MENGINGAT tepi Jalan Srengganan merupakan tempat bisnis atau perniaagaan, sehingga mereka berbondong-bondong mencari nafkah ke kota. Dengan bekerja di tepi jalan dan membuat sebuah pemukiman di kawasan Srengganan dalam.

Pustakawan Sejarah Chrisy andi Tri Kartika mengatakan, sejak dulu dimungkinkan kawasan Srengganan padat penduduk. Karena pekerja yang bermukim di Srengganan merupakan pekerja harian pada perusahaan, toko maupun pabrik-pabrik kecil semacam home industry. “Dari pertumbuhan itulah banyak sekali urbanisasi ke Surabaya. Mereka mencari pekerjaan sebagai pelayan, pekerja harian dan sebagainya,” katanya kepada Radar Surabaya.

Terkait model bangunan yang ditempati warga dulu, menurutnya terdiri dari rumah berdinding kayu. “Kalau model bangunan untuk pemukiman kebanyak tembok dari kayu. Mungkin dulu seperti itu. Tapi sekarang sudah berubah,” jelasnya.

Kawasan tersebut juga memiliki pola pembangu nan yang memanjang. Model bangunan seperti itu merupa kan ciri khas model kawasan di Kota Surabaya. Model itulah yang digunakan untuk pemukiman.

“Dulu banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko toko. Mereka berlomba-lomba membeli tanah baik di tengah kota di pinggiran maupun dekat persimpangan jalan,” katanya.

Di bagian luar Sengganan difungsikan untuk perniagaan. Meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa untuk menguasai tanah di kawasan tersebut. “Jadi mereka terdesak dengan hidup di kampung-kampung. Tapi dikelilingi oleh bangunan untuk perniagaan,” pungkasnya. (bersambung/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 4 Agustus 2021. Hal. 3