TIMESINDONESIA, LOMBOK – Universitas Ciputra atau UC Surabaya telah dikenal sebagai kampus yang gencar dengan pendidikan entrepreneurship sejak 2006.
UC Surabaya menjadi mitra kerja sama Sustainable Tourism Education Development (STED) untuk membangun dan mengembangkan pendidikan entrepreneurship serta meningkatkan dan menguatkan kapasitas calon entrepreneur dalam bidang pariwisata.
Universitas Ciputra Surabaya bersama dengan STED mengembangkan program StartInc. yaitu program pengembangan inkubator bisnis yang dilakukan selama 16 minggu di Politeknik Pariwisata Lombok (PPL). Program ini mendapatkan support pendanaan dari Swisscontact.
STED dan PPL melakukan rekrutmen fasilitator dan peserta inkubasi. Universitas Ciputra dalam prosesnya membantu memberikan saran pengembangan kurikulum, mempersiapkan modul belajar bagi para fasilitator dan mahasiswa peserta Inkubator Bisnis PPL batch 1. Selain itu, dalam implementasinya UC melakukan pelatihan dan pendampingan mentoring secara langsung. Program kerjasama ini dilaksanakan mulai April 2021 hingga Desember 2021.
Program ini melibatkan School of Entrepreneurship and Humaniora bekerjasama dengan beberapa dosen dari School of Tourism, Information Technology, dan International Business Management. Maureen Nuradhi selaku Head of Entrepreneurship Specialist Universitas Ciputra Surabaya, merancang program pelatihan penciptaan dan pengembangan bisnis sepanjang 16 minggu yang dilakukan pada Juli hingga Oktober 2021. StartInc.
Module dikembangkan sebelum program pelatihan dan diimplementasikan kepada mahasiswa sebagai salah satu sarana pembekalan bagi fasilitator dan peserta inkubator bisnis PPL. Ada 2 modul yang dikembangkan, yaitu modul untuk peserta dan modul untuk fasilitator project. Modul ini berisi panduan pengerjaan venture creation/ development project yang aplikatif.

Modul berisi materi-materi penting dalam proses penggalian ide dan mengenali peluang bisnis berdasarkan kebutuhan pasar dengan metode project based learning yang aplikatif. Tahapan pengerjaannya menggunakan proses design thinking dari inspiration – ideation – implementation, untuk mengeksplorasi peluang pariwisata di Lombok secara kreatif namun juga kontekstual dgn kondisi terkini di Lombok.
Dalam proses pembekalan kepada fasilitator, tim Universitas Ciputra Surabaya menekankan pada proses dan pola pikir menggunakan konsep design thinking. Selain itu, alat utama yang digunakan dalam pelatihan pembekalan ini adalah pembuatan Business Model Canvas (BMC) yang divalidasikan dari waktu ke waktu.
Pelatihan ini disampaikan dengan metode simulasi dan workshop intensif dalam dua hari. Setelah proses pembekalan ini, tim Universitas Ciputra Surabaya mendampingi para fasilitator dari PPL (Politeknik Pariwisata Lombok) dari tahapan inspirasi sampai implementasi dengan melibatkan Entrepreneur in Residence dan local heroes.
Peserta terpilih menjalani tahap inspiration dengan melakukan eksplorasi dan analisis lingkungan bisnis sesuai minat mereka masing-masing. Saat peserta melakukan eksplorasi ide bisnis yang berawal dari kebutuhan dan permasalahan di lapangan, fasilitator PPL didampingi oleh Tim Universitas Ciputra Surabaya melakukan mentoring dan pitching agar mendapat feedback yang memperdalam kemampuan para peserta inkubator bisnis PPL mengenali kebutuhan dan akar permasalahan.
Setelah itu peserta dibimbing untuk mencari inspirasi dari bisnis lain yg menjawab problem sejenis, dan merumuskan solusi baru yang belum ada dan yang menjawab kebutuhan dan permasalahan nyata dari para konsumen.
Setelah mendapatkan akar masalah yang menjadi dasar melakukan ideasi bisnis, para peserta merancang beberapa model bisnis untuk menghasilkan value proposition yang solutif. Setelah memiliki model bisnis yang lebih jelas, peserta membuat prototype dan melakukan uji coba serta perbaikan berulang kali.
Perbaikan ini dilakukan baik pada ide, pada produk, maupun pada model bisnis yang telah dirancang, sampai menemukan Minimum Viable Product (MVP) dan model bisnis yang benar-benar menjawab kebutuhan customer. Beberapa feedback utama yang selalu disampaikan dari tim Universitas Ciputra Surabaya kepada para peserta adalah pentingnya bisnis-bisnis yang dibuat dan dikembangkan memiliki dampak positif di pariwisata lombok, dan relevan dengan kondisi kesiapan tim dan infrastruktur lombok.
Pada tanggal 25 Oktober 2021, program ini mencapai puncaknya, 7 kelompok bisnis melakukan pitching di hadapan 3 panelist, yaitu Ibu Yuvencia Yunita (Project Coordinator STED), Bapak Ari Gunawan (Co Founder Precious Island & Executive Chairman Global Youth Conference on SDGs), Ricky Hartono putra (CEO NTB Mall) untuk mendapat feedback dan menentukan langkah selanjutnya.
Pada acara puncak ini, tim Universitas Ciputra Surabaya yang terdiri atas Maureen Nuradhi (Head of Entrepreneurship Course Specialist), Christina (Entrepreneurship Course Specialist), dan Febe Yuanita Ratna Indudewi (Head of Incubator UC Ventures) juga turut hadir untuk melakukan evaluasi akhir dari keseluruhan program sekaligus menyaksikan final pitching dari para peserta inkubator bisnis PPL.
Tim peserta PPL yang mempresentasikan pitch decknya adalah Lallo.id, Pawon Chef, Nenaz.Inc , Meriap, Tanyam Lontar, Imilass Project, dan Saudara Project. Lallo.Id memberikan solusi digital untuk bisnis konvensional di bidang transportasi laut (perahu boat). Pawon Chef merintis bisnis kue kekinian sesuai dengan preferensi anak muda saat ini.
Sedangkan, Nenaz.Inc merintis bisnis yang membantu meningkatkan kesejahteraan petani nanas di salah satu desa di Lombok yang memiliki persediaan nanas melimpah dengan menekankan pada inovasi pengembangan produk selai nanas yang organik dan bebas gula. Meriap adalah bisnis rintisan yang menekankan pada kemudahan dan kenyamanan pelanggan memperoleh bumbu dasar dan penyedap organik yang 0% kimia dan monosodium.
Tanyam Lontar fokus pada penyelesaian masalah para kesejahteraan penganyam lontar di Lombok. Imilass Project mengembangkan bisnis yang telah dirintisnya dengan menambahkan value utama pemanfaatan songket dalam desain-desain seragam yang mereka tawarkan. Saudara Project merintis bisnis fashion yang dapat melestarikan tradisi khas lombok dalam desain yang kekinian.
Akhir dari pelatihan inkubator bisnis PPL ini tentu saja adalah awal baru untuk tahap berikutnya, yaitu persiapan peluncuran dan operasional. Perjalanan entrepreneurial masih akan terus berlanjut dan masih banyak yg harus dilakukan untuk mempertahankan dan mengembangakan bisnis dari waktu ke waktu. Semoga para entrepreneur muda ini tetap gigih berusaha demi kemajuan pariwisata lombok yang kreatif dan menjadi The Next Local Heroes yang menginspirasi dan memberikan dampak positif yang luar biasa. (*)

