Sumber:https://www.infosurabaya.com/tiga-guru-besar-universitas-ciputra-soroti-krisis-identitas-wisata-hingga-risiko-ai-di-indonesia/

Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Soroti Krisis Identitas Wisata hingga Risiko AI di Indonesia

28 April 2026

infosurabaya.com-Universitas Ciputra Surabaya kembali mengukuhkan tiga Guru Besar dari bidang Sains Data, Business Intelligence, serta Desain dan Perilaku, Selasa (28/4/2026). Dalam acara ini, para akademisi menyoroti sejumlah tantangan besar yang dihadapi Indonesia, mulai dari lemahnya identitas destinasi wisata hingga risiko penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Wirawan E.D. Radianto, menegaskan bahwa pengukuhan ini menjadi langkah strategis untuk menjawab perubahan zaman.

“Pengukuhan tiga Guru Besar hari ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan. Kami ingin memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan solusi nyata,” ujarnya.

Ia juga mendorong para profesor untuk tidak hanya menghasilkan riset, tetapi mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan melahirkan pemimpin masa depan.

Banyak Destinasi, Minim Identitas

Guru Besar bidang Desain dan Perilaku, Astrid, menyoroti persoalan mendasar sektor pariwisata Indonesia yang dinilai belum memiliki karakter kuat.

“Banyak ruang komersial tradisional berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas sehingga terlihat serupa dan sulit bersaing sebagai destinasi wisata,” ujarnya.

Padahal, Indonesia memiliki ribuan desa wisata dan lebih dari 16.000 pasar tradisional. Namun, hanya sebagian kecil yang mampu berkembang dengan identitas yang kuat.

Menurutnya, kekuatan destinasi terletak pada “soul of space”, yakni perpaduan antara ruang, aktivitas, dan budaya lokal yang menciptakan pengalaman autentik bagi wisatawan.

“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat, tetapi pengalaman yang lahir dari interaksi manusia,” jelasnya.

Paradoks AI di Indonesia

Sementara itu, Guru Besar bidang Sains Data, Trianggoro Wiradinata, mengungkap adanya paradoks dalam adopsi AI di Indonesia.

“Sebanyak 92 persen individu sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47 persen. Kita cepat mencoba, tetapi belum siap mengelola,” ungkapnya.

Ia mengingatkan potensi risiko cognitive offloading, yakni kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi, yang berpotensi melemahkan kemampuan analitis.

Meski demikian, ia menegaskan AI tetap menjadi peluang besar jika dimanfaatkan secara tepat.

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegasnya.

Risiko Keputusan Berbasis Mesin

Guru Besar bidang Business Intelligence, Adi Suryaputra, menyoroti risiko lebih dalam terkait pergeseran peran manusia dalam pengambilan keputusan.

“Bahaya AI bukan pada kesalahan hitung, tetapi ketika manusia berhenti berpikir dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sistem,” ujarnya.

Menurutnya, sistem berbasis AI kini tidak hanya membantu, tetapi mulai memengaruhi bahkan mengambil alih keputusan, padahal teknologi tersebut tidak memiliki pemahaman konteks maupun tanggung jawab.

Sebagai solusi, ia mendorong pendekatan Human-Centered Decision Intelligence, di mana manusia tetap menjadi pusat dalam setiap pengambilan keputusan.

Teknologi Harus Berpihak pada Manusia

Pengukuhan tiga Guru Besar ini menjadi penegasan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan manusia dalam mengelola dan memberi makna pada setiap perkembangan.

Dari sektor pariwisata hingga kecerdasan buatan, tantangan Indonesia saat ini bukan sekadar mengejar kemajuan, tetapi memastikan setiap inovasi tetap berpihak pada manusia.(bro)