Implementasi teknologi selalu menciptakan efisiensi karena itu muncul tudingan, teknologi akan membuat pengangguran menjadilebih tinggi. Benarkah?

SEBAGAI ORANG yang bergerak di bidang TI, saya sering sekali mendengar ucapan TI adalah penyebab angka pengagguran tinggi. Alasannya karena dengan menggunakan TI banyak sekali pekerjaan yang dipangkas.

Hal ini memang terjadi di beberapa custormer saya. Sebelumnya, mereka memerlukan 5 orang untuk mengelola sitem penggajian (payroll). Namun setelah melakukan implmentasi payroll software, maka hanya diperlukan 3 orang saja. Artinya perusahaan tersebut telah berhemat 2 orang, yang jika dikaitkan dengan gaji UMR, penghematan yang dilakukan perusahaan tersebut menjadi lumayan.

Selain mengurangi biaya tenaga kerja, payroll software juga sangat mengurangi biaya proses. Contohnya saat sebelum menggunakan system, slip gaji masih dicetak kemudian dibagikan. Setelah melakukan implementasi payroll software, slip gaji tidak dicetak lagi, tetapi dikirim lewat email. Jadi ada penghematan di biaya cetak slip gaji dan biaya pengiriman.

Sekilas, TI memang meningkatkan efisiensi sekaligus “menciptakan” pengangguran. Namun benarkah anggapan tersebut?

Mendorong Persaingan

Revolusi industri pertama ditandai dengan munculnya msin uap pada awal abad ke 19. Saat itu di Inggris banyak indsutri tekstil yang dibuat menggunakan tenaga manusia. Pada saat perusahaan beralih menggunakan mesin uap untuk mesin tennunya, produktifitas langsung menigkat dan harga kain turun drastis.

Akibatnya perusahaantekstil yang masih menggunakan tenaga manusia banyak yang tutup dan tidak dapat bersaing lagi. Pengagguran di Inggris meningkat pesat saat itu. Sempat terjadi pengerusakan terhadap pabrik pabrik tekstil yang menggunakan mesin, akerena mereka piker pabrik tekstil yang menuggunakan mesin uap adalah penyebab keluarga para butuh mengalami kesulitan ekonomi.

Revolusi industri kedua juga memiliki dampak yang mirip, meski dari segi lapangan tidak sebesar revolusi industri pertama. Revolusi industri kedua ditandai dengan ditemukannya motor listrik. Perusahaan mobil Ford, yang pada saat itu masih dipimpin oleh Henry Ford, mempunya cita-ita bagaimana agar mobil buatannya dapat di jual ke petani dan rakyat banyak.

Henry Ford pun menuggunakan time motion study yang baru digagas oleh Taylor. Terinspirasi dari studi tersebut, Ford mengubah proses pembuatan mobilnya dengan menggunakan ban berjalan. Mobil Ford mengeluarkan Model Y yang sangat terkena dengan sebutan “You can by any color but black”. Pada saat itu harga movil sekitar $2,500, namun  Ford dapat menjual mobil dengan harga $850. Semakin lama turun harga mobil Ford, sehingga akhirnya Ford menguasai pasar mobil di Amerika pada saat itu.

Revolusi industri ketiga dengan masuknya komputer, dan mengubah industri menuju automation. Jumlah karyawan di perusahaan berkurang dan biaya produksi turun drastis dengan adanya microprosesor yang digunakan didalam industri.

Dan sekarang kita memasuki era revolusi keempat yang sering disebut sebagai industri 4.0. Era ini ditandai dengan proses industri yang menggunakan internet of things (IoT), ketika sensor dipasang di mesin-mesin, sehingga mesin bekerja sendiri ranpa campur tangan manusia. Proses dengan menggunakan Iot akan menghemat biaya yang cukup besar sehingg biaya produksi akan turun drastis.

Penggunaan Teknologi Akan meningkatkan Pengangguran

Jika menelusuri sejak revolusi industri pertama, munculnya teknologi akan meningkatkan jumlah pengangguran, karena teknologi dapat mengerjakan suatu perkerjaan dengan seditki orang dan produktivitas yang tinggi. Hal ini juga terlihat pada industri movil, karena pada saat Ford menerapkan ban berjalan, mereka dapat menjual mobil dengan harga jauh di bawah rata-rata.

Namun jangan dilupakan efek setelah itu. Dengan harga mobil yang terjangkau kelas menengah, pengguna mobil pada saat itu naik dengan cepat, kenaikan jumlahpengedara mobil menyebabkan timbulnya pekerjaan baru, sepertitambal ban, pompa bensin, bengkel mobil semua pekerjaan baru ini membutuhkan banyak tenaga kerja baru.

Dalam konteks yang mirip, perkembangan TI juga menggeser banyak pekerjaan. Tetapi pertumbuhan TI yang cukup pesat sekarang ini juga memunculkan lapangan pekerjaan baru, seperti conten  writer, multimedia developer, SEO expert, Social Media Specialist, dan banyak pekerjaan lain yang lima tahun lalu tidak ada. Sekarang ini banyak jabatan yang saya tidak tahu pekerjaannya apa, sehingga saya haus bertanya secara sepesifik apa yang dia kerjakan.

“Perkembangan teknologi akan menghilakan beberaoa pekerjaan, tetapi akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada”

Kesimpulan

Perkembangan teknologi akan menghilangkan beberapa pekerjaan, tetapi akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada.

Jadi kalau dikatakan penggunakan teknologi akan meningkatkan angka pengangguran memang besar akan terjadi, tetapi di sisi lain, perkembangan teknologi akan membuka peluang baru dengan nilai yang lebih baik tentunya.

Seandainya suatu perusahaan tidak mengadopsi teknologi, maka yang terjadi adalah perusahaan tersebut tidak dapat bersaing dengan perusahaan yang telah mengadopsi teknologi. Perusahaan yang mengadopsi teknologi seharusnya mengakibatkan penurunan biaya produksi dan kenaikan jumlah produksi.

Fenomena ini kita bisa lihat di toko online seperti Amazon, yang setiap harinya melayani ribuan order dari pelanggan dengan menggunakan teknologi. Sekarang omzet Amazon mengalahkan Walmart untuk periode akhir tahun. Alibaba, toko online di Cina yang didirikan oleh Jack Ma, dapat mencapai US$ 24 milyar dalam satu hari. Suatu pencapaian nilai penjualan yang sangat fantastis, yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh toko sekalipun.

Sumber: InfoKomputer.Februari-2018.Hal_.84-85