DUA pekan mengajar di Universitas Ciputra, Prof John Norton dari University of Missouri Kansas City (UMKC) semakin menumbuhcepatkan benih-benih unggul kewirausahaan mahasiswa. Bagaimana visinya tentang pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship).
Bagaimana pendidikan entrepreneur di Amerika dan Indonesia?
Banyak persamaannya. Perbedaannya hanya pada perkuliahan. Rata-rata perguruan tinggi di Amerika mengajarkan pendidikan entrepreneur pada semester 3 dan 4. Di Indonesia diterapkan sejak semester awal, seperti di Ciputra. Di sana ada materi inti tentang bisnis. Lalu, materi pilihan seperti finance dan marketing. Mahasiswa diajak merencanakan bisnis, inovasi manajemen, hingga bagaimana menjadikan diri sebagai bos. Meski sudah bekerja di perusahaan, tetap harus berpikir entrepreneur.
Arti strategis pendidikan entrepreneur?
Itu sangat penting untuk peningkatan ekonomi. Riset menyebut, rata-rata seorang entrepreneur menciptakan 512 pekerjaan. Bayangkan jika bisa mendidik ribuan anak muda untuk menjadi entrepreneur. Dampaknya akan luar biasa untuk bangsa dan negara. Bahkan di dunia. Begitu pentingnya pendidikan entrepreneur di Amerika, banyak CEO besar terlibat mendidik entrepreneur. Mereka tidak dibayar karena mengajar sebagai relawan.
Mengapa begitu bersemangat?
Para pengusaha atau CEO berbagi ilmu kepada anak muda karena mereka merasa sukses dengan dibantu orang lain. Mereka ingin membantu orang lain untuk bisa menjadi entrepreneur. Komunitas relawan tersebut terbentuk di Amerika. Ada entrepreneur scholar program. Program itu lepas dari perkuliahan. Mahasiswa maupun bukan bisa bergabung. Mereka menjaring 350 orang untuk dididik, mengerucut hingga 72 orang. Kemudian disaring menjadi 40 orang. Mereka harus menciptakan dan mengelola perusahaan. Rata-rata yang sukses dan bertahan mampu menciptakan 35 perusahaan.
Pandangan Anda tentang pendidikan entrepreneur di Indonesia?
Saat ini di Indonesia, pengajar pendidikan entrepreneur di beberapa perguruan tinggi masih dibayar. Artinya, masih sedikit kepedulian para pengusaha untuk berbagi ilmu. Tetapi, Indonesia bisa melakukan hal yang sama, mengumpulkan para entrepreneur atau pengusaha untuk menjadi relawan.
Kiprah para wirausahawan muda?
Yang terpenting seberapa banyak waktu yang mereka sediakan untuk kerja keras. Bisnis tidak melihat berapa banyak uang dan seberapa tinggi pendidikan. Melainkan, seberapa banyak kamu gagal dan bisa bangkit untuk mencobanya. Gagal, masih ada kesempatan lagi.
Bagaimana menaklukkan kegagalan?
Para mentor memang bisa mengurangi beban kegagalan. Tapi, selanjutnya yang menolong adalah diri sendiri. Banyak funder yang justru percaya kepada pengusaha yang berpuluh-puluh kali gagal jika dibandingkan dengan tidak pernah gagal sama sekali. Entrepreneur tidak akan mungkin gagal, kecuali kalau menyerah.(ayu/c11/roz).
Sumber: Jawa-Pos-28-Januari-2014.Hal_.521

