
Tubuh ibu dapat menolak janin yang dikandungnya.
Akibatnya, janin bisa kurang darah hingga keguguran.
Dari seluruh penduduk dunia, diperkirakan ada 15 persen yang memiliki rhesus negatif, kebanyakan pada ras Kaukasia (kulit putih). Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2010, jumlah pemilik rhesus negatif kurang dari 1 persen penduduk atau hanya sekitar 1,2 juga orang.
BERKALI-KALI mengandung, berkali-kali juga Yanti bukan nama sebenarnya mengalami keguguran. Dari empat kali mengandung, hanya anak pertamanya yang selamat. Tiga adiknya meninggal saat masih dalam kandungan. “Sewaktu datang ke kami beberapa tahun lalu sudah kehamilan kelima, “kata dokter spesialis kebidangan dan kandungan Gatot Abdurrazak, Kamis pekan lalu.
Awalnya, menurut Gatot, Yanti tak sadar penyebab kematian ketiga janin yang dikandungnya tersebut. Barulah pada kehamilannya yang kelima itu dia tahu ada masalah dalam darah. Hasil pemeriksaan laboraturium menunjukkan darah Yanti dan janinnya berbeda sehingga tubuhnya menyerang darah janin. “Rhesus ibunya negatif, sedangkan anaknya positif,” Gatot menjelaskan.
Perbedaan rhesus ini menyebabkan kehamilannya yang kelima tersebut juga terancam. Karena penolakan itu, anak yang dikandung Yanti menderita anemia dan pembekakan organ (hidrops fetalis). Untuk mengatasi masalah ini, tim dokter memberikan transfusi darah langsung ke janin sampai dua kali. Beruntung upaya ini berhasil. Janin bisa diselamatkan dan dilahirkan saar usia 32 pekan. “Bayinya sehat,” ucap Gatot.
Selain penggolongan darah berdasarkan sistem ABO (dengan pembagian golongan darah A, B, AB, dan O), darah dibagi berdasarkan rhesus, yakni protein (antigen) D yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Jika hasil tes darah seseorang menunjukkan adanya antigen D, ia termasuk memiliki rhesus positif. Sebaliknya, jika seseorang tidak mempunyai antigen D, ia termasuk memiliki rhesus negatif.
Mereka yang mempunyai rhesus negatif tak boleh menerima donor darah dari yang memiliki rhesus positif. Penyebabnya, sistem pertahanan tubuh orang yang mempunyai rhesus negatif akan menganggap darah yang masuk ke tubuh dengan rhesus positif itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Sama seperti ketika tubuh kemasukan virus atau bakteri. Tubuh akan membentuk antibodi untuk menyerang darah yang masuk tersebut.
Dari seluruh penduduk dunia, diperkirakan ada 15 persen yang memiliki rhesus negatif, kebanyakan pada ras Kaukasia (kulit putih). Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2010, jumlah penduduk atau hanya sekitar 1,2 juta orang.
Nah, perbedaan rhesus ini bisa terjadi antara ibu dan janinnya. Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rully Ayu Nirmatasari, perempuan yang mempunyai rhesus negatif bisa mengalami masalah saat hamil kalau anak yang dikandungnya memiliki rhesus positif. Ini lantaran ibu yang mempunyai rhesus negatif menikah dengan ayah yang memiliki rhesus positif. “Anaknya bisa mempunyai rhesus negatif atau positif,” ujarnya.
Kalau anak sama-sama mempunyau rhesus negatif, kata dia, tak akan ada masalah karena karakter darah janin tak berbeda dengan darah ibu. Namun, jika anak memiliki rhesus positif, darah ibu akan melacak adanya benda asing-protein yang terdapat pada darah anaknya tadi yang tak dipunyai oleh darah ibu. “Sehingga kemudian tubuh ibu akan membentuk antibodi,” katanya.
Pembentukan antibodi ini tak serta merasa saar hamil. Rully mengatakan harus ada kontak darah antara ibu dan janinnya dulu smapai darah ibu mengenali benda asing tersebut. Kontak darah ini bisa terjadi jika ibu mengalami pendarahan atau dilakukan tindakan yang menembus antara ibu dan janin, seperti pengambilan darah untuk mengetahui kromosom. “Kena 0,1 milimeter saja, darah keduanya bisa bersentukan,” ucapnya.
Selain itu, menurut dokter spesialis anak Setyadewi Lusyana, antibodi ibu akan terbentuk jika ibu sebnelumnya mendapatkan transfusi darah dengan rhesus positif. Akibatnya, tubuh membentuk antibodi lebih dulu sebelum kehamilan. Maka, saat hamil janin dengan rhesus positif, tubuh ibu sudah memiliki “pasukan” untuk menyerang benda asing yang ada dalam darah janin.
Lusy mengatakan banyak calon ibu tak paham dengan masalah perbedaan rhesus ini. Mereka biasanya baru datang setelah berkali-kali mengalami keguguran. Padahal, kata dia, masalah semacam ini bisa dicegah.
Efek perbedaan rhesus ini bermacam-macam. Salah satunya hidrops fetalis akibat prosese peradangan sehingga terjadi kebocoran cairan di pembuluh darah. Akibatnya cairan akan menumpuk pada organ tertentu. “Jika terjadi di paru-paru, janin bisa kesulitan bernapas,” ujarnya.
Karena perlawanan antibodi ibu, sel darah merah janin juga akan pecah sehingga mengakibatkan janin menjadi kuning akibat munculnya bilirubin yang tinggi. Ini biasanya terjadi pada trimester akhir kehamilan. “Setiap bayi akan mengalami bilirubin yang tinggi. Tapi, jika diakibatkan oleh perpecahan darah akibat antibodi ibu, bilirubinnya akan sangat tinggi dan lebih susah ditangani,” ucapnya.
Akibat perpecahan darah ini, menurut Lusy, bayu juga akan kekurangan darah. Efeknya, oksigen yang masuk ke tubuh kurang dari yang dibutuhkan, sehingga akan mengganggu kerja jantung, memperberat kerja paru-paru, dan menghambat perkembangannya. Bayi oun bisa meninggal dalam kandungan.
Kalaupun bisa selamat dan dilahirkan, kemungkinan besar bayi akan menderita cacar mental akibat anemia dan kekurangan oksigen yang dipasok ke otak. “Karena kondisinya sudah begitu buruk, bayi biasanya tak selamat dalam hitungan hari,” ujarnya.
Menurut Lusy, tingkat keparahan ini salah satunya bergantung pada urutan kehamilan. Penyebabnya, makin sering hamil, antibodi yang diproduksi oleh tubuh ibu makin kuat sehingga makin masif menyerang janin yang dikandung. Kondisi anak kedua akan lebih parah ketimbang anak pertama. Begitupun anak ketiga, akan lebih parah ketimbang anak kedua. “Makin banyak kehamilan terjadi, resikonya makin tinggi dan keparahannya lebih besar,” katanya.
Karena itu, jika ibu sering mengalami keguguran, Lusy menyarankan ibu agar memeriksakan darahnya. Bisa jadi itu adalah akibat dari rhesus darah ibu yang negatif dan janin yang positif.
Tapi, sebelum semua ini terjadi, lebih baik pada calon ibu memeriksakan darahnya saat hamil. Jika rhesusnya negatif dan pasangannya positif, ibu mesti mendapatkan vaksin anti D immunoglobulin (RhoGam). Imunisasi ini diberikan ketika usia kehamilan 28 pekan, saat sudah mendekati trimester akhir. Atau jika anak sudah lahir dan diketahui memiliki rhesus powitif, injeksi dilakukan 72 jam setelah persalinan. “Dengan pemberian ini, 99 persen masalah penyerangan antibodi ibu bisa tertangani,” ujar Lusy.
Sumber : Tempo 1-7 Mei 2017 Hal 70-71
Penulis : NURALFIYAH
