Dari Kertas, Tembok, ke Rajah Tubuh
Tato sering dipandang negatif. Bagi Stanislaus Sunday, tato adalah cara mengekspresikan diri. Kini, mahasiswa Universitas Ciputra itu serius mengembangkan bisnis tato.
SANDYE, begitulah pemuda 20 tahun ini disapa. Nama itu pula yang dia bubuhkan untuk menyebut bisnisnya, Sandye Tattoo. Sesuai namanya, bisnis tersebut menawarkan bisnis tato. Ya, sudah dua tahun terakhir, Sandye menjadi penato keliling. Pemuda asal Maumere, Nusa Tenggara Timur, itu memang jago merajah tubuh.
Rupanya, kemampuan menato itu sudah lama dikembangkannya. Anak kedua diantara tiga bersaudara tersebut memang hobi menggambar sejak kelas II SD. “Sering ikut lomba, tapi tidak menang,” ujarnya.
Tak puas menggambar di kertas, Sandye beralih ke tembok. Saat kelas XI SMA, dia menekuni mural. Merasa prihatin dengan coret-coretan di tembok kampung, Sandye menyulapnya menjadi gambar-gambar menarik. Cat dan semua peralatan dibelinya sendiri.
Tak jarang, orang yang lewat melemparinya uang. Lumayan, duit yang terkumpul dia gunakan untuk membeli cat lagi.
Masih belum puas menggambar di tembok, Sandye kepincut menggambari tubuh orang. Tentu, melalui tato. Karena belum punya peralatan memadai, pemuda berambut gimbal tersebut merakit alat tato sendiri. Dia menggunakan dinamoo sebagai motor penggerak jarum. Alat itulah yang digunakkannya untuk mengasah kemampuan menatonya.
Karena masih baru, tidak mudah mencari media praktik. Apalagi, Sandye tidak tega menato diri sendiri. Karena itulah, tubuhnya justru bersih dari tato.
Rayu kiri-kanan, Sandye akhirnya meluluhkan hati sepupuny auntuk menjadi percobaan. “Agak merasa bersalah juga sekarang,” katanya, lalu tertawa. Karena itu, setiap pulang kampong ke Maumere, dia memperbaiki tato di tubuhnya sepupunya tersebut. “ yang dulu kan mungkin kurang bagus,” ucapnya.
Pada 2015 dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universitas Ciputra (UC). Berada di Surabaya , dia sempat melupakan tato. Saat kelas entrepreneurship, Sandye mendapatkan keyakinan untuk kembali menekuni tato sebagai bisnis.
Dia berdiskusi dengan para dosen dan orang tua. Maklum, Sandye mengakui, anggapan masyarakat terhadap tato masih negative. Dia sempet tak pede bisnis tato. Padahal , bagi dia, tato adalah sebuah seni dengan media yang berbeda. Yakini, di tubuh manusia.
Jika klien tidak tahan sakit, Syande menyudahi prosesmentato. Itu artinya, klien harus kembali dua minggu lagi. Salah satu klien Sandye bahkan hanya meminta tato sederhana. “Ada yang Cuma titik tiga biji,” ujarnya.
Dia bercita-cita memiliki studio tato mandiri. “sekarang kelilingpun lumayan, seminggu bisa melayani enam pelanggan katanya.
Sumber: Jawa Pos 23 Oktober 2017. Hal 27
