Temani Anak Mengenali Tubuhnya. Kompas. 3 April 2017. Hal.14

Kanak-kanak merupakan masa anak mengeksplorasi apa pun di sekitar, termasuk tubuhnya. Rasa inngin tahu dan keinginan mereka meniru besar. Pada tahap ini, anak-anak kerap menunjukkan prilaku seksual atau pertanyaan seksualitas yang bisa membuat orangtua terkejut, bingung jawabnya, bahkan marah.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Memegang, menggaruk, menggesek, atau memperlihatkan alat kelaminnya merupakan sejumlah perilaku seksual yang biasa dilakukan anak usia prasekolah atau berusia 4-6 tahun. Pada tahap ini, anak berada fase gential. Mereka mulai tertarik mengamati organ seksual miliknya dan membandingkannya dengan milik orang lain.

“Perilaku itu biasa dilakukan anak-anak prasekolah zaman dulu,” kata Wali Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Budi Wahyuni, Sabtu (1/4), di Jakarta.

Banyak orangtua dan orang dewasa menuduh perilaku anak itu akibat paparan media dan perubahan lingkungan pergaulan, karena pada masa lalu perilaku memainkan alat kelamin itu tidak ada. Media dan lingkungan memang bisa membuat anak terpapar soal seksualitas lebih dini, tetapi banyak orangtua tak ingat perilaku mereka di usia prasekolah.

Pada tahap kanak-kanak, anak berada pada tahap perkembangan identitas diri. Keingintahuan besar mendorong anak mengajukan pertanyaan seputar seksualitas, seperti membandingkan organ seksualnya dengan milik teman, saudara, ibu, dan ayahnya

Reaksi pertama

 Meski perilaku memainkan alat kelamin biasa dilakukan anak usia prasekolah, tak berarti perilaku itu wajar. Orangtua perlu mengingatkan anak bahwa tindakanitu berisiko. Anak juga bis mulai diperkenalkandengan norma social, hal baik, dan salah, seperti konsep malu, pentingnya memakai baju, hingga tak boleh menyentuh alat kelamindi tempat umum.

Psikologo anak dan keluarga di Klinik Terpadu Faakultas Psikoogi Universitas Indonesia Anna Surti Ariani menambahkan, anak prasekolah umumnya belum mengenal ketertarikan fisik atau seksual dengan orang lain. Jadi perilaku seksual mereka berbeda dengan remaja atau dewasa. Ketertarikan itu muncul setelah anak memasuki masa pebertas.

Saat menyaksikan anak memainkan alat kelaminnya, baik memegang, menggaruk, atau menggesekkannya, reaksi pertama orangtua jadi hal utama karena memengaruhi kepribadian anak ke depan. Reaksi itu kadang lebih bermakna dibandingkan apa yang orangtua katakana menangggapi perilaku anak.

“Orangtua tak perlu bersikap kaget berlebihan, apalagi marah. Resons orangtua seperti itu justru bisa membuat anak bingung, malu, merasa buruk, dan bersalah sehingga menurunkan percaya diri mereka,” katanya.

Orangtua sebaiknya menunjukkan reaksi wajar, memahami apa yang terjadi pada anak, lalu mengajaknya berdialog. Diskusi itu sebaiknya tidak di depan umum atau teman anak karena mempermalukan mereka. Pembicaraan harus dalam suasana nyaman adar anak berani bercerita jujur tanpa terintimidasi.

Dalam diskusi itu, orangtua bisa menanyakan sejak kappa atau berapa sering anak memainkan alat kelaminnya dan alasannya. Jika anak baru pertama melakukannya karena pensaran, orangtua perlu menjelaskan risiko tindakannya itu, seperti bisa melukai kelaminnya, memicu infeksi karena tangannya kotor, hingga mengatakan tindakan itu tak perlu.

Namun jika anak kerap melakukannya, orangtua perlu waspada tanpa membuat anak takut atau dicurigai. Orangtua perlu menelisi dari mana anak tahu perilaku itu karena biasanya itu dikenali anak dari orang lain, pernah menonton, atau pernaha diperlakukan tak tepat oleh orang lain disekitarnya. “Saat diskusi itu, orangtua perlu menyampaikanperilaku buah hatinya tak tepat. Itu tak berarti sang anak salah,” ucap Anna.

Di sisi lain, orangtua harus intropeksi. Banyak orangtua atau orang dewasa tidak sadar mengenalkan istilah atau perilaku seksual orang dewasa keapada anak, sepert menanyakan mata genit atau pacar anak prasekolah. Ada pula orangtua lupa menghapus situs dewasa yang dikunjung dari gawainya meski tahu anaknya bisa mengakses gawai itu.

Kecakapan sosial

Keterkejutan banyak orangtua atas perilaku seksual anaknya menunjukkan belum dipahami dan diajarkannya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada anak. Soal seksualitas masih tabu dan pantang dibicarakan, apalagi kepada anak. Belum lagi, istilah seksualitas kerap disalahartikan dengan seks sehingga kesehatan reproduksi kerap dimaknai mengajarkan hubungan seksual.

“Pendidikan kesehatan reproduksi itu kecakapan sosial yang dibutuhkan anak untuk memahami tubuhnya dan mencegah anak dari kejahatan seksual,” kata staf Program Anak dan Remaja PKBI Alam Setia Bakti.

Saat mengajarkan kesehatan reproduksi kepada anak, lanjut Budi, orangtua perlu memakai bahasa sederhana, konkret, dan tak berbohong. Penabuan dan kebingungan membahas soal seksualitas membuat orangtua kerap memakai istilah tertentu untuk menyamarkan menyebut nama alat kelamin, seperti burung, apem, dan donat.

Penyamaran itu membingungkan anak. Sebab, dalam perkembangan kognitif anak usia 4-6 tahun, mereka belum mampu berpikir abstrak. Mereka butuh penjelasan sederhana dan nyata. Kebiasaan menyamarkan istilah kelamin itu kerap jadi bahan olokan anak yang terbawa hingga mereka besar.

Anna menambahkan, pendidikan kesehatan reproduksi pada anak usia prasekolah harus memakai bahasa umum sesuai kemampuan berpikirnya. Penggunaan istilah biologi atau teknis perlu dihindari. Orangtua juga tak perlu menjelaskan sesuatu secara rinci, secukupnya sesuai pertanyaan anak karena anak belum paham hal detail.

“Jawaban seperlunya itu bukan untuk membatasi pertanyaan anak, tapi sesuai pertanyaan dan kebutuhan anak,” ujarnya. Itu juga untuk menghindarkan orangtua dari pertanyaan beruntun anak yang kerap membuat orangtua bingung menjawabnya. Kebingungan itu bisa membuat orangtua menjawab dengan bohong, marah, atau mematikan rasa ingin tahu anak dengan menjawab anak tak perlu menanyakan hal itu.

Peran orangtua dalam memberi kesehatan reproduksi secara benar kepada anak amat penting. Keengganan orangtua mempelajari dan memberi pendidikan kesehatan reproduksi akan membuat anak terjerumus dalam kekeliruan informasi yang didapat dari orang lain atau media tak terverifikasi kebenaran. Orangtua harus menjadi sumber utama anak untuk mengenali tubuhnya.

Pendidikan kesehatan reproduksi juga melindungi anak dari kejahatan seksual. Hanya dengan tahu kesehatan reproduksi yang benar, anak bisa berteriak atau melaporkan saat orang lain menyentuh kelaminnya. “Apalagi orangtua tak bisa menemani anak 24 jam penuh,” kata Alam.

Tips berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dengan anak :

  1. Dengarkan dengan cermat setiap pertanyaan anak.
  2. Jangan menghindari atau mengabaikan pertanyaan anak.
  3. Berikan jaawaban jujur, jangan sembarangan menjawab.
  4. Beri jawaban hanya sesuai pertanyaan anak.
  5. Jelaskan secara sederhana dan singkat, sesuai umur, kebutuhan, dan Bahasa anak-anak.
  6. Gunakan nada bicara yang wajar, jangan tertekan saat menjawab.
  7. Pembelajaran secara terus-menerus, sesuai perkembangan anak dengan beragam metode.
  8. Dialog dalam suasana santai, tidak di depan umum.
  9. Hargai apapun pendapat dan perntanyaan anak.

 Pencegahan pelecehan seksual:

  1. Berikan pemahaman tubuh mereka adalah milik mereka harus dirawat dan dijaga dari orang yang tak bertanggung jawab.
  2. Jelaskna bagian tubuh yang berdifat pribadi, seperti payudara, vagina, penis, anus ,pantat, dan paha, tidak boleh sembarang orang lain boleh menyentuh, apalagi memegangnya.
  3. Orang tertentu boleh menyentuh, tapi dengan alasan yang tepat, seperti:
  • Ibu, ayah atau pengasuh boleh memegang anus untuk membersihkannya setelah buang air besar.
  • Dokter untuk memeriksa tubuh yang sakit dengan didamoingi orangtua.

Jika disentuh orang lain dengan alasan tidak tepat, ajarkan anak berkata “Tidak”.

  1. Kenalkan sentuhan aman dan tidak aman bagi anak.
  • Sentuhan aman: membuat anak merasa nyaman, tidak terancam, seperti bersalaman, pegangan tangan, atau tepuk bahu.
  • Sentuhan tidak aman: sentuhan berkali-kali pada bagian tubuh tertentu dan mngarah pada anggota tubuh yang bersifat pribadi.

 Jika anak meras tidak nyaman dan terancam dengan sentuhan, ajarkan untuk:

  1. Berkata “TIdak” atau menolak dengan nada bicara wajar.

Anak bisa mengatakan secara wajar, “Aku tidak suka rambutku ditarik” atau “Aku tidak suka dadaku disentuh”.

  1. Berteriak

Apabila perkataan mereka bernada wajar tak dihiraukan pelaku (anak atau orang dewasa), anak bisa berteriak “Aku tidak mau”, “Jangan”, “Tidak boleh”

  1. Lari kea rah kerumunan orang banyak.

Jika berteriak juga tak menghentikan sentuhan pelaku, anak harus lari ke kerumunan orang banyak, bukan malah ke tempat sepi.

  1. Bercerita kepada orang dewasa.

Setelah mencapai kerumunan orang, anak bisa bercerita ke orang dewasa yang dia percaya.

 

Sumber : Kompas. 3 April 2017. Hal. 14