Memberi Perubahan Lewat Kerajinan Tangan. Kompas.19 Agustus 2015.Hal.16

Dari kartu nama yang diberikan tertulis “trainer”, bukan perajin. Begitulah Supardi menegaskan soal pekerjaannya. Pelatih kerajinan tangan tepatnya. Dari kartu berwarna krem itu pula dijelaskan bahwa dia memberi pelatihan kerajinan eceng gondok, aneka souvenir, aksesoris manik-manik, sulam pita, dan rangkaian hantaran.

Profesi sebagai “trainer” itu sendiri bermula dari aktivitas istrinya, Wiwit Manfaati, tahun 2007. Ketika itu, Wiwit mengikuti pelatihan kerajinan di Kelurahan Kebraon, Surabaya, Jawa Timur. Sementara Supardi saat itu mengaku masih bekerja serabutan, mulai dari menjual bunga, membantu pengurusan surat izin, hingga sopir cabutan untuk mobil rental.

Dalam pelatihan yang diikuti 30 peserta itu, ternyata yang berhasil hanya satu, yaitu Wiwit. Berkat ketekunannya, Wiwit akhirnya berhasil menjadi perajin eceng gondok, yang hasil produksinya dihargai di luar negeri dan membanggakan Kota Surabaya.

Pengalaman Supardi memberikan pelatihan pertama kali datang pada 2008. Dia didaulat sebagai instruktur pelatihan kerajinan di Kecamatan Karangpilang, Surabaya.

“Ya jelas kaget walaupun belum dibilang sebagai perajin justru saya harus memberikan pelatihan,” ujar Supardi.

Namun, hal tersebut tetap ia lakoni dengan berbekal pengetahuan mendampingi istrinya setiap hari bergelut dengan kerajinan eceng gondok.

“Ya, mau enggak mau jadi ngerti, lha, wong setiap hari dicekokin oleh eceng gondok,” guraunya.

Sejak itulah Supardi rajin berbagi sehingga mereka pun dikenal sebagai pak’e dan mak’e UKM Surabaya.

Bagi Supardi, berbagi ilmu adalah sebuah jalan hidup. Baginya, setiap pencapaian dalam hidup harus bisa dirasakan orang lain. Sejalan dengan semakin berkembangnya usaha, melalui sejumlah instansi, semakin sering pula Supardi berbagi.

Halangan kegiatan itu justru bukan datang dari diri sendiri, melainkan teman sesama perajin. “Punya ilmu, kok, dibagi-bagi. Itu, kan, rahasia dapur sendiri,” ujarnya mengikuti sindiran temannya.

Namun, ia menganggap sindiran temannya hanya lelucon. Ia tetap yakin ilmu yang dimilikinya juga berasal dari orang lain. Untuk itu pula, ilmu itu harus diteruskan kembali. Ia juga tidak khawatir munculnya saingan karena banyak faktor yang membuat orang berhasil dalam usahanya. Tidak cukup hanya ikut pelatihan, apalagi hanya sekali pertemuan.

Sebagai pengajar, Supardi telah melewati banyak peristiwa. Ia pun jadi terbiasa keluar masuk hotel dan gedung seluruh Jawa Timur. Bahkan, ia juga diminta melatih di tempat-tempat khusus.

Supardi mengaku telah mendampingi warga lokalisasi sebelum ditutup, seperti Dupak Bangunsari, Klakah Rejo, Sememi, dan Tambak Asri. Pendampingan tersebut diberikan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk memberikan bekal hidup saat lokalisasi ditutup.

Sebuah peristiwa yang akan selalu diingat adalah saat ia mengenal seorang PSK di Lokalisasi Sememi bernama Fani. “Fan, kamu, kok, mau hidup gitu terus?” ujar Supardi kepada Fani yang saat itu menjadi primadona loklisasi. ketika itu, tidak ada komentar dari Fani.

Namun, tiga minggu berselang setelah kejadian itu, Supardi kedatangan tamu yang tidak lain adalah Fani. Ia ternyata datang untuk menanyakan tempat membeli kebutuhan untuk membuat kerajinan.

Supardi dengan senang hati memberi alamat temapt Fani bisa membeli semua kebutuhan kerajinan yang akan membawanya menjadi manusia yang baru.

Transfer Ilmu

Tantangan lainnya adalah saat ia didaulat untuk melatih warga penderita gangguan jiawa di Lingkungan Pondok Sosial Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

“Manusia normal saja sulit dipahami, apalagi mereka yang punya gangguan kejiwaan,” kata Supardi.

Ia tidak memasang target saat memulai pelatihan itu tahun 2011. Ia juga tidak merncanakan pelatihan apa yang cocok untuk mereka. Semua pelatihan ia coba dan ternyata dari coba-coba tersebut, pelatihan yang cocok adalah kerajinan keset berbahan kain bekas.

Pengalaman unik sekaligus menegangkan pun ia dapat. Ketika sedang memberikan pelatihan, peserta tampak asyik melakukan proses produksi. Namun, tiba-tiba seseorang warga bernama Ari Angga tanpa diketahui penyebabnya, melempar gunting ke arah Supardi. Aksi tersebut membuatnya kaget. Kekagetannya segera hilang saat ia menyadari bahwa yang dihadapinnya pengidap gangguan jiwa sehingga apa yang terjadi ia anggap sebagai bagian dari risiko pekerjaan.

“Selain kesabaran, yang menjadi kunci saya juga ngemong dan bisa memosisikan diri dalam berbagai tingkatan. Kadang bapak, sahabat, teman, dan mitra kerja,” jelas Supardi.

Ia juga akhirnya mendapat pelajran yang berharga dalam melatih pengidap gangguan jiwa. Ia menyimpulkan bahwa yang ia lakukan itu bisa menjadi terapi bagi mereka untuk dapat melakukan kembali hal yang dilakukan manusia normal.

Kini, Supardi patut berbangga. Apa yang ia lakukan mulai memperlihatkan hasil nyata. Hasil kerajinan mereka dapat diterima dan dihargai masyarakat.

“Ya, tantangannya saat ini, bagaimana mengubah pandangan orang tentang mereka. Mereka mempunyai gangguan, tetapi tidak dengan karya mereka. Jadi, tidak perlu jijik. Karya mereka harus bisa diterima seperti karya-karya perajin lain,” jelas Supardi.

Seperti keyakinan yang sering ia pegang, hidup harus berguna bagi orang lain. Maka, mereka yang sempat salah mengambil jalan hidup akhirnya bisa kembali ke jalan yang benar. Bahkan, bagi mereka yang mengalami gangguan kejiawaan akhirnya bisa kembali berguna dan semuanya ia lakukan bermodal pengalaman yang dilakukan jauh-jauh hari bersama istrinya, yaitu dengan kerjainan tangan.

SUPARDI

Lahir                : Jombang, Jawa Timur, 4 Maret 1967

Pendidikan      : S-1 Jurusan Pertanian Universitas Kartini Surabaya

Jabatan            : Ketua UMKM Karangpilang Surabaya

Istri                  : Wiwit Manfaati

Lahir                : Sidoarjo, Jawa Timur, 15 April 1967

Anak                : – Zahrotus Sadida (10 Maret 1997)

– Moch Lathief Aminullah (28 Juli 2008)

– Moch Khasyfurrahman Sidqi (31 Agustus 2002)

Penghargaan   : – Juara I Pahlawan Ekonomi Surabaya 2011

– Best of the Best Industri Kreatif Surabaya 2014

– Dan banyak penghargaan lain

Sumber: Kompas.19-Agustus-2015.Hal_.16