Berbagi itu indah, itulah prinsip yang dianut oleh Ida Noersanti, seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang terpilih bersama 12 inspiratif woman yang dianugrahi Tabloid Nova, tabloid perempuan dari Kelompok Kompas Gramedia.
PEREMPUAN yang tinggal di Cluster Bintaro Perumahan Puri Bunga Nirwana Kelurahan Karangrejo Kecamatan Sumbersari tersebut terpilih untuk kategori Sosial dan Budaya.
Saat Surya mengunjungi Ida di rumahnya, prinsip Berbagi itu indah, tergambar dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan sekitarnya.
Ida menjadi penggerak perubahan di lingkungannya, mulai hal-hal terkecil, misalnya merubah kebiasaan ibu-ibu ngerumpi dengan membaca di perpustakaan kecil di rumah Ida. Selain itu mengajarkan cara mengatur keuangan.
Ida memang memiliki seabrek kegiatan. Bukan kegiatan berupa pekerjaan profesional, namun sosial yang ‘jam kerjanya’ melebihi jam kerja formal.
Selain menyediakan perpustakaan mini, di pagi hari, teras rumah Ida juga menjadi kantor Koperasi Sekar Nirwana. Koperasi yang secara resmi disebut koperasi bulan Juli 2014, setelah sejak tahun 2011 hanya menjadi Pra-Koperasi.
Alumni Fakultas Sastra Universitas Jember itu memulai hari di sore hari dengan memberikan les kepada anak dari perkampungan sekitar yang jumlahnya sekita 20 orang. Ida tidak menetapkan tarif.
Bank Sampah
Di bidang lingkungan, Ida bersama warga rutin setiap Rabu dan Sabtu mengelola sampah. Lantaran di belakang perumahan bertumpuk sampah yang menebarkan bau tak sedap.
Ida mengelola sampah terwujud ketika datang sekelompok mahasiswa yang KKN di perumahan itu. Ia meminta bantuan kepada para mahasiswa itu untuk membantunya mengelola sampah.
Walhasil bergabunglah para warga dan mahasiswa. Gerakan pengelolaan sampah dimulai. Sampah basah diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah kering dijadikan aneka kerajinan.
“Awalnya sampah kering disimpan untuk kemudian dijual saja. Salah satu hasil penjualannya bisa dibelikan alat jahit ini,” kata Ida sambil menunjuk sebuah mesin jahit di pojokan teras rumahnya.
Ida menajadi ‘manajer’ bagi para warga untuk mengelola sampah. Karena pengelolaan sampah tidak bisa hanya dilakukan seorang diri atau hanya segelintir orang. Semua warga, kata Ida, harus digerakkan.
Lalu bagaimana Ida membagi waktu untuk keluarganya di tengah kesibukan sosialnya itu. Ternyata Ida memberi keistimewaan bagi suami dan anaknya yang harus ia utamakan.
Hal itu bisa dilihat tetap adanya ruang ‘khusus’ untuk keluarga tanpa keluarga harus terganggu dengan hiruk pikuk di teras rumahnya. Ida juga menyediakan waktu khusus bagi keluarga. Ia juga tidak mau memiliki pembantu. (sri wahyunik)
UC Lib-Collect
Surya.19 Januari 2015.Hal.14

