SURABAYA – Televisi kerap kali dipilih orang tua sebagai babysitter untuk anaknya. Biar anak tidak rewel. Cara tersebut tidak dianjurkan. Sebab, banyak risiko negatif bagi tumbuh kembang anak.

Spesialis kesehatan jiwa RSUD dr Soetomo dr Yunias Setiawati SpKJ (K) mengungkapkan, dirinya pernah meiliki pasien yang kecanduan televisi. Pasien tersebut berusia 4 tahun. “Diantar ke poli karena keluhan pendiam, belum bisa berbicara, dan kalau keinginan tidak dituruti akan marah,” cerita Yunias. Marahnya si anak pun luar biasa. Dia akan berguling-guling. Akhirnya orang tua menuruti keinginan buah hatinya.

Pada bocah itu, dilakukan observasi. Tim medis berkunjung ke rumah keluarga tersebut. Data yang didapat, pasien selalu ditemani televisi. Orang tua memberikan VCD. “Saat mendaftar PAUD, baru ketahuan ada gangguan,” katanya.

Dia menjelaskan, menonton televisi atau bermain video game dalam waktu lama akan memicu gangguan otak. Terutama, mereka yang melakukannya setiap hari lebih dari dua jam. Otak yang rusak adalah bagian prefrontal. Bagian tersebut berfungsi untuk berpikir logis. Akibatnya, anak akan menjadi agresif. Mereka tidak bisa mengontrol emosinya.

Bagi anak-anak yang berusia kurang dari 3 tahun (batita, bawah tiga tahun), Yunias tidak menyarankan untuk menonton televisi. Sebab, pada usia tersebut, stimulasi motorik lebih diperlukan.

Dari sisi psikologis, anak batita belum bisa membedakan mana fantasi dan kenyataan. “Pokoknya, informasi yang didapat akan ditiru,” beber alumnus FK Unair tersebut.

Hal itu disetujui spesialis anak RSK St Vincentius a Paulo (RKZ) dr Irma Lestari Paramastuty SpA Mbiomed. Otak anak batita diibaratkan spons. Dia akan menyerap semua informasi. “Sehingga akan menjadi kebiasaan yang dibawa sampai dewasa,” kata Irma.

Anak tidak bisa membedakan mana tayangan yang bagus untuk dilihatnya. Karena itu, setiap anak menonton televisi, harus ada pendampingan orang tua. Mereka yang akan menyaring tontonan yang tepat untuk si mungil. “Nah, durasinya paling tidak 2 jam, lalu istirahat,” sarannya.

Kondisi itu, menurut dokter Achmad Yuniari Heryana SpA, juga rawan membuat jam tidur anak terganggu. Apalagi, otak anak lebih tertarik pada warna-warna yang bergerak dengan cepat. Itu mengakibatkan anak tertarik untuk menonton televisi. Padahal, tidur bagi anak bukan sekedar beristirahat. Tidur juga berguna untuk perkembangan sistem saraf pusatnya.

Mata, menurut spesialis anak National Hospital itu, akan lelah kalau terlalu sering melihat televisi. Mata lelah tersebut, jika dibiarkan akan mengakibatkan rabun dekat atau jauh.

Dokter yang akrab disapa Boy itu juga risau dengan periode perkembangan bahasa. Apalagi, bahasa pengantar tontonan berbeda dengan bahasa sehari-hari. Anak akan mengalami kebingungan bahasa. Bahkan, terlambat bicara.

 

UC Lib-Collect

Jawa Pos.20 Mei 2016

Televisipun Picu Kecanduan. Jawa Pos.20 Mei 2016. Hal.40