“DI samping orang Eropa dan pribumi. Orang-orang asal Tiongkok juga golongan ketiga yang penting di Surabaya saat itu. Jika merujuk pada referensi buku perkembangan kota. Surabaya,” kata Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika.
Di antara tanah-tanah yang ada, termasuk yang masih tersisa, baik di pinggiran maupun di pinggir jalan, di situlah orang-orang pribumi dan Tiongkok mendirikan perumahan dan tempat. usaha. Sebelumnya, Chrisyandi menceritakan, awalnya orang Tiongkok ini mendiami suatu daerah yang berada di sebelah Timur Kalimas hingga di sekitar Jembatan Merah. Daerah itu merupakan Chinese camp jika dilihat dari peta Surabaya tahun 1866.
Pola pembangunan yang memanjang di kawasan tersebut merupakan ciri khas model kawasan di Kota Surabaya. Pertumbuhan ini menjadi masalah dalam kota. Sehingga penduduk asli Surabaya makin lama makin terdesak. Ya seperti di kawasan Srengganan. Di bagian luar difungsikan untuk perniagaan, sedangkan yang dalam untuk per kampungan. Sedangkan banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko-toko. Mereka berlom ba-lomba membeli tanah, baik di tengah kota, di pinggiran maupun dekat di persimpangan jalan, meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa. “Jadi mereka hidup di kampung-kampung,” pungkasnya. (*/nur/ bersambung)
Sumber: Radar Surabaya. 29 Juli 2021. Hal. 3

