Sumber:https://surabaya.pikiran-rakyat.com/surabaya-raya/pr-3929837550/surabaya-jadi-pusat-jagat-mutu-pendidikan-aseaneropa-uc-pimpin-diskusi-global-ai-dan-masa-depan-kampus?page=4

Surabaya Jadi Pusat Jagat Mutu Pendidikan ASEAN–Eropa! UC Pimpin Diskusi Global AI dan Masa Depan Kampus

3 Desember 2025

PR SURABAYA – Universitas Ciputra Surabaya (UC) resmi menjelma sebagai pusat perhatian Asia–Eropa setelah menjadi tuan rumah TrainIQA Workshop 3 dan ASEAN-QA Forum 2025, salah satu forum penjaminan mutu pendidikan tinggi paling berpengaruh di kawasan.

Gelaran bergengsi selama lima hari ini didukung penuh oleh DAAD Jerman, lembaga pendanaan pendidikan internasional terbesar di dunia, serta berkolaborasi dengan HRK, Potsdam University, AQAN, EUA, dan SEAMEO RIHED.

Dengan dukungan jejaring 263 universitas Jerman dan lebih dari 850 kampus di 48 negara Eropa, Surabaya pun menjelma menjadi episentrum diskusi global yang mempertemukan pakar-pakar penjaminan mutu lintas benua.

80 Delegasi dari 9 Negara Bahas Mutu Pendidikan di Era AI

Dipimpin langsung oleh Frank Niedermeier, TrainIQA Project Leader dari University of Potsdam, forum ini menghadirkan 80 delegasi dari Indonesia, Jerman, Laos, Thailand, Filipina, Myanmar, Timor Leste, Kamboja, dan Vietnam.

Tahun ini, ASEAN-QA Forum mengangkat tema krusial,
“Opportunities and Challenges in Higher Education Quality Assurance in the Era of AI.”

Tema tersebut merespons perkembangan pesat kecerdasan buatan yang kini memengaruhi pembelajaran, akreditasi, hingga integritas akademik.

UNESCO bahkan menegaskan bahwa AI telah “mengubah cara kita belajar, mengajar, dan memaknai dunia,” sementara OECD menyebut bahwa teknologi ini memaksa kita “memikirkan kembali sistem pendidikan” secara fundamental.

Pakar AI dan QA Internasional Berkumpul di Surabaya

Acara dibuka oleh Rektor UC, Prof. Wirawan E.D., dengan menghadirkan keynote speaker pakar AI Indonesia, Dr. Trianggoro Wiradinata (Director of Apple Developer Academy & Vice Rector UC). Panel diskusi turut diisi oleh:

Frank Niedermeier (University of Potsdam, Jerman)

Prof. Dr. Duu Sheng Ong (Multimedia University, Malaysia)

Prof. Dr. Philipp Pohlenz (University of Magdeburg, Jerman)

Para pakar ini membedah bagaimana AI bisa mempercepat analisis mutu kampus, sekaligus mengancam integritas akademik bila tidak dikawal dengan standar yang tepat.

Momentum Strategis Indonesia di Panggung Global

TrainIQA sendiri merupakan program unggulan DAAD yang sejak 2011 telah melatih lebih dari 200 pimpinan QA dari 70 universitas ASEAN.

Banyak alumni program ini kini memegang peran strategis dalam kebijakan pendidikan nasional masing-masing negara.

Lenny Rosita, S.T., M.MT., Head of Institutional Development and Quality Enhancement UC, yang juga trainer TrainIQA pertama dari Indonesia serta Secretary of Executive Committee ASEAN-QA Association, menegaskan bahwa kepercayaan internasional kepada UC adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar.

“Menjadi host forum ini membuktikan bahwa Indonesia mampu menjembatani dialog global tentang mutu pendidikan tinggi. Di sinilah praktik terbaik dibahas, kolaborasi ASEAN–Eropa dirancang, dan masa depan QA dibentuk,” ujar Lenny.

Ia menambahkan bahwa isu AI kini menjadi sorotan utama.

“AI membawa efisiensi, tetapi juga risiko bagi integritas akademik dan keamanan data. Forum ini membantu kita merumuskan kerangka yang etis dan bertanggung jawab,” tambahnya.

UC Berperan Aktif Bentuk Standar Mutu Pendidikan Masa Depan

Tidak hanya sebagai tuan rumah, UC juga berkontribusi langsung dalam diskusi strategis mengenai integrasi AI dalam QA.

“Kami ingin suara Indonesia terdengar dalam diskusi standar mutu global. Forum ini bagian dari komitmen panjang UC membangun budaya mutu berkelas internasional dan memperkuat kolaborasi konkret antara ASEAN dan Eropa,” tegas Lenny.

Dengan terselenggaranya ASEAN-QA Forum 2025, Surabaya melalui Universitas Ciputra, kian menegaskan perannya sebagai kota yang mampu menghadirkan dialog global untuk masa depan pendidikan tinggi dunia.***