994. Setahun kemudian, Hanny mengikuti jejak sang ayah menjadi guru sekolah minggu di Yoboi.

Kesempatan Hanny menjadi pengajat tiba pada 2011. Saat itu lembaga WahanaVisi Indonesia (WVI) yang fokus pada pemenuhan akses pendidikan di Papua menggandeng Hanny sebagai pengajar dalam kelompok Belajar Anak Yoboi.

Masyarakat setempat mengusulkan nama Hanny ke WVI. Kini mereka melihat peran aktif Hanny mengajar anak-anak secara sukarela dikampung itu.

Hanny memiliki misi besar dalam hidupnya dengan menjadi seorang pengajar. Ia ingin memberantas masalah buta aksara yang tinggi di tanah Papua. Berkat kelas literasi di Rumah Baca Yoboi, anak didik Hanny bisa membaca, menulis, dan menghitung sejak usia dini. Bahkan ada anak didik Hanny yang telah duduk dibangku kuliah.

“Hati saya sangat sedih melihat anak-anak yang juga kurang gizi dan mengalami banyak kendala dalam mengakses memiliki masa depan lebih baik dari orangtua. Caranya dengan mencerdaskan anak-anak melalui kegiatan literasi,” jar Hanny sambil meneteskan air mata..

 

Sumber: Kompas, 10 Februari 2021.