Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat membuat para pelaku usaha makanan dan minuman (FnB) waswas. Sebab, kebijakan tersebut berdampak terhadap penjualan.

Salah satunya diungkapkan CEO Resto Poenya Nyonya Anina (PNA) Alesha Firmawan. Sesuai dengan anjuran pemerintah, dia hanya melayani takeaway dan pemesanan secara online. Untuk jam buka, hanya sampai pukul 20.00. Dia menyatakan, penjualan produknya turun jika dibandingkan dengan sebelum PPKM darurat.

Sebelum PPKM darurat, lanjut Alesha, pihaknya memutuskan untuk close for dine in. Resto hanya melayani takeaway serta online order. “Itu per 1 Juli. Karena situasi sudah semakin tidak kondusif dan berbahaya juga untuk saya dan keluarga,” terangnya.

Alumnus Universitas Ciputra itu menyebutkan, beban terberat resto adalah pegawai, bayar cicilan, dan uang sewa. Namun, menurut dia, hal itu tidak sebanding dengan nyawa dan keselamatan keluarga PNA serta customer. “Kami rasa keputusan ini (PPKM darurat, Red) adalah kebijakan terbaik,” imbuh Alesha.

Bukan hanya pelaku usaha di bidang FnB, pelaku industri bidang wedding plus FnB juga merasakan dampak dari PPKM darurat. Koordinator Wedding Venue Barn Event Hire Pepe menuturkan, ada tiga klien yang memutuskan menunda pemikahan. Sebab, tanggal pernikahan ada pada masa PPKM darurat. “Kami menyosialisasikan PPKM darurat ini ke klien. Kebetulan, klien memahami dan untuk kebaikan bersama ya,” katanya. (sam/c12/ady)

Sumber:  Jawa Pos. 5 Juli 2021.Hal.15.