Telaten Beri Variasi, Buat Suasana Makan yang Menyenangkan
28 Januari 2024. Hal. 20
Memang challenging ketika anak lagi gerakan tutup mulut (GTM), tapi umumnya itu hanya sementara. Sedangkan perilaku picky eating atau pilih-pilih makanan konsisten terjadi tiap anak makan. Bagaimana mengatasinya?
PERILAKU picky eating sebetulnya masih termasuk fase normal dalam perkembangan seorang anak. Meski pilih-pilih makanan, anak tetap bisa mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur, buah, dan susu. Berbeda dengan selective eater yang menolak segala jenis makanan dalam kelompok makanan tertentu.
“Jadi, misalnya menolak makan nasi, anak picky eater masih mau makan roti atau mi. Atau, menolak makan brokoli, tapi dia masih makan wortel dan tauge,” jelas Maria MPsi Psikolog CPDPE CPDCE.
Anak-anak picky eater biasanya pilih-pilih makanan karena kurang suka dengan tekstur, warna, atau rasa makanannya. Ketidaksukaan itu bisa dipengaruhi kondisi sensitif di area sensorinya. Itu kenapa anak dengan masalah tumbuh kembang seperti sensory processing problem umumnya juga mengalami kondisi picky eating.
“Ada juga yang menolak memakan makanan tertentu karena faktor psikologis, yakni pengalaman makan, suasana makan, hingga siapa yang memberikan makanannya,” lanjur psikolog klinis anak dan remaja Caterpillar Children Clinic Surabaya itu.
Beberapa penelitian menunjukkan tidak sedikit anak yang jadi picky eater karena proses pemberian makannya kurang tepat atau inappropriate feeding pratice di masa awal anak belajar makan.
Karena itu, langkah paling efektif mencegah anak jadi picky eater adalah menerapkan praktik pemberian makan yang tepat sejak dini. “Usia 6 sampai 18 bulan adalah usia krusial dalam mengenalkan dan mengajari anak tentang perilaku serta proses makan yang sehat juga menyenangkan. Ortu juga mesti telaten memberikan variasi makanan buat anak,” sebut Maria.
Kondisi picky eater yang tidak mendapatkan penanganan tepat bisa berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan anak. Di antaranya, berat dan tinggi badan kurang, stunting, sembelit, hingga ketergantungan terhadap suplemen atau makanan pengganti. Di sisi lain, timbul masalah perilaku seperti menjerit atau menangis berlebihan ketika diminta untuk mencoba memakan makanan yang tidak disukai.
“Contoh, anak hanya mau makan mi sebagai karbohidrat. Dia akhirnya mengalami kecemasan tiap ada acara makan bersama di sekolahnya karena harus makan nasi,” imbuh positive parenting expert itu.
Kondisi picky eater akan membaik jika pengalaman positif anak tentang makanan yang dihindari juga membaik. Hal tersebut bisa diupayakan di rumah maupun dengan terapi. Salah satunya, gunakan kalimat positif selama makan. “Misal, ‘ayamnya mau disuap pakai sendok atau garpu?’ jangan katakan, ‘kalau ayamnya nggak habis, nanti nggak boleh makan jelly’, alhasil suasana makan penuh tekanan,” tandasnya. (lai/c7/nor)
sumber: Jawa Pos

