Sukses Jadi Desainer Berkat Ikuti Kata Hati. Jawa Pos.28 Agustus 2014.Hal.34

Bakat menjadi desainer sudah terlihat ketika Alphiana Candrajani duduk di bangku SMP. Sempat kuliah di jurusan pertanian, dia akhirnya banting setir memilih kuliah fashion design. Pilihannya tidak salah. Alphiana kini menjadi salah seorang desainer kenamaan kota ini.

Ditemui di butiknya Jalan Pucang Anom Timur, berjajar beberapa dress hasil desainnya. Semuanya adalah busana muslim, bidang yang kini digelutinya. Gaun hasil rancangannya sering kali riwa-riwi di ajang peragaan busana yang diadakan Asosiasi Perancangan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Surabaya. Maklum, Alphiana merupakan salah seorang anggota asosiasi tersebut.

Apa yang dimilikinya saat ini, bagi Alphiana seperti dream comes true. Keinginan dan cita-citanya untuk menjadi desainer terwujud sudah. Perempuan kelahiran Surabaya, 29 Desember 1963, itu tetap eksis di dunia fashion hingga kini. “Saya akan terus berkarya. Sebab, ini adalah dunia saya,” ucapnya.

Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut bercerita tentang bakatnya mendesain baju ketika SMP. Saat itu dia memermak celana panjang miliknya menjadi ukuran 7/8. Awalnya terlihat aneh. Celana panjang bagus, lantas dipotong. Celana tersebut kemudian dipakai dengan blus lengan pendek.

Teman-teman Ani lantas heboh melihat baju yang dipakainya. Mereka bertanya dimana Ani membeli baju yang dipakainya. Mereka bertanya dimana Ani membeli baju tersebut. Dengan polosnya, dia mengatakan bahwa baju dan celana itu hasil kreasinya sendiri. “Waktu itu teman-teman pada heboh. Tak menyangka mereka senang dengan hasil kreasi saya,” ujarnya.

Ketika duduk di bangku SMA, Ani diberi kepercayaan mendesain kostum cheerleader. Dengan penuh semangat, dia mengerjakan desain tersebut sebaik-baiknya. Alhasil, teman-temannya puas dengan hasil desainnya. “Senang sekali lihat teman-teman suka. Bikin tambah percaya diri.”

Setelah lulus SMA, Ani berkeinginan masuk jurusan arsitektur. Jurusan itu dipilih karena dia ingin mendalami dunia desain. Meski bukan desain baju, minimal dia bisa mengakomodasi kemampuannya menggambar. Namun, keinginan tersebut tidak disetujui ayahnya. Ani malah diminta kuliah di jurusan pertanian.

Dengan berat hati, perempuan yang kini berusia 51tahun itu mengikuti keinginan ayahnya. Karena tidak suka, ani hanya bertahan setahun. Dia kemudian memilih mengikuti kata hatinya. Dia pun banting setir kuliah bidang fashion designer di Bunka School of Fashion Jakarta pada 1983.

Setahun menimba ilmu disana, perempuan yang suka olahraga bola voli itu mengikuti lomba perancang mode Indonesia. Tak disangka, dia meraih juara kedua. “Setelah itu, saya bertekad terus mendalami dunia fashion,” katanya.

Ani pun mendalami fashion design di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo. Jakarta pada 1984-1985. Disana dia mendapatkan banyak ilmu baru mengenai detail merancang busana. Tak berhenti sampai disitu, dia pun mengambil kuliah di London College of Fashion. “Awalnya mau ke Jepang. Tapi, saya tak bisa bahasa Jepang. Ya akhirnya ke inggris saja,” ujarnya.

Kembali ke tanah air, perempuan yang mengidolakan desiner Ghea Panggabean tersebut mengajar di LPTB Susan Budihardjo. Selain itu, dia mulai mengerjakan pesanan pelanggannya.

Ibu dua anak itu mengatakan, semula dirinya mendesain baju kasual, namun etnik. Kombinasi batik maupun tenun dimanfaatkan untuk memperkaya hasil desainnya. Lama-kelamaan pelanggan pun tahu kualitas dan hasil desain Ani. Bahkan, gaun nuansa etnik menjadi ciri khasnya.”Saya juga suka permainan garis dan geometris. Menambah keunikan gaun tersebut,”terangnya.

Pada 1992 istri Andi Laksono itu mulai beralih pada desain naju muslim. Ketika itu dia hamil anak kedua. “Waktu itu baju muslim belum booming dan ngetren seperti saat ini,” ucapnya. Karena belum banyak pula desainer khusus busana muslim, karya Ani laris manis. “Saya banyak baca dan cari ide baju ala Arab, Mesir, dan India. Tentu dipadukan dengan kondisi sini,”katanya. Sejak itu dia berfokus pada desain khusus busana muslim hingga kini. (ind/c7/ai).

Sumber: Jawa Pos. Kamis 28 Agustus 2014