SURABAYA – Penyakit gondok atau memebsarnya kelenjar tiroid pernah merebak pada era 70-90an. Ternyata, sekarang kelainan kelenjar tiroid masih tinggi. Buktinya, di Divisi Bedah Kepala-Leher RSUD dr Soetomo, jumlah pasien yang mengalami kelainan kelenjar tiroid paling banyak.
Tahun lalu saja, ada 223 pasien kelainan tiroid yang datang ke poli bedah kepala-leher. Yang memprihatinkan, kelainan kelenjar tiroid kini tidak sebatas kekurangan atau kelebihan yodium. Namun, banya kelainan kelenjar tiroid yang terdeteksi karena kanker. Bayangkan, di antara jumlah pasien yang datang ke poli bedah kepala-leher tersebut, 133 orang terkena kanker.
Menurut dokter spesialis bedah kepala-leher RSUD dr Soetomo dr Urip Murtedjo SpB-KL, kelainan tiroid dibagi menjadi dua, yakni hipertiroid dan hipotiroid. Hipotiroid disebabkan kekurangan yodium, sedangkan hipertiroid sebaliknya. Namun, reaksi yang terjadi sama, yakni leher membesar. Di luar dua jenis kelainan tersebut, ada kelenjar tiroid yang membesar karena kanker.
Kelenjar tiroid berada di leher bagian depan. Kelenjar tersebut berfungsi untuk mengeluarkan hormon serta mengatur metabolisme, suhu tubuh, dan denyut jantung. Kelainan kelenjar tiroid sering kali dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan.
Mereka yang mengalami hipertiroid mempunyai ciri khusus lain. Biasanya penderita mudah emosional, mata melotot, dan ada masalah di jantungnya. Selain itu, pipinya ikut membesar.
Sementara itu, hipotiroid berbahaya bagi mereka yang sedang hamil. “Anak yang dikandung bisa kretinisme atau kerdil,” tuturnya. Hal tersebut terkait dengan yodium sebagai zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Menurut Urip, perempuan paling sering tererang penyakit tersebut. Usia rawan terserang kelenjar tiroid adalah 40-50 tahun. Dalam beberapa kasus, kelainan tiroid juga terjadi pada anak-anak. Dokter Urip bahkan pernah melakukan operasi pada anak berusia tujuh tahun.
Kepedulian masyarakat pada kelainan tiroid, menurut kepala instalasi gawat darurat (IGD) itu, masih rendah. Sebab, masih ada yang datang terlambat sehingga lehernya sudah membesar. “Ada yang menunda-nunda karena takut sama dokter,” katanya.
Padahal, benjolan tersebut bisa menjadi ganas. Apalagi jika benjolan di leher itu cepat membesar dan keras. Ciri seperti itu bisa jadi menandakan kelenjar tersebut terkena kanker.
Kelainan tiroid juga berbahaya jika ada saraf yang lengket yang mengakibatkan suara parau.
Kelainan tiroid bisa terjadi sejak lahir. Hipotiroid konginetal, misalnya. Dokter Mira Irmawati SpA (K) mengatakan bahwa skrining secara dini lebih baik. Pada bayi usia 46-72 jam, sudah bisa dilakukan skrining. “Caranya, cuku ambil darah dari tumitnya. Sedikit saja darahyang diambil,” ujar Irma saat ditemui pada seminar Pekan Tiroid International di RS Darmo Surabaya kemarin (29/5).
UC Lib-Collect
Jawa Pos.30 Mei 2016

