MELONGOK lokasi workshop millik Titik Winarti di Jalan Sidosermo Indah, rasa haru seketika menyeruak. Rumah sederhana itu merupakan tempat mereka, kaum difabel, yang sering dipandang sebelah mata ketika belajar untuk hidup mandiri.
Orang mungkin tidak akan percaya, clutch cantik, pernah-pernik lucu, bahkan kaus-kaus seblonan pajangan itu adalah karya 20 penyandang difabel.
Kekurangan yang mereka miliki tidak menjadi hambatan untuk berkarya.
Titik rela melakukan apa saja untuk bisa mengangkat harkat dan martabat kaim difabel. Perempuan yang lahir pada 11 maret 1970 tersebut mulai membuka gerai bernama Tiara Craft pada 1995. Seiring dengan perkembangan bisnis, muncul keprohatinan di dalam dirinya tentang kaum difabel yang begitu susah mencari kerja. “Saat itu yang normal aja sulit mencari kerja, apalagi mereka yang selalu dipandang sebelah mata,” paparnya.
Dua tahun kemudian, Titik meberdayakan kaum difabel untuk membantunya di bisnis handicraft. Kala itu Titik dengan sabar mengajari mereka banyak hal. Misalnya, menyablon, menjahit tas, dan membuat boneka dari kain perca. Tidak sedikit muridnya yang tekun dan mahir berkarya. Bahkan, bisa membuka bisnis sendiri. Titik bersyukur mereka bisa hidup mandiri, punya hak hidup yang sama dengan manusia biasa.
Saat ini 20 pegawai ikut berkembang seiring dengan bisnis yang ditekuninya sejak 20 tahun lalu tersebut. Bahkan, tidak jarang kaum difabel binaannya menjadi mentor di beberapa seminar wirausaha. “Jadi pasti malu kalau yang diajari bilang tidak bisa. Mereka aja dengan keterbatasan bisa, apalagi yang normal?” tegasnya.
Ibu lima anak tersebut menjelaskan, ada metode berbeda yang diterapkannya untuk memberdayakan kaum difabel. Metode itu dinilainya mampu membuat kaum difabel kerasan dengan zona nyaman mereka. “Nyaman dengan teman di sini, nyaman dengan lokasi, pasti cocok dengan paa yang akan dikerjakan,” jelas Titik tentang etode yang dipakainya tersebut.
Dengan jujur Titik mengatakan, kalangan difabel saat ini berbeda dengan yang ditemuinya dulu. Dulu, Titik mencari sendiri difabel yang akan diberdayakan. Namun, kini justru berbalik, banyak orang yang menitipkan anggota keluarga ataupun kerabatnya ke workshop miliknya. “Karena tidak semua keluarga siap menerima anugerah spesial dari Allah seperti mereka,” tuturnya.
Meski demikian, Titik berpesan kepada masyarakat yang mempunyai kerabat, teman, ataupun keluarga penyandang difabel agar tidak terlalu memanjakan mereka. Memosisikan mereka sebagaimana orang normal itu sudah cukup. “Ketika kita terlalu memanjakan dan membatasi kreativitas mereka, rata ketergantungan dan malas akan menadi negatif bagi kehidupan mereka kelas. Mereka pun mandiri untuk hidup sendiri,” jelasnya.
Titik berharap lembaga sosial yang mengurusi kaum difabel lebih peduli terhadap masa depan mereka. Sekadar membuatkan perkumpulan dan memberi aktivitas belumlah cukup. “Beri konsep nyata bahwa difabel itu harus bis mandiri. Tidak hanya dikelompokkan, terus dibantu. Takutnya mereka terbuai, tidak berjuang, dan malah mengikis nilai perjuangannya,” tegasnya.
Bergerak di jalur berbeda, Karin Binanto dan Andrea Sharon Liemmongan memilih menjadi pengusaha pastry. Tidak tanggung-tanggung, mereka meninggalkan pekerjaan idaman yang sudah ada di genggaman.
Karin ikut andil dalam film-film dari sutradara terkenal di Indonesia seperti Ayat-Ayat Cinta serta Habibie dan Ainun. Sebuah pekerjaan yang dia idamkan dan sesuai dengan pendidikan yang ditempuhkan di Columbis College Hollywood jurusan sinema. Sementara itu, Andrea, alumnus Universitas Ciputra jurusan desain interior, sudah bekerja sebagai freelancer desainer dan food styling untuk menu sebuah restoran di Surabaya. Pekerjaan tersebut di dambakannya sejak dulu.
Mantap berbisnis dnegna bendera Larela Cake & Co, keduanya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan masing-masing. Bahkan, menurut Karin, bisnis tersebut dimulai tanpa modal sepersen pun. Tepatnya pada 2013, kala itu Karin membuat satu cake yang dibagikan ke teman-teman terdekatnya, termasuk Andrea. Respons positif meluncur. Beberapa orang kemudian meminta Karin untuk membuatkannya.
Dari situ muncul ide untuk membuat bisnis cake secara online. Akhirnya mereka berdua membangun bisnis tersebut dengan terus menekuni pekerjaan masing-masing. Karena pesanan semakin banyak, mereka harus mengambil keputusan besar. Terus menekuni pekerjaan idaman atau mengembangkan bisnis idaman. “Lalu kami memutuskan untuk mengembangkan bisnis ini,” jelas Karin.
Pilihan mereka tidak salah. Bisnis cake yang mereka pilih berkembang begitu pesat. Saat ini saja, keuntungan yang mereka peroleh lebih dari Rp 500 juta setiap bulan.
Tidak sekadar menerima pesanan, mereka juga mempunyai kafe di salah satu mal daerah Mayjen Sungkono. Online shop yang dimiliki sudah mencakup area Jakarta. “Rencananya, kami bikin restoran sih, doain aja,” kata Andrea.
Menurut Karin dan Andrea, fokus dan tekun adalah salah satu kunci sukses berbisnis. Siapa pin pelakunya. “Pilih salah satu, yakini dan tekuni dengan keras. Itu kunci untuk sukses,” saran Karin. (*/c7/nda)
Sumber : Jawa-Pos.20-April-2015.Hal.23,35

