Telaten pada Pelanggan maupun Haters
Pebisnis makanan sehat tentu harus punya pengetahuan tentang bahan baku, pengolahan hingga penympanan. Tiga elemen itu harus dipahami agara sehatnya maksimal. Berbekal pengetahuan tersebut, pebsinis bisa memberikan jawaban kepada pelanggan yang masih awam sekaligus menangkal haters.
Hampir setiap hari Shandra harus meladeni calon customer yang bertanya macam-macam. “Mulai bahannya apa aja, masaknya gimana, sampai kandungan gizinya apa aja? Bahkan merek produknya pun ditanya. Pernah juga ditanya hal-hak sepele yang sebenarnya bisa juga di browsing sendiri di internet sebelum tanya,”ceritanya.
Shandra harus telaten menjawab satau per satu. Sebab, bagaimana pun masih banyak yang awam soal healthy food. Dengan memberikan penjelasan, meski belum membeli pada akhirnya banyak orang yang menjadi tahu. Sandra serig jug berkampanye “tipis-tipis”. Di antaranya, menjelaskan cokelat cacao lebih sehat daripada cocoa. Atau, bila ingi rasa asin, bisa mengganti garam dengan rocksalt atau himalayan salt.
Lagi lagi saat Shandra menghadapi haters. Dia tidak ingin membalas atau terjebak debat kusir. Shandra pernsh diserang karena kemasanyang begitu-begitu saja, seolah-olah plagiat. Pernah juga Shandra diolok-olok karena berbadan besar, padahal berjualan healthy food.
“Padahal mereka tidak tahu bagaimana saya sebelumnya. Saya biarkan saja dengan tetap gencar berkampanye. Nanti lihat sendiri komen sehat dari pelanggan,”tuturnya.
Mengalami sendiri perjuangan melawa obesitas, Shandra Syailendra ingin orang lain ikut hidup sehat sebelum terlambat. Dia pun mengubah pola makan,bahkan membukanya sebagai lahan bisnis.
Masih setahun yang lalu, perempuan kelahiran Surabaya ini semoat overweight dan terancam berbagai penyakit. Segala diet dan program kesehatan dicoba. “Berhasil turun berat badan sih, tapi akhirnyakembali lagi saat program sudah selesai”, kenangnya.
Lewat Instagram, Shandra mengenal smooties dan orang-orang yang concern terhadap makanan sehat. “Aku ikut LINE Group Smooties Family, terinspirasi banyak hal dan mulai mempraktikkannya,” ujar perempuan yang hobi memasak tersebut. Shandra mengubah bahan makanan yang ada di rumahnya dan mencoba berbagai resep makanan sehat. Berat badannya pun turun 12 kg dalam tiga bulan dan terus turun sampai sekarang.
Karena foodporn merajalela di Instagram, tentu Shandra tergoda untuk ikut mem-posting kreasi masakannya. Banyak yang tergiur, bahkan ingin membeli. “Kok di-posting terus sih San, kapan dijualnya? Sayang ah,” ucapnya menirukan komentar teman-temannya. Dari situ, ibu satu anak ini mulai berpikir untuk menjadikannya bisnis. Dia memilih jalur katering makanan sehat.
Shandra melihat peluang makanan sehat belum banyak yang jual di Surabaya dan Sidoarjo. Untuk membeli bahan makanan organik, market-nya hanya ada di Bali dan Singapura. Belum lagi butuh perlakuan khusus untuk mengolahnya. Contoh sederhana tidak boleh overcook dan sembarangan memberikan perasa. Memberikan garam dan gula sembarangan sama saja tidak sehat meski berbahan pangan organik.
Kondisi tersebut cukup membuat orang berpikir dua kali untuk repot-repot makan sehat. “Nah, saya ingin mempermudahnya lewat eatWise. Tetap ada rasaya, tetapi pengganti garam atau gulanya jauh lebi sehat. Gizinya pun terjamin karena saya selalu berkonsultasi ke dokter dan nutritionist,”katanya.
Shandra menyediakan berbagai produk. Mulia raw food seperti almond & cashewmylk hingga raw brownies. Untuk minuman sehat, Shandra menyediakan menu infused water, smoothies, dan cleanser, semacam jus untuk detoksifikasi tubuh.
Olahan organik food yang matang di hadirkan Shandra tiap minggu agar pelanggan tidak bosan. “Ada menu yang ready, ada juga yang tiap minggu ganti. Kreasi lunch box dan dessert selalu baru. Jadi, orang ingin coba terus,” jelas lulusan Institut Kesenian Jakarta yang ingin melanjutkan sekolah nutrisi tersebut.
Tak disangka, responnya bagus. Sebulan eatWise di-launching, sudah ada 900 followers di Instagram. Ada pelanggan tetap, ada jga yang membeli sesekali. “Yang jelas, order tak pernah sepi,”lanjut Shandra.
Saat ini eatWise yang awalnya ditangani di kediaman Shandra sudah membuat dapur sendiri. Lokasinya berada di sebuah ruko Sidoarjo, lengkap dengan kantornya. Segala perizinan ke lembaga terkait, misalnya izin BPOM dan halal dari MUI, sedang diurus.
Demi memenuhi pesanan, kurir dan helper terus bertambah. Bahkan sebentar lagi eatWise membuka toko di Surabaya. Bersama rekannya, Nurulita Amarta, Shandra membuka cabang katering di Bandung.
Menengok harga bahan baku organik yang tinggi, ketika melihat price list Shandra, kebanyakan orang masih terkaget-kaget. “Yang ngerti organik food dan harga pasti nanya, apa enggak rugi menjual dengan harga segitu. Tapi bagi yang enggak ngerti, harga itu dianggap standar aja,” ungkapnya.
Bagi Shandra, yang namanya bisnis pasti untung. “Untungnya memang nggak banyak denga harga segitu. Tapi berapa banyak yang hidup sehat karena katering ini. Itu juga keuntungan kan? Jadi, ini lebih ke campaign sih,” tegasnya.
Semakin banyak yang buka katering sehat, Shandra juga semakin senang. Sebab, berarti kampanyenya berhasil. Dirinya memang getol menggaungkan healty food is not a diet, it’s a lifestyle. (puz/c17/nda).
Sumber: Jawa Pos. 21 April 2014.Hal.8

