Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Soroti Krisis Identitas Wisata dan Risiko AI di Indonesia
29 April 2026
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Universitas Ciputra Surabaya menyoroti sejumlah tantangan besar yang tengah dihadapi Indonesia.
Mulai dari lemahnya identitas destinasi wisata hingga risiko penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang belum terkendali.
Sorotan tersebut disampaikan menjelang pengukuhan tiga guru besar dari bidang Sains Data, Business Intelligence, serta Desain dan Perilaku, 28 April 2026, bertempat di Tech Space Lantai 7 Main Building Universitas Ciputra.
Melalui forum konferensi pers, pihak kampus menegaskan bahwa momentum itu bukan sekadar pencapaian akademik. Melainkan langkah strategis dalam merespons perubahan zaman.
Rektor UC Wirawan E.D. Radianto menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan selaras.
“Pengukuhan tiga Guru Besar ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.
Ia berharap para guru besar tidak hanya menghasilkan riset. Tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata. Serta mencetak generasi pemimpin masa depan.
Dari sektor pariwisata, Guru Besar Ilmu Desain dan Perilaku Astrid menyoroti persoalan mendasar berupa krisis identitas destinasi.
Meski Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional dan ribuan desa wisata, hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi destinasi unggulan.
Banyak ruang komersial tradisional berkembang. Tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Sehingga sulit bersaing,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya soul of space. Yakni perpaduan antara ruang, aktivitas, dan budaya lokal yang mampu menciptakan pengalaman autentik bagi wisatawan.
“Wisata seharusnya lebih menekankan pada pengalaman yang melibatkan interaksi manusia dan budaya lokal,” ungkapnya.
Sementara itu, Guru Besar Sains Data Trianggoro Wiradinata mengungkap adanya paradoks dalam adopsi AI di Indonesia.
Di satu sisi, penggunaan AI di tingkat individu telah mencapai 92 persen. Namun, di tingkat organisasi baru sekitar 47 persen.
Guru Besar Bidang Ilmu Sains Data – Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, S.T., M.Eng.Sc. saat hadir di press conference pengukuhan guru besar Universitas Ciputra -Saffanah Indah Fitrizahrani-Harian Disway
“Kita cepat mencoba. Tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” jelasnya. Kondisi iti menunjukkan adanya kesenjangan antara pemanfaatan personal dan kesiapan institusi dalam mengelola teknologi tersebut.
Untuk menjawab tantangan itu, akademisi menawarkan tiga pendekatan utama. Yakni Responsible AI, Human-Centered AI, dan Symbiotic Workforce.
Konsep Responsible AI menekankan pentingnya akuntabilitas, transparansi, perlindungan privasi, serta pengurangan bias dalam penggunaan AI.
“AI harus dibangun secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, pendekatan Human-Centered AI menempatkan manusia sebagai pengendali utama teknologi.
Dalam model itu, manusia berperan sebagai pengawas, kolaborator, sekaligus pengambil keputusan akhir atas hasil yang dihasilkan AI.
Adapun konsep Symbiotic Workforce menegaskan kolaborasi antara manusia dan AI. Teknologi difokuskan pada tugas-tugas teknis dan komputasional.
Sementara manusia berperan dalam aspek strategis dan kreatif. “AI tidak menggantikan manusia. Tetapi memperkuat peran manusia jika digunakan dengan tepat,” imbuhnya.
Senada, Guru Besar Business Intelligence Adi Suryaputra menyoroti bahaya yang lebih mendalam terkait pergeseran peran manusia dalam pengambilan keputusan.
Menurutnya, AI kini tidak hanya membantu tugas-tugas. Tetapi mulai memengaruhi. Bahkan mengambil alih keputusan.
Guru Besar Bidang Ilmu Business Intelligence – Prof. Dr. Adi Suryaputra P., S.Kom., M.Kom. saat hadir di press conference pengukuhan guru besar Universitas Ciputra-Saffanah Indah Fitrizahrani-Harian Disway
“Bahaya AI bukan pada kesalahan hitung. Tetapi saat manusia berhenti berpikir dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sistem,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan konsep Human-Centered Decision Intelligence. Menekankan bahwa manusia tetap menjadi pusat dalam setiap pengambilan keputusan. “AI hanya alat bantu. Bukan penentu utama,” tegasnya.
Ketiga guru besar tersebut menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengelola dan memberi makna terhadap kemajuan tersebut.
Dalam sesi tanya jawab terkait paparan yang disampaikan, para profesor mengungkap bahwa penggunaan AI di kalangan mahasiswa kini tidak terelakkan.
Namun di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul fenomena yang disebut cognitive offloading, yakni kecenderungan mahasiswa menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.
“Mahasiswa cenderung hanya ingin hasil instan. Tanpa memahami prosesnya. Itu yang menjadi tantangan besar dalam pendidikan saat ini,” ungkap Trianggoro.
Dengan demikian, keseimbangan antara teknologi, data, dan manusia menjadi kunci utama agar setiap inovasi tetap berpihak pada nilai kemanusiaan dan keberlanjutan. (*)

