Wisata Salak di Lereng Merapi. Kompas.21 Desember 2016.Hal.16

Terlahir dari keluarga petani salak Surya Agung Saputra (40) tidak ingin sekedar melanjutkan hidup dengan bertani di lereng Gunung Merapi. Ia berinovasi menjadikan lahan perkebunan salak sebagai tempat wisata berbasis pertanian. Kini, setiap tahun, puluhan ribu pelancong mengunjungi perkebunan itu.

 

OLEH REGINA RUKMORINI

Agung, demikian sapaan akrabnya, adalah warga desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Wonokerto merupakan salah satu sentra salak di Sleman. Itu terlihat dari deretan tanaman salak dan puluhan pedagang buah itu yang menjadi pemandangan di jalan-jalan di daerah ini.

Tak puas dengan tradisi bertani salak saja, Agung mencoba terobosan. Mulanya uji coba itu diterapkan di kebunnya sendiri, seluas 2.000 meter persegi, yang bersebelahan dengan rumahnya. Kebun itu dikembangkan menjadi objek agrowisata dengan nama Omah Salak.

Salah satu andalan wisatanya adalah praktik memetik salak. Ada juga beberapa paket layanan pendidikan, diantaranya outbound (kegiatan luar ruang), coaching (bimbingan) pertanian salak, study tour, pelatihan dan tur ke home industry makanan berbahan salak.

Kebun Agung pun ramai dikunjungi banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri. “Banyak orang bisa ikut memanen di kebun salak ini,” ujarnya saat ditemui di Omah Salak, akhir November.

Tidak hanya di lahan sendiri, paket-paket wisata serupa juga dikembangkan Agung di kebun salak milik lebih dari 1.000 petani dari 40 kelompok tani dari kecamatan Turi Pakem, dan Tempel di Kapubaten Sleman, serta Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka semua tergabung dalam Asosiasi Petani Salak Indomerapi (APSI) yang diketuai Agung.

Setiap kelompok tani beranggotakan 30-40 petani, masing-masing rata-rata memiliki 1.000-2.000 meter persegi kebun salak. Kebun yang menjadi obyek wisata itu tersebar di 100 lokasi.

Jumlah wisatawan yang mengunjungi kebun salak milik petani APSI mencapai 50.000 orang per tahun. Kunjungan itu diatur secara bergilir sehingga setiap petani bisa berkesempatan menjadi “tuan rumah” bagi tamu.

Dengan program wisata itu, rata-rata petani bisa mendapatkan penghasilan tambahan berkisar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Pada saat-saat tertentu, tambahan itu bisa lebih besar, bergantung pada jumlah wisatawa dan transaksi.

“Saya pernah kedatangan satu bus wisatawan yang memborong hingga 1 ton salak, saya bisa dapat keuntungan bersih Rp 98 juta,” ujarnya. Hal serupa juga sempat dialami oleh petani-petani lain.

Besarkan bersama salak

Agung memang besar dalam budaya pertanian salak. Menanam salak sejak tahun 1970-an, keluarga Agung sempat mengalami kejayaan pada era tahun 1980-an dan 1990-an. Satu kilogram salak saat itu laku terjual dengan harga Rp 8000 sampai Rp 9000 per kilogram, setara dengan harga 1 kilogram beras. Kehidupan keluarganya kala itu sangat sejahtera.

Namun, masa keemasan itu tidak berlangsung selamanya seiring dengan harga salak yang menurun. Ekonomi keluarga Agung pun naik-turun, mengikuti fluktuasi harga salak, bahkan pernah beberapa kali anjlok.

Kesulitan ekonomi juga berdampak terhadap pendidikan Agung, kakak, dan dua adiknya. Kakaknya putus kuliah karena penghasilan karena penghasilan dari salak tak lagi menjangkau biaya kuliah. Melihat itu, Agung bertekad mancari jalan keluar.

“Saat menginjak semester II di bangku kuliah, Agung mencoba bisnis menjual dan mengirim salak ke tempat asal teman kuliahnya ke Kalimantan. Pengiriman biasanya dengan kapal dan dikawal oleh dirinya sendiri. Dalam seminggu, dia bisa mengirim 2-3 kali dengan volume 0,5 ton salak sekali pengiriman. Usaha ini membantu dirinya menuntaskan pendidikan perguruan tinggi pada 1998.

Lulus kuliah, Agung menjual salaknya ke pedagang-pedagang lokal sembari berpirik keras cara mendapatkan lebih banyak pemasukan dari kebun salak. Saat itulah terbetik ide membuka kebun salak ayahnya seluas 2.000 meter persegi di Desa Bangunkerto untuk objek wisata.

Pada awal usaha Agung mendatangkan wisatawan dengan menghubungi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita). Dia juga mengirimkan tawaran wisata ke sekolah-sekolah disejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

“Karena belum ada teknologi yang mendukung, promosi wisata kami jelaskan dan kirimkan dalam surat lewat faks,” ujarnya.

Manajemen pengolahan wisata sempat beberapa kali berubah. Pertama, mereka menerapkan sistem bisa memetik salak sepuasnya hanya dengan membayar satu tiket. Dalam perkembangannya, jumlah salak yang dipetik dibatasi. Terakhir, hingga saat ini, diterapkan sistem harga Rp 1.000 per biji salak yang dipetik.

Tahun 2009, Agung melibatkan semakin banyak petani dengan membentuk APSI yang merupakan gabungan dari petani di empat kecamatan di dua kabupaten di dua provinsi. Total petani yang terlibat mencapai lebih dari 1.000 orang.

Paket-paket wisata pun ditambah sehingga kini mancapai lima paket tawaran. Setelah mendapatkan pelatihan dari Universitas Negeri Yogyakarta, para ibu, istri-istri dari para petani salak juga menambah keterampilan dengan membuat aneka jajanan berbahan salak. Beberapa dari mereka menjadikan usaha itu sebagai industri rumah tangga. Dari sitinilah, ibu-ibu itu akhirnya membuat paket wisata baru, seperti berkunjung ke produsen pembuat jajanan dan pelatihan membuat makanan berbahan salak.

Sembari menjalankan kegiatan wisata, Agung juga mengembangkan pemasaran produk salak, termasuk ke toko-toko modern dan pedagang-pedagang lain di luar pulau Jawa.

Kembangkan diri

            Dengan penghasilan dari program wisata salak di kebun ayahnya, Agung lantas membeli 2.000 meter persegi lahan yang kemudian juga dijadikannya kebun dan obyek wisata salak bernama Omah Salak. Kebun ini berlokasi di Desa Wonokerto, tempat tinggalnya saat ini.

Erupsi Gunung Merapi akhir 2010 merusak hampir semua tanaman salak milik petani. Produksi dan wisata kebun salak sempat terhambat, bahkan nyaris berhenti selama satu tahun. Namun, perlahan mereka bangkit dan terus mengembangkan diri hingga kini.

SURYA AGUNG SAPUTRA

  • Istri: Ari Erta (39)
  • Anak:
  • Aulia Zahra (13)
  • Tahta Kautzar Muhammad (9)
  • Amru Majid Muhammad (7)
  • Annasya Raesha Faiha (3 bulan)
  • Pendidikan terakhir:

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

  • Pekerjaan:

Petani salak dan dan pelaku wisata kebun salak

  • Organisasi

Ketua Asosiasi Petani Salak Indomerapi

Wisata kebun salak memberdayakan banyak orang. Bukan hanya petani beserta para istrinya, program ini juga memberikan peluang kerja bagi para pemuda desa sebagai pemandu wisata kebun dan outbound.

Lebih dari itu, Agung juga mengirimkan bibit tanaman salak ke seluruh Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua. Di saat bersamaan para petani diajak melakukan sertifikasi lahan sehingga mampu melakukan ekspor ke banyak negara, seperti yang dilakoninya sejak 2008.

Agung ingin mendorong petani memperbaiki nasib dengan terus melakukan berbagai inovasi dan terobosan dengan memanfaakan lahan salak dan kekayaan alam di desa.

“Agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya, setiap petani harus kreatif,” ujarnya.

 

Sumber: Kompas, 21 Desember 2016 Hal 16