Tak Percaya Desain Karyanya Tembus Pasar Eropa
Hobi menggambar sejak kecil mengantar Tan Angelina Savura Tanurajaya ke dunia art Fahion. Di usianya yang masih belia, karyanya mampu menembus fashion show di negara-negara benua biru.
Siang itu, lebih dari seratus lembar kertas berukuran A4 berserakan di kamar Tan Angelia Savira Tanurajaya. Kertas-kertas tersebut berisi goresan-goresan pensil yang membentuk gambar busana perempuan. Siapa pun yang melihat pasti langsung “ngeh” bahwa sang pemilik kamar punya hobi mendesain baju.
“kalau sudah menggambar, pikiran langsung berfokus ke itu saja. Pikiran yang nggak fokus malah bisa memengaruhi hasil gambar,” kata perempuan yang akrab disapa Vira tersebut.
Setiap kali menggambar, Vira mengaku bisa membuat kamarnya seperti kapal pecah. Tapi, kamarnya kembali rapi dengan cepat setelah dia menuntaskan gambarnya. “ide itu datang kapam saja. Kalau ada ide, langsung saya gambar,” jelas mahasiswa Jurusan Design and Business Universitas Ciputra itu.
Vira selalu mengawali gambar desainnya dalam bentuk sketsa. Setelah jadi, dia membubuhkan warna dengan pensil warna.
BAJU KARYANYA BELUM KEMBALI KE INDONESIA
Salah satu ciri khas gambar perempuan 22 tahun itu adalah model bergerak. “Gambar modelnya seperti beraktivitas, terlihat lebih hidup,” ujarnya.
Untuk urusan menggambar desain baju, Vira juga termasuk orang yang perfeksionis. Ekspresi wajah model dalam gambarnya harus sesuai dengan desain baju yang dikenakan. Berkat “kekhususannya” itu pula, ada satu desain baju yang akhirnya masuk pasaran Eropa. Keliling dari Jerman, Perancis, sampai Milan (Italia).
“senang banget karya saya bisa dipakai model-model internasional,” katanya. “pergelaran itu berlangsung mulai September 2015 sampai awal Januari 2016,” ungkap Vira.
Tapi, siapa sangka, prestasi menembus pasar Eropa tersebut berawal dari sebuah keisengan. Akhir Desember 2014, Vira melihat pengumuman tentang Frankrut Style Award 2015. Sebuah ajang pergelaran karya desain khusus pelajar internasional. “saya langsung tertarik. Ini kesempatan emas,” ujarnya.
Setelah mendaftar melalui website resmi, Vira mendesain baju sesuai dengan tema yang ditentukan panitia. Diantara tiga tema yang ditentukan, Vira memilih blue is still. “ada makna yang terkandung dari tema itu,” jelas perempuan kelahiran Semarang, 30 Januari 1994, tersebut.
Blue is still, lanjut dia, memiliki arti sebuah revolusi teknologi. Biru diibaratkan sebagai manusia. “Meski teknologi terus berkembang, kinerja manusia masih punya peran penting,” ungkap perempuan yang mengidolakan desainer asal Inggris, Alexander Mcqueen, tersebut. Konsep itulah yang dikembangkan Vira dalam karyanya.
Setelah mendapatkan konsep, Vira mengombinasikan bahan kain denim, katun, dan silk. Karya itu ternyata menarik perhatian panitia Frakfurt Style Award. Di antara 280 pendaftar dari seluruh dunia, terpilih 50 desainer terbaik dan Vira masuk di dalamnya dia juga menjadi satu-satunya desainer dari Indonesia yang terpilih.
Karya 50 desainer tersebut dipamerkan dalam ajang internasional di Frankfurt Style Award. Vira juga diundang dalam gala dinner yang dilaksanakan september 2015. “itu kali pertama karya saya masuk dunia internasional,” kata anak bungsu pasangan Markus Tanuwijaya dan Indrawati itu.
Kali pertama menginjakkan kaki di Frankfurt, Vira mengaku serasa bermimpi. Dia bertemu dengan desainer-desainer papan atas dari berbagai belahan dunia. Awalnya minder, namun akhirnya Vira merasa mendapat pelajaran banyak tentang dunia fashion.
Setelah mengikuti gala premiere di Frankfurt, karya Vira mulai melanglang buana ke beberapa negara Eropa dalam ajang fashion internasional. “Tapi, saya tidak lagi datang ke acara itu. Pantau-pantau lewat telepon saja,” katanya.
Vira memang merasa sangat beruntung bisa masuk 50 desainer terbaik Frankfurt Style Award dan karyanya keliling Eropa. Hanya satu hal yang dia agak kecewa, yakni gagal mendapat hadiah utama beasiswa sekolah fashion yang diberikan desainer ternama Perancis Oliver Rousteing. “padahal, salah satu motivasi saya ikut Frankfrut Style Award ya untuk mengejar beasiswa sekolah itu,” katanya.
Untung, Vira mendapat obat kekecewaan itu. Busana karyanya berhasil keliling Eropa dan menembus berbagai ajang pameran internasional. “sampai sekarang, baju karya saya itu belum kembali ke Indonesia. Katanya masih proses kirim balik,” ungkapnya.
Vira mengatakan ingin terus berkarya dalam dunia fashion. Dalam waktu dekat, perempuan yang hobi menggambar sejak SD tersebut berencana membuat web yang berisi karya-karyanya. “pokoknya, masih banyak yang ingin saya kejar di dunia fashion design,” ungkap Vira.
Sumber : Jawa Pos. 13 Januari 2016.

