Tentang Fotografi yang Mengajari Kita. Kompas.13 Januari 2014.Hal.36

Tips & Catatan: Arbaik Rambey

Buku adalah jendela dunia. Itu kata bijak yang kita kenal sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Namun, kini kata bijak itu harus berbagi dengan fotografi karena kenyataannya fotografi jauh lebih membuka dunia. Orang masa kini pada umumnya semakin senang memahami secara visual daripada secara verbal.

Pameran foto Jakarta International Photo Summit 2014 yang berlangsung 5-28 Desember 2014 di Galeri Nasional, Jakarta, sungguh membuktikan hal itu.  Pameran yang sudah berlangsung tiga kali ini (sebelumnya 2007 dan 2010) menampilkan karya 89 fotografer dari 12 negara dengan total foto sekitar 300 buah. Selain ada kurator utama, ada juga beberapa subkurator bagi esai-esai foto khas.

Kurator Rizki A Zaelani menuliskan pertanggungjawaban kuratorialnya dengan mengawali seperti ini: “Dunia kini terlihat menjadi transparan tiap-tiap orang, hal, atau kejadian kini berlaku jadi rekaman visual yang bisa dipertontonkan secara global dan disitu fotografi menjadi medan pemaknaan penting. Penilaian tentang fotorafi sebagai ekspresi seni atau ‘bukan’ tidaklah mengubah keadaan penting dan niscaya fotografi dalam denyut hidup kekinian (contemporaneity). Pengamatan tentang perkembangan fotografi kini (contemporary photography) menjadi kasus pemahaman penting bagi cara kita memahami gejala perkembangan seni rupa saat ini.

Perhatikan foto tentang dangdut pantura karya Arum tresnaningtyas Dayuputri. Esai foto karya mantan fotografer Kompas yang kini lebih banyak berkecimpung di dunia musik ini merekam realitas yang selama ini Cuma kita dengar samar-samar. Dangdut pantura, seronok, meriah, dan melibatkan anak kecil nyata di depan mata kita.

Selain itu, juga karya Cipto Aji Gunawan yang merekam vandalisme di dasar laut. Betapa manusia-manusia perusak tega mencoret-coret terumbu yang pembentukannya membutuhkan puluhan, bahkan ratusan tahun. Selain itu, Himanda Amarullah yang juga seorang pilot merekam beberapa sudit Kemayoran yang dulu merupakan bandara utama Indonesia. Di satu sudut, Himanda menemukan rongsokan pesawat terbang yang dipenuhi tanaman liar.

Fotografi yang berbau antropologi ditampilkan Oeta Christi yang merekam remaja-remaja Sorong, papua, saat memasuki usia 17 tahun. Sebuah rekaman sederha, tetapi sebenarnya menguak saat banyak hal yang bisa memberikan kita pemahaman lebih dalam pada kehidupan secara umum. Dan, masih di papua serta masih berbagi hal antropologis, Husni Oa merekam perta arwah yang sudah snagat langka di Asmat.

Dalam pameran foto ini, foto yang agak politis, seperti perlawanan terhadap reklamasi pantai di Bali, juga mengemuka. Beberapa foto yang tampil dihalaman ini memang diharapkan bisa menjelaskan alinea pertama tulisan ini.

Dalam kenyataan pameran, esai foto yang begitu dahsyat, seperti cerita tentang pengumpul kotoran burung di Peru karya Tomas Munila, atau ekspedisi Cincin Api dari harian Kompas, juga tampil mengagumkan.

Jakarta International photo Summit adalah pameran foto kelas internasional milik Indonesia yang diharapkan tetap berlangsung pada tahun-tahun mendatang. Lebih baik lagi, kalai selang waktunya bisa dipersingkat, misalnya dua tahun sekali.

Sumber: Kompas, 13 Januari 2015, hlmn 36