https://inisurabaya.com/2022/12/tim-universitas-ciputra-ajarkan-budi-daya-brambang-pakai-sistem-hidroponik-dengan-energi-matahari-bambang-dijamin-hemat-penggunaan-listrik/

iniSURABAYA.com | SIDOARJO – Ingin menanam di tengah kondisi rumah yang minim lahan terbuka kini tak lagi jadi masalah. Banyak cara bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan sistem hidroponik.

Beragam tanaman yang bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari bisa ditanam menggunakan sistem hidroponik ini. Mulai kangkung dan bayam dengan masa tanam cepat yaitu berkisar 20an hari atau brambang (bawang merah) yang bisa dipanen dalam waktu 40 hari.

Dan dengan dukungan energi tenaga matahari, keinginan berkebun dengan sistem hidroponik ini kian menantang untuk dilakukan. Karena menanam dengan sistem hidroponik yang membutuhkan aliran listrik untuk sirkulasi air sepanjang hari tak akan lagi menambah beban tagihan PLN.

“Selain itu, penggunaan energi tenaga surya ini tetap aman Ketika ada aliran listrik padam,” ungkap Dr Ir Bambang Sugiyono Agus Purwono MSc, Ketua Tim Program Insentif Pengabdian Masyarakat Terintegrasi dengan MBKM Berbasis Kinerja IKU Bagi PTS 2022, Minggu (11/12/2022).

Pagi itu, Bambang bersama Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Ciputra (UC) ini sibuk membagikan ilmu budi daya tanaman bawang merah dengan sistem hidroponik ke warga di Perumahan Graha Asri, Sukodono, Sidoarjo.

Menurut Bambang, program yang dapat dukungan Dirjen Dikti, Riset, dan Teknologi RI ini berlangsung selama sebulan, sejak 21 November sampai 20 Desember 2022.

“Dampak sosial, ekonomi, dan budaya secara langsung dirasakan oleh masyarakat di sini,” tegasnya.

Bambang didampingi tim UC yang terdiri dari Ir Wahyudi Henky Soeparto MBA MM, dr Salmon Charles P T Siahaan SpOG, serta dua mahasiswa Fitra Muhammad Fauzi, dan Jesslyn Beatricia IT ini menekankan, dampak yang secara langsung dirasakan warga setempat adalah bisa menikmati panen brambang yang harganya sempat melejit sampai Rp 70.000/kg.

Hasil panenan brambang ini, diyakini Bambang, bakal mengurang biaya harian. “Jika semua warga sudah menikmati hasil panenan, sisanya bisa dibagikan ke masyarakat sekitar atau bahkan dijual sehingga punya nilai ekonomi tinggi,” paparnya.

Bambang mengatakan, penggunaan sistem hidroponik, mendukung hadirnya ruang terbuka hijau yang makin sulit karena lahan makin menyempit. Hidroponik jadi solusi karena dapat dibuat bertingkat di lahan 1,5×2,5 meter.

“Penggunaan instalasi hidroponik ini dengan pipa paralon, bisa hasilkan 150 lubang tanam,” imbuhnya.

Penggunaan energi surya, lanjut Bambang, dipastikan tidak mengganggu tagihan listrik warga. “Jadi tak akan ada penolakan warga, ‘Jangan di rumahku, nanti listriknya gimana?’,” cetusnya.

Penggunaan energi surya ini, kata Bambang, juga upaya antipasti climate change. “Setiap tahun suhu bumi naik lima derajat Celcius. Gimana jika diturunkan menjadi dua derajat Celcius supaya es di Kutub Utara tidak mencair?” tandasnya.

Bambang menegaskan, pembuatan instalasi solar cell sangat murah tidak sampai Rp 100.000. “Orang awam pun bisa membuat sendiri,” cetusnya.

Ditemui di tempat yang sama, Atik, Ketua RT 40 Perumahan Graha Asri ini menyambut antusias pelatihan menanam hidroponik dari tim Universitas Ciputra tersebut. “Baru ini kami tahu, bisa menanam tanpa tanah,” ujarnya.

Atik menyatakan bahwa pengetahuan yang disampaikan tim UC tersebut sangat bermanfaat bagi warga. “Tentu sangat membantu mengurangi uang belanja bumbu dapur yang harganya sering naik,” urainya. ap