Vania Erlita Pratomo,
Verlita Baby Wear and Toys
BUKA KLINIK, TOKO, DAN PABRIK
Pada awal masa pertumbuhan, anak seharusnya mendapatkan mainan edukasi yang tepat agarr tumbuh kembangnya masksimal. Namun, mainan edukasi dengan harga yang terjangkau masih terhitung sedikit di Indonesia.
Kendala utama yang dirasakan Vania setelah berbisnis selama dua tahun adalah di Surabaya, sedangkan rumah produksinya berada di Malang, sedangkan rumah produksinya berada di malang.
Karena itu, Vania harus balik-balik Surabaya-Malang setiap Minggu. “Setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu full ngurusin bisnis dengan kondisi tugas kuliah sudah beres,” katanya.
Untuk pembukuan, Vania menyerahkan kepada orang kepercayaannya. Sementara itu, produksi masih di bawah kontrolnya. Dia sebenarnya ingin menerapkan video call dengan penjahit-penjahitnya. “Tetapi, ibu-ibu penjahit belum sadar teknologi,” terang Vania.
Diapun berencana mengembangkan bisnisnya terpusat di malang setelah lulus kuliah. Sejak duduk di semester IV, Viania mulai membangun toko dua lantai di Malang. Lantai bawah akan digunakan untuk toko perlengkapan peralatan bayi dan anak. Sementara itu, lantai atas akan disajikan klinik psikologi dan praktik dokter anak.
Vania berencana memperluas produksi dengan menjadikan bagian belakang bangunan sebagai pabrik mainan anak. Di ruang tunggu klinik, Vania berencana menampilkan video dan pamflet edukasi untuk orang tua yang mengantarkan anak mereka berkonsultasi. “Kebetulan di Malang belum ada dan orang tua juga butuh edukasi karena mereka terkadang sering salah persepsi,” tuturnya.
Melihat peluang itu, Vania Erlita Pratomo merintis Verlita Baby Wear and Toys. Mainan tersebut kali pertama diproduksi pada Februari 2015 saat Vania masih menjadi mahasiswa semester II di jurusan Psikologi Universitas Ciputra. Waktu itu Vania mendapatkan tugas di mata kuliahperkembangan anak untuk membuat produk yang tak hanya memiliki nilai jual, tapi juga mendukung perkembangan anak.
Contohnya, anak berusia kurang dari 3 bulan membutuhkan stimulasi motorik kasar dan halus untuk memacu perkembangan fungsi panca indra. Nah, soft toys dengan harga terjangkau yang sesuai dengan tahap itu belum banyak. Sebab, mainan edukasi di Indonesia mayoritas terbuat dari kayu. Padahal, bagi anak di bawah 3 tahun, mainan kayu relatif tidak aman.
Selain itu, tak jarang anak mencium mainannya. Padahal cat dimainan tersebut tidak aman untuk anak-anak.
Awalnya, Vania hanya membuat dua produk hingga berkembang menjadi lebih dari sepuluh macam produk. Produk yang pertama kali dibuat Vania adalah mainan ayam dengan empat telur. Jika dibuka, di dalam telur terdapat anak ayam. Mainan tersebut tepat untuk anak 2-4 tahun. “Itu untuk menstimulasi motorik halus dan pola berpikir anak,” terangnya.
Mainan tersebut juga mendorong orang tua berinteraksi dengan anak. Sebab, orang tua dituntut menjelaskan bahwa ayam berkembang biak dengan cara bertelur. “Anak juga dilatih untuk membuka resleting. Yang distimulasi apa? Motorik halusnya dan koordinasi gerak antara mata dan tangannya,” papar lulusan SMAK Cor Jesu itu.
Warna yang digunakan pun harus cerah. Sebab, pada usia tersebut, anak didorong untuk ceria dan bersemangat. Untuk anak 4 tahun, ada tahapan yang lebih susah. Yakni, mainan edukasi berbentuk semangka. “Untuk bermain, anak harus membuka kancing semangka satu per satu. Itu melatih kesabaran. Di dalamnya, ada pola yang harus diselesaikan untuk melatih fokus anak,” terangnya.
Terbaru, Vania membuat mainan boneka lima jari bernama Popo Boneka Jari untuk tahapan anak 5-6 tahun. Boneka tersebut berbentuk sarung tangan dengan lima tokoh binatang yang berbeda di tiap jari tangan. Sarung tangan itu berperan sebagai panggung.
Popo menekankan tentang kepercayaan diri, empati, dan sikap anak kepada temannya. “Anak kecil tidak suka jika dibandingkan dengan temannya. Jika kita ingin mendidik anak, bisa dibandingkan dengan makluk lain seperti burung, katak, atau matahari. Misalnya, si burung saja begitu. Jadi, dia akan berpikir bahwa burung saja bisa, kenapa dia tidak bisa?” ujar Vania.
Dari segi produksi, Vania bekerja sama dengan tujuh penjahit dengan sistem borongan. Vania yang sama sekali tidak bisa menjahit pun dulu belajar membuat pola dari teman orang tuanya. Kemuadian, pola tersebut dibawa ke penjahit di sekitar rumahnya.
Bisnis baju bayi dirintis Vania karena pembeli dan mitra bisnisnya sering bertanya apakah dia juga menjual baju bayi. Saat ini Vania memproduksi pakaian bayi sekitar 50 lusi per bulan.
Selain via online, Cerlita Baby Wear and Toys dipasarkan secara business to business (B2B) ke toko perlengkapan bayi, baik di Malang maupun di Surabaya. Untuk pakaian bayi, pihaknya bekerja sama dengan dua toko di Surabaya, satu di Jakarta, dan dua di Malang.
Sementara itu, untuk mainan anak, Vania hanya bekerja sama dengan toko di Malang. “Di Surabaya di tolak karena terkendala SNI. Mau ngurus SNI masih mahal. Itu salah satu kedala bagi kami pengusaha pemula,” urai Vania. Untuk paten merek, Vania mengurus lewat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
Sumber: Jawa Pos, 3 April 2017, Hal.6

