Pandemi merombak banyak fashion. Pakaian ditarik kembali ke fungsi awalnya. Yakni, memberikan perlindungan untuk tubuh. Tentu saja dengan sentuhan artistik yang membuat si pemakai tetap terlihat stylish sekaligus nyaman.
KINI, berpakaian untuk aktivitas di luar rumah membutuhkan pertimbangan ekstra. Pakaian harus nyaman, memberikan proteksi, dan tidak sulit dibersihkan atau dicuci. Hal itulah yang membuat tren busana pada 2020-2021 cukup kontras dari tahun sebelumnya. Yoanita Tahalele BA MA menilai, selama lebih dari setahun pandemi, ada perbedaan antara fashion pada awal pandemi dan tahun ini. “Di awal pandemi tahun lalu, koleksi loungewear jadi favorit. Tahun 2021, karena mulai new normal dan boleh beraktivitas di luar rumah, variannya lebih berkembang” papar Ita, sapaan Yoanita Tahun lalu, sweatshirt dan pakaian berbahan katun yang berpotongan nyaman. naik daun. Saat ini tren bergeser ke pakaian dengan desain fungsional dan mengutamakan kemudahan pemakaian.
“Terutama outer. Karena lebih praktis untuk dipakai – saat keluar rumah. Tinggal dipakai bareng pakaian rumah,” lanjutnya. Dosen Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra. Surabaya, itu menambahkan, kebiasaan mencuci pakaian setelah berkegiatan di luar rumah pun memengaruhi pilihan material. “Di Fashionology: Survivance pekan lalu, ada dua bahan yang banyak di-highlight. Yakni, denim dan kain antlair,” lanjut Ita. Dua material tersebut mudah dibersihkan, plus tangguh, meski dicuci pakai berkali-kali. Untuk kain dengan lapisan antiair, cukup diseka atau disemprot dengan larutan disinfektan.
Secara desain, menurut dia, potongan longgar atau oversized akan lebih banyak muncul. Pakaian fitted -kecuali untuk berolahraga dinilai kurang praktis di masa pandemi. “Kalau loose, lebih mudah dicopot pasang dan nyaman dipakai ungkap Ita, yang menjadi koordinator graduation show Fashionology Survivance itu
Ita menilai, tren tersebut bakal bertahan hingga tahun depan.” opefully, riset dan pengembangan material yang lebih nyaman dan fleksibel juga lebih baik. Jadi, pilihan kain lebih beragam, lanjutnya. Dia menyatakan, sejauh ini, ada beberapa perusahaan tekstil yang menawarkan opsi kain antibakteri. Namun, jumlah produksinya belum masif. (fam/c12/len)
CELINE WINANDA
Warna-warna dingin dan potongan uniseks menjadi ciri khas di desain PROTEGE. Meski merupakan protective wear, rancangan tidak melupakan kepraktisan. Atasan maupun bawahan didesain lebih longgar sehingga mudah dilepas pakai. Koleksi pun tak monoton karena sentuhan printed denim. Material tersebut dipilih karena kuat, tak mudah kotor, tetapi tetap stylish. Range warna denim pun mudah dipadukan dengan palet monokrom yang dipilih Celine.
AURELLIA GRACIA ROSALYN
Di masa pandemi, konsep office wear banyak berubah. Aurellia menawarkan desain chic yang luwes sehingga bisa digunakan untuk bekerja di rumah maupun kantor. Rancangan pakaian tetap menam pilkan siluet ramping penggunanya. Untuk pemilihan warna, desain Aurellia terinspirasi banyak warna alam, terutama earthy tones.
LAVENIA ERIADY
Gaya hidup perempuan urban dan tren Autumn Winter 2021-2022 menjadi inspirasi koleksi Nu. Desain mengadopsi alat pelindung diri (APD) dan architectural line yang tegas. Lavenia memadukan warna warna netral dengan merah dan biru menyala untuk menampilkan mood santai, tetapi tetap penuh semangat. Pakaian tersebut juga dirancang multifungsi. Selain sebagai pelindung, koleksi tersebut bisa digunakan untuk sports wear yang praktis lantaran bisa dilipat dan disimpan dalam pouch.
ANGELA LAURENCIA
Angela merancang pakaian sehari-hari dengan proteksi ekstra. Material yang dipilih merupakan kain dengan lapisan antiair. Pilihan bahan tersebut menjadikan pakaian relatif lebih ringan dan mudah dibersihkan. Untuk melengkapi look, ada masker bermotif houndstooth yang senada dengan aksen di pakaian.
Unsur Khas Lokal Jadi Daya Tarik buat Pasar Global
SURABAYA, Jawa Pos-Produk fashion lokal Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Kualitas produk-produk tanah air kini semakin positif diterima di pasar domestik dan bahkan pasar global. Produk fashion usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Jawa Timur juga tak ketinggalan unjuk gigi di market internasional.
Podcast episode 7 Lokal Keren Jatim BRI kemarin (21/8) menghadirkan founder Al Warits Batik Aromatherapy Warisatul Hasanah serta content creator & entrepreneur asal Surabaya Clarissa Ivena. Keduanya berbagi pengalaman dan liku-liku berkecimpung di fashion lokal. Produk Aromaterapi Batik Al Warits
asal Bangkalan itu sudah menjelajah Amerika, Australia, Korea, dan banyak lagi. Warisatul menyebutkan, tak sedikit wisatawan mancanegara yang datang langsung ke Bangkalan untuk mencari tahu sendiri tentang batik aromaterapi itu. “Yang pernah datang dari Belanda, Malaysia, Singapura, sengaja mampir karena penasaran katanya,” ujarnya.
Warisatul menjelaskan, ide untuk membuat batikberaromaterapi tersebut muncul karena dia ingin batik yang dipasarkan benar-benar membawa nuansa Indonesia. Selain mempunyai motif visual khas Indonesia, saat batik dibuka, batik aromaterapi itu menyerbak aroma-aroma rempah dan bunga- bungaan. “Sehingga unsur khas lokalnya sangat terasa. Dan itu terbukti banyak yang suka, termasuk orang-orang luar negeri,” bebernya.
Kualitas dan kebolehan lokal dalam meracik produk fashion diakui Clarissa. Sepanjang perjalanannya menggeluti dunia fashion sejak kuliah, Clarissa yang juga fashion blogger itu me-review banyak produk fashion dan brand luar negeri maupun lokal. Menurut Clarissa, kualitas brand lokal semakin baik. “Kualitas jahitan dan bahan produk lokal itu nggak kalah dengan brand luar negeri,” ujar Clarissa.
Sejalan dengan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, Clarissa mengapresiasi pesatnya perkem bangan jumlah brand-brand lokal yang muncul meski di tengah kondisi pandemi. “Intinya, jangan takut untuk memulai usaha. Terus update desain yang lagi in dan maksimalin media sosial untuk mengenalkan produk kita,” pungkasnya. (agf/c12/nor)
Sumber: Jawa Pos. 22 Agustus 2021. Hal. 20

