Oleh Jalal, Zainal Abidin (Pendiri dan Komisaris, Pendiri dan Direktur Utama Perusahaan Sosial Wisesa)

Diantara pemikiran raksasa bisnis sosial, Bill Drayton salah satu yang menonjol. Ia pendiri Ashoka, organisasi yang paling memperkenalkan ide bisnis sosial. Bisa disejajarkan dengan Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank.

Drayton pernah menyatakan, pebisnis sosial tak akan berhenti sekadar memberikan atau mengajari mengail. Melainkan berusaha sampai seluruh industri perikanan berubah. Ini melanjutkan diskusi pemberdayaan masyarakat terkenal dengan pernyataan jangan berikan ikan, tapi berikan pancing.

Perumpamaan pemberdayaan masyarakat yang kami kutip terakhir itu dahulu mungkin dipandang cukup. Bila kita memberi “ikan”, tentu masyarakat bisa memenuhi kebutuhan masarakat isa memenuhi kebuthan mereka untuk sementara. Kalau kita berikan “kail”, masyarakat diharap bisa memenuhi kebutuhan dalam jangka panjang. Ada kebenaran dalam pernyataan itu.  Tapi bukan seluruh kebenaran.

Dalam puluhan tahun pemberdayaan masyarakat, kita tahu “ikan diberikan lewat donasi. Demikian pula “kail”. Tetapi apakah mereka yang diberi “kail” otomatis sejahtera? Tidak. Banyak kasus “kail” tak bermanfaat ketika mereka tak punya keterampilan memanfaatkan. Kita kerap menyaksikan alat produksi teronggok. Atau dijual.

Peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dibutuhkan dalam pemberdayaan masyarakat. Masyarakat sangat terbantu bila bisa memanfaatkan alat produksi dengan teknik tepat.

Bayangkan sekelompok kecil nelayan yang memiliki kail serta perahu, plus keterampilan memancing berhadapan dengan pengusaha perikanan besar, dengan armada bertonase raksasa dan alat tangkap mengabil semua ikan di tempat-tempat nelayan itu. Apakah nelayan menjadi sejahtera? Tidak.

Menyadari persoalan ini, pemberdayaan masyarakat harus melakukan tindakan lebih jauh. Advokasi dan penegakan kebijakan perlidungan atas kelompok-kelompok rentan (vulnerable groups) harus dilakukan. Mereka tak bisa dibiarkan berbenturan dengan kekuatan besar. Upaya menjinakkan kekuatan besar perlu dilakukan. Lebih jauh lagi ide-ide seperti creating shared value serta inclusive business yang membuat hubungan masyarakat dengan perusahaan besar harus semakin dominan.

Transformasi membuat bisnis menjadi menguntungkan masyarakat menurut Drayton seluruh perusahaan di dunia perlu diubah agar membawa dampak positif, peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Di Indonesia, perusahaan komersial memikirkan cara mendukung bisnis sosial. Beberapa pekan lalu kami melihat kerjasama PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP), perusahaan migas Thailand, dengan Dompet Dhuafa menginisisasi bisnis sosial di Sulawesi Barat.

DBS, bank asal Singapura, menggandeng National University of Singapore, malah bertahun-tahun menduung lebih dari 100 bisnis sosial di seluruh Asia, termasuk Indonesia. Semakin banyak perusahaan komersial melakukan apa yang mereka lakukan, dalam waktu dekat kita bisa menyaksikan tranformasi “industri perikanan” seperti cita-cita Drayton.

 

Sumber: Kontan.22-Februari-2018.Hal_.15