Tidak banyak orang diluar akademisi yang bisa membaca relief Candi Jago secara cukup detail. Dari segelintir orang itu, salah satunya adalah Surjadi (58) yang bekarja sebagai penjada Candi Jago selama 39 tahun. Hasil bacaan Surjadi dibagikan kepada orang lain dan mulai dibukukan.
Oleh Defri Werdiono
Surjadi memasuki masa purnatugas per 1 satu Januari 2017. Namun ia merasa hatinya akan terus tertambat di Jajaghu – sebutan bagi Candi Jago – tempat pendarman Raja Singhasari Wisnuwardhana.
Bagi Surjadi, candi yang dibangun pada abad ke-8 Masehi itu adalah “istri keduanya”. Istri pertama dan sesungguhnya adalah Widyaningrum (43) yang telah memberinya empat anak.
Kecintaan pria yang biasa dipanggil Ki Suryo pada Candi Jago, salah satunya, diwujudkan melalui tulisan. Surjadi yang ditemui di rumahnya yang berada tidak jauh dari Candi Jago, akhir Desember lalu, tengah sibuk menyelesaikan halaman ke-130 dari total sekitar 200 halaman buku yang ia susun. Judul bukunya adalah Mengungkap Relief Candi Jago secara Lengkap.
“Saya membuat buku karena referensi cara membaca relief di Candi Jajaghu masih sangat kurang. Saya mencoba detail. Saat ini, prosesnya sudah 60 persen,” tuturnya.
Surjadi menulis relief panel per panel. Adegan demi adegan ia urai ambil menyertakan dialog dan foto. Tidak lupa filosofi dari relief ia munculkan sehingga informasi yang disuguhkan lebih lengkap.
Menurut Surjadi, membaca relief sebenarnya mudah bagi mereka yang tahu sejarah. Namun, membaca relief secara detail tidak hanya menyangkut cerita, tetapi juga menyelisik suasana latar belakang cerita pada tiap panel – itu susah. Apalagi, relief Candi Jago terdidiri atas banyak cerita.
Candi Jago, lanjut Surjadi, merupakan perpaduan dua kepercayaan, yakni Hindu dan Buddha. Panel di bagian bawah candi berisikan ajaran dan kehidupan dalam nuansa Buddha. Adapun bagian tengah dan atas bangunan candi berisikan ajaran dan kehidupan dalam nuansa Hindu.
Relief bagian bawah, antara lain, bercerita tentang tantri atau cerita binatang sebanyak 8 panel, Angling Darma 32 panel, dan Kunjarakarna 65 panel sekaligus yang paling panjang. Untuk bagian tengah sampai atas terdapat cerita Mahabarata, Arjuna Wiwaha dan Krisnayana.
Otodidak
Lelaki tamatan sekolah menengah atas di Tumpah ini mengatakan tidak pernah belajar secara khusus untuk meguasai cerita di balik relief Candi Jago. Sebagaian pengetahuan ia peroleh dari ayahnya, Raden Bambang Sutrisno, yang juga penjaga candi. Sang ayah sering bercerita tentang isi relief Candi Jago kepada Surjadi, baik ketika berada di pelataran candi maupun di rumah.
Ayahnya juga menulis dua buku, masing-masing berjudup Mengupas secara Lengkap Candi Jago dan Sejarah Percandian di Kabupaten Malang tahun 1980-an. Sayangnya, sang ayah belum sempat menerbitkan buku hasil karyanya.
Ayah Surjadi juga memiliki sejumlah buku sejarah candi berbahasa Belanda. “Kebetulan bapak saya dulu bisa bahasa Belanda. Nah, buku-buku (koleksi Bapak) sering saya baca,” ungkap Surjadi.
Ketika mempelajari relief Candi Jago, ayahnya berpesan kepada Surjadi agar tidak meniru mentak-mentah apa yang diajarkan. Atas dasar nasihat itulah, Surjadi berusaha menambah pengetahuan dengan belajar sendiri. Ia rajin mencari buku-buku penunjang di sejumlah perpustakaan. Ia juga rajin mengamati secara langsung fisik candi.
Sekitar 1978, Surjadi meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai penjaga candi atau juru pelihara. Pada masa itu, jabatan penjaga candi memang diwariskan dari orangtua kepada anaknya, bukan ditunjuk lembaga terkait seperti yang terjadi saat ini.
Pekerjaan itu ditekuni Surjadi selama 39 tahun hingga ia pensiun pada awal Januari 2017.
Bertugas sebagai penjaga candi membuat Surjadi memiliki lebih banyak waktu untuk mencermati tiap detail relief Candi Jago. Ia mencoba memadupadankan hasil bacaaanya dengan informasi yang ia peroleh dari buku. “Saya ini merasa kurang ajar, jadi perlu terus belajar,” ujar Suryadi merendah.
Kemampuan Surjadi membaca relief Candi Jago terus bertambah karena ia sering menemani akademisi yang dateng ke Candi Jago. “Setiap ada dosen yang datang ke Jago, dia reajin mencatat apa yang disampaikan para dosen tentang cerita di relief. Hal itu menambah pengetahuannya,” kata arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, yang cukup akrab dengan Surjadi karena sudah saling mengenal sejak muda.
Dwi menambahkan, kemampuan Surjadi membaca relief Candi Jago lebih mumpuni dibandingkan juru pelihara candi yang lain. Hal itu wajar karena Surjadi memang rajin belajar. Ia juga sangat peduli terhadap situs yang dijaganya, sampai-sampai situs situs itu ia anggap sebagain istri keduanaya.
Pengakuan atas kemampuan Surajadi juga datang dalam bentuk penghargaan. Ia terpillih sebagai Juru Pelihara Candi Tingkat Nasional 2012.
Sendratari
Enam tahun terakhir, hasil bacaan Surjadi terhadap panel-panel relief Candi Jago ia kembangkan dan tuangkan dalam bentuk sendratari. Ia menamai sendratari garapannya dengan Maha Jajaghu.
Sendratari kolosal garapan Surjadi, antara lain, dipentaskan pada acara menyambut Pekan Nasional Petani-Nelayan XIV/2014 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Malang, Jawa Timur. Ada 1.000 penari yang dilibatkan pada acara pembukaan dan 500 orang pada acara penutupan.
Ia juga mengolaborasikan cerita relief Candi Jago dengan cerita yang berkembang di masyarakat, seperti Dewi Sri.
“Peran saya lebih pada (menyusun) konsep isi cerita. Kalau gerekannya menjadi tugas koreografer,” katanya.
Kini, setelah ia pensiun sebagai juru pelihara candi, aktivitas keseniannya akan terus berlanjut. Ia merasa kegiatan kesenian dan budaya telah menjadi bagian dari jiwanya. Momen-momen penting dalam hidupnya pun ia rayakan dalam bentuk kegiatan kebudayaan di pelataran Candi Jago.
Pada 2015, misalnya, Surjadi menikahkan anaknya di pelataran Candi Jago. Semua prosesi pernikahan ditata sedemikian rupa, termasuk pakaian pengantin, sehingga mirip seperti pernikahan putra-putri keraton. Tidak hanya itu, ritual tujuh bulanan atau tedak siten cucunya juga dilakukan di pelataran candi.
“Sayangnya, untuk acara pernikahan, saya salah. Saya tidak izin lebih dulu kepada lembaga yang menaungi candi. Sementara untuk acara tedak siten, saya lapor. Acaranya disatukan dengan perpisahan saya dan teman-teman sesama juru pelihara candi di Jawa Timur,” tuturnya.
Surjadi memang tidak ingin membatasi diri meski telah pensiun. Ia membuka pintu rumahnya lebar kepada siapa pun yang datang untuk bertanya dan berdiskusi seputar Candi Jago.
Ia juga tidak keberatan jika diajak berkeliling ke tempatnya bekerja dulu untuk menjelaskan kisah di balik panel-panel relied candi yang terpahat indah.
Sumber: Kompas. 4 Januari 2016. Hal. 16

