Profesor Ikan dari Subang. Kompas.11 November 2016.Hal.16

Indonesia memiliki berbagai jenis ikan lokal dari sejumlah daerah. Namun, sebagian kekayaan itu sudah langka, bahkan terancam punah akibah kerusakan lingkungan. Demi mencegah kehilangan itu, Toto M Nurm petani di Subang, Jawa Barat, membudidayakan ikan-ikan air tawar endemik di wilayahnya.

OLEH DEDI MUHTADI

Di atas kolam seluas 2 hektar yang di petak-petak, Toto M Nur (68), petani ikan di Kampun Cijambe, Desa/Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat, sudah melakukan upaya itu. Atas inisiatif pribadi, ia mengembangbiakkan dan membudidayakan ikan-ikan air tawar, terutama endemik langka.

Di kolam air deras di pinggir Sungai Cileuleuy yang berhulu di kawasan pegunungan sekitar Gunung Tangkubanparahu, Toto kini sudah memiliki 74 spesies ikan air tawar, 80 persen di antaranya endemik langka lokal. Sebut saja ikan dika, paray, kehkel, genggehek, aba-aba, beureum panon, solaris atau blecak, Ikan terakhir ini sejenis ikan nilem, tetapi bisa tumbuh besar hinga belasan kilogram.

“Jenis ini di perairan umum di perkirakan sudah punah, lalu saya pijahkan (membenihkan) dan kini ada 15 ekor, tapi masih belum besar,” ujarnya saat ditemui di kolamnya di Kampung Cijambe, 5 kilometer sebelum Subang dari arah Bandung, Senin(17/10). Ada juga jenis ikan seperti kancra atau terkenal dengan ikan dewa yang juga sudah langka.

Menurut catatan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Badan Litbang Kelautan dan perikanan, ikan kancra tergolong dalam 19 spesies langka yang perlu mendapat perhatian serius. Kepunahan ikan lokal terutama disebabkan kerusakan lingkungan, perubahan iklim global, dan faktor destruktif lain, seperti kemarau berkepanjangan akibat pemanasan global.

Di perairan umum, banyak penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan. Akibatnya, tidak hanya ikan yang mati, habitat ikan-ikan itu untuk berkembang biak juga rusak.

“Selain menggunakan potas (potasium), banyak penangkapan ikan menggunakan setrum sehingga benih-benih ikan lokal juga ikut mati,” ungkap Toto.

Ikan Unik

Toto memang lahir dibesarkan dari keluarga perikanan sehingga “darah ikan” begitu kuat mengalir dalam kehidupannya. Orangtuanya, seperti umumnya petani di pedesaan, ingin Toto menjadi “orang’ dan tidak mau menjadi petani lagi. Selepas SMA, pemuda itu dimnta melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) di Margahayu, Bandung.

Lulus tahun 1970, Toto bekerja di perusahaan asuransi. Karena tidak cocok, ia lalu mengembangkan bisnis bahan bangunan. Usaha tersebut berkembang untuk ukuran Subang saat itu. Di era 1975-1980, ia pernah menjadi agen semen terbesar yang mampu mendistribusikan raturan truk setiap bulan ke sejumlah desa di Subang.

Namun, karena bisnis itu tidak sesuai dengan hatinya, Toto kemudian beralih ke budidaya ikan. Selain menjual ikan-ikan konsumsi seperti ikan mas, nila, dan gurami, ia pernah membuka rumah makan ikan bakar di pinggir jalan raya Bandung-Subang.

Seiring kecintaannya pada binatang air itu sejak 30 tahun lalu, Toto kemudian mengumpulkan berbagai jenis ikan air tawar, terutama jenis endemik langka. Ia kerap membeli ikan yang ditangkap penduduk di sungai-sungai sekitar Subang. Untuk ikan blecak, misalnya, ia memperolehnya secara kebetulan dari warga sungai Cipanugara, Subang, yang berhasil menagkap ikan “aneh” itu.

Bentuknya seperti ikan nilem, tapi tubuhnya besar. Berita itu sampai ke Cijambe karena di kawasan Subang, Toto memang dikenal sebutaun “profesor” ikan dengan sebutan Toto Lauk (ikan). Ia pun segera menuju kampung warga itu dan membeli ikan blecak seharga Rp 1,5 juta. Nilai uang itu cukup membeli 75 kilogram ikan mas.

Banyak pengetahuan unik yang diperoleh dari kebiasaan ikan-ikan langka itu berkembang biak. Pada ikan kancra yang harganya cukup mahal itu, misalnya, Toto mempraktikkan sekaligus meneiliti proses pengembangbiakannya hari per hari. “Jika mau bertelur, ikan kranca harus diberi pasir. Di beberapa tempat hamparan pasir itu dilekukkan sebab kebiasaan ikan ini akan mengubur telurnya dibawah pasir dalam air” tuturnya.

Ikan ini mampu berkembang biak di perairan umum yang memiliki air jernih dan banyak batuan. Makanannya lumut yang tumbuh pada bebatuan atau buah-buahan dan dedaunan. Jika sudah besar, berat seekor kancra bisa mencapai 20 kilogram dan memiliki daging yang empuk. Namun, kandungan telur pada ikan betinanya, sangat terbatas, hanya ratusan dengan tingkat kematian yang tinggi.

Oleh karena itu, orang-orang tua Sunda dulu melestarikan jenis ikan melalui mistik. Ikan ini sangat unik. Badannya seimbang dengan sisiknya. Ikan ini juga punya kumis yang berwibawa karena itu disebut ikan dewa. Di kawasan Cibulan di kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ikan kancra di keramatkan dan tidak boleh dikonsumsi.

Ikan-ikan lokal ini punya karakter dan rahasia yang serba teratur berdasarkan ekosistemnya. Ikan dewa, misalnya, bisa berubah warnanya bisa memerah dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.

Penelitian terhadapt cara ikan-ikan itu berkembang biak butuh waktu hingga berbulan-bulan. Selain cara memijahkannya dengan cara disuntik. Ikan gurami juga unik karena perubahannya berlangsung tiga hari sekali. Dari telur, keluar ekir telur, kemudian kerangka tulang, dan setelah 12 hari baru ganti larva.

Pencemaran

Tak mudah melestarikan ikan-ikan langka itu, terutama karena sungai kian tercemar limbah kimia. Hujan buatan yang dimulai sekitar tahun 1988 di atas Daerah Aliran Sungai Citarum, Jawa Barat, justru dirasakan Toto turut mencemari perairan umum. Urea dan obat-obat kimia pencair awan dinilai menimbulkan oksidasi di permukaan tanah termasuk perairan.

Bkteri tertentu berkembang, mematikan larva dan merusak alga yang selama ini menjadi sumber makanan larva ikan. Akibat pencemaran, tumbuh-tumbuhan kecil, plankton, dan jasad renik ikut mati. Sebagian besar perairan di Subang kini tidak bisa lagi digunakan untuk memijahkan ikan. Sekitar 95 persen telur yang menetas akhirnya mati akibat airnya kotor.

“Sebelum 1990, debit air Sungai Cileuleuy masih 1.200 liter per detik, kini tinggal 400 liter per detik. Airnya juga sudah tercemar residu pertanian,” ujar Toto menjelaskan pengamatannya.

Hulu Sungai Cileuleuy sekitar 2 kilometer dari Cijambe, terletak di kawasan pegunungan yang menyambung hingga Gunung Tangkubanparahu. Kerusakan debit sungai juga akibat ulah penebamh liat yang mencuri kayu disekitar hulu Cileuleuy.

Tak hanya untuk dirinya, Toto juga rajin berbagi ilmu kepada siapa saja yang berminat tanpa pamrih. Sampai 2014, secara sukarela ia sudah mendidik 900 petani yang mengunjunginya di Subang. Ada juga petani dibina dengan  cara jarak jauh ;ewat komunikasi telepon seluler.

Toto mendidik para petani itu mulai dari cara membuat kolam, kedalaman kolam, jenis ikan yang cocok, sampai mereka berhasil memijahkan ikan.

“Umur saya hampir 70 tahun. Saya ingin mewariskan ilmu ini kepada generasi muda” katanya.

Sumber: Kompas, Jumat, 11 November 2016