Maraknya penyebaran informasi yang diiringi dengan kurangnya literasi digital membuat banyaknya hoaks atau berita palsu yang semakin merajalela. Banyaknya hoaks yang tersebar pada era ini kerap kali menimbulkan keresahan public, lantas kalau kita lihat kembali sebenarnya bagaimana sih asal mula tercipta adanya hoaks?

Dalam buku berjudul Sins Against Science yang ditulis oleh Lynda Walsh, beliau mengulas mengenai sejarah terjadinya hoax atau kabar bohong yang diperkirakan terjadi pada tahun 1808, pada era industry. Kata-kata hoax itu sendiri diyakini telah ada dari ratusan tahun sebelumnya, dan berasal dari kata ‘hocus’ dari ‘hocus pocus’. ‘Hocus Pocus’ itu sendiri merupakan sebuah mantra yang biasanya dilontarkan oleh para pesulap, jika di Indonesia biasanya menyerupai ‘sim salabim’. Dilengkapi kembali oleh Alexander Boese dengan bukunya yang berjudul Museum of Hoaxes dimana ia mencatat sekumpulan hoax pertama yang telah dipublikasikan pada jamannya. Mulai dari adanya penanggalan palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff atau Jonathan Swift pada tahun 1709. Pada saat itu, Jonathan Swift meramalkan tanggal kematian seorang astrolog bernama John Patridge. Dengan keyakinannya tersebut, Jonathan Swift juga menuliskan obituary palsu Patridge di hari dimana ia diramalkan meninggal. Hal ini dibuat Swift untuk mempermalukan Partridge di mata public. Tentu, hal ini menimbulkan beberapa dampak yang akhirnya merugikan orang yang bersangkutan serta public yang mempercayainya. Dari sini, kemudian mulai bermunculan hoaks-hoaks yang kembali menggemparkan public hingga mulai berkembang pada era industry ini.

Seturut dengan perkembangan jaman dan maraknya hoaks yang tertebar dimana-mana khususnya di media sosial, hoakspun dibagi menjadi 7 jenis. Pertama, ada hoaks Satir dimana konten ini dikhususkan sebagai ironi atau sarkasme kepada pihak tertentu. Pada dasarnya, hoaks satir ini sendiri merupakan suatu sindiran yang tidak membahayakan, namun pada beberapa kasus malah menjadi masalah serius karena banyaknya massa yang tertipu dan meyakini konten tersebut sebagai suatu kebenaran. Kedua, ada juga hoaks menyesatkan yang dilengkapi dengan bukti-bukti palsu dengan mencantumkan beberapa pernyataan resmi. Tujuannya memang sengaja dibuat agar para pembacanya memiliki pemikiran yang sama dengan penulis hoaks tersebut. Hoaks jenis ini merupakan jenis yang harus kita waspadai dan harus kita bedakan, karena terkadang berita yang dituliskan malah menggiring massa ke suatu kepercayaan tanpa adanya bukti akurat maupun dasar teori / pengetahuan yang jelas. Selanjutnya, ada juga hoaks yang mencantumkan bukti berupa foto atau video peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau namun ditulis pada tahun yang berbeda dengan konteks yang tentunya berbeda. Biasanya ini terjadi karena adanya beberapa kejadian yang serupa sehingga beberapa massa menjadi tertipu. Tidak jauh berbeda, ada juga hoaks ‘salah koneksi’ dimana biasanya beberapa oknum menggunakan foto atau video dari suatu berita dan mengubah informasi yang ada sesuai dengan opini mereka. Contohnya terjadi pada salah satu temuan Turn Back Hoax di twitter dimana seseorang menggunakan video domba Beltex yang dicukur bulunya dan menyatakan hewan tersebut adalah hewan cloning yang dinamakan Khanzarof. Padahal nyatanya, hewan tersebut merupakan hewan dari Selandia Baru yang diberi suntikan otot ganda texel dari Belgia. Dilanjutkan dengan hoaks konten tiruan yang melibatkan tiruan-tiruan untuk menipu masyarakat. Biasanya ada yang mengaku sebagai gojek, grab, dan masih banyak konten tiruan lainnya. Dilanjutkan dengan hoaks yang mengandung konten manipulasi dimana beberapa oknum mengambil dan menyunting sebuah data berupa informasi, foto maupun video lalu mengubahnya dengan berita-berita palsu yang meyakinkan para warga. Terakhir, ada hoaks dengan konten palsu dimana suatu oknum sengaja membuat hoaks ini agar bisa dipercayai oleh warga. Hoaks yang satu ini termasuk jenis yang berbahaya karena cukup meresahkan dan dapat menipu warga jika tidak hati-hati loh!. Salah satunya terjadi pada suatu perusahaan Timah yang dikabarkan membuka lowongan pekerjaan, padahal nyatanya tidak.

Wah, ternyata banyak juga ya jenis-jenis hoaks yang selama ini beredar!. Tentunya, kita harus bisa lebih berhati-hati dalam menyaring informasi ya teman-teman!. Kita semua tidak mau-kan dipermainkan oleh berita-berita palsu yang menyebar!. Hal ini bisa diminimalisir dengan beberapa hal, contohnya dengan mencermati lebih lagi alamat situs yang ada. Berita hoaks biasanya berasal dari situs-situs yang tidak terpercaya, sehingga kita juga harus bisa membedakan mana situs yang terverifikasi dan yang tidak ya teman!. Kemudian kita juga bisa meminimalisasi dengan memeriksa kembali fakta yang beredar. Kebanyakan orang biasanya langsung mempercayai apa yang mereka baca, padahal dibalik itu kita tidak tahu apakah situs-situs lain juga mengatakan demikian. Jadi, sebaiknya kita periksa kembali fakta yang ada ya!, tentu akan lebih akurat jika dilengkapi dengan adanya kesaksian dan bukti-bukti resmi. Setelah itu, kita juga bisa mengecek keaslian foto dengan menggunakan sistem drag-and-drop dari Google Images. Dari sini, kita bisa melihat apakah foto tersebut benar dikhususkan untuk informasi tersebut, atau jangan-jangan merupakan foto dari informasi lain?

Sekarang kita sudah tahu jenis-jenis hoaks yang beredar di masyarakat dan beberapa cara untuk menghindarinya. Jangan ada lagi ya yang tertipu hingga ikut-ikutan menyebarkan berita hoaks! Berbahaya loh!

 

Daftar Pustaka

Liputan6 (2017, Januari 7). Darimana Asal Usul Hoax?. Liputan6.com. Diakses pada https://www.liputan6.com/news/read/2820443/darimana-asal-usul-hoax. 11 Januari 2021.

Putera, Dewa (2019, Agustus 19). Waspadai 7 Jenis Hoax di Sekitar Kita, Apa Saja?. Idntimes.com. Diakses pada https://jabar.idntimes.com/hype/viral/dewa-putu-ardita/7-jenis-hoax-ini-bertebaran-di-sekitar-kita-pintar-pintarlah-memilah-regional-jabar/7. 11 Januari 2021.

Yunita (2017, Januari 19). Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia maya. Kominfo.go.id. Diakses pada https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media. 11 Januari 2021.