SURABAYA, Jawa Pos – Pernyataan salah satu komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang sperma yang bisa hidup di kolam renang dan berpotensi menghamili perempuan yang tengah dalam masa subur beberapa waktu lalu membuat heboh. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, pihak Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra melakukan
Penelitian khusus tentang itu kemarin. (29/2)
Setidaknya ada dua hal yang di buktikan dalam penelitian tersebut. Yakni, air kolam renang dan sperma pria. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas CIputra Dr dr Hudi Winarso MKes SpAnd mengatakan, air menjadi bahan penelitian tersebut. Pihaknya mengambil air dari dua kolam yang berbeda sebagai sampel. Yakni, air dari kolam renang Surabaya Barat dan Surabaya Timur.
Dari hasil observasi, visual air kolam renang Surabaya Timur memiliki PH 6 dan PH air kolam renang Surabaya Barat 6,8. Sementara itu, sampel sperma yang diambil mempunyai PH 7,3. Hasil observasi tersebut membuktikan bahwa kondisi sperma yang tidak dicampurkan atau diteteskan ke dua air kolam renang tersebut memiliki pergerakan yang amat cepat. Sampel sperma yang sudah dicampur atau diteteskan ke air kolam renang Surabaya Timur tidak bergerak sama sekali. Begitupun dengan sperma yang dicampur atau diteteskan ke air kolam Surabaya Barat.
Menurut Hudi, ada tiga hal yang bisa membuat sperma tidak bergerak. Pertama, faktor PH atau keasaman air kolam renang. Nah, karena kondisi PH dua air kolam tersebut rata-rata 6,6-6,8 dan PH spermanya 7,2-7,8, sperma tidak terlalu bermasalah dengan kondisi PH air. Namun yang mungkin bermasalah dan membuat sperma tidak bergerak adalah faktor kekentalan atau molaritas air kolam. Jadi, ketika kekentalan air kolam rendah, air akan masuk ke sel sperma lalu mengembang, kemudian rusak alias tidak bergerak.
Kemudian, kematian sperma juga dipengaruhi toksin di dalam air kolam. Sebagaimana diketahui, rata-rata air kolam menggunakan bahan disinfektran untuk mematikan kuman, yaitu kaporit. Itulah yang membuat sperma bisa mati dalam sekejap di air kolam. Jadi, pernyataan yang menyebutkan bahwa sperma yang dipancarkan di dalam kolam renang bisa menghamili perempuan pada masa subur yang mandi di kolam tersebut tidak benar. “Sebab, dalam sekejap setelah bertemu dengan air kolam, sperma itu mendadak tidak bergerak,” ucapnya.
Hudi mengatakan, penelitian yang dilakukan memang bertujuan untuk mencerahkan masyarakat agar tidak penasaran atau semakin heboh. “Semoga ini bisa bermanfaat,” ucapnya. “Penelitian tersebut tidak sampai pembuktian itu saja. Namun akan terus dilanjutkan ke tahap yang lebih kompleks,” lanjutnya. (his/c15/tia)

Sumber: Jawa Pos. 1 Maret 2020. Hal.15