Glamor Tetap Oke Untuk Party. Jawa Pos.17 November 2014.Hal.36

Gelar Fashion Momentum

SURABAYA – Salah satu bentuk eksistensi desainer di panggung mode adalah seringnya mereka menggelar fashion show. Makin sering menggelar fashion show, karyanya akan tambah dikenal. Tentunya, desainer tetap memperhatikan unsur keunikan desain dan orisinalitas karyanya.

Dengan tujuan yang sama, sekolah mode menggelar ajang fashion show. Tidak terkecuali Pison Art N Fashion Foundation dengan gelaran Fashion Momentumdi Surabaya Town Square kemarin (16/11). Saat itu ada 25 alumnus yang menampilkan karyanya.

Salah satunya, Bramanta Wijaya Karya lulusan UI jurusan advertising tersebut cukup menarik. Dia mengangkat budaya Indonesia yang dikombinasikan dengan kultur Jepang dalam enam karyanya. Bramanta mempunyai alasan tersendiri memilih Jepang sebagai sumber inspirasinya. “Saya suka Jepang sejak kecil. Saya sering gambar Sailor Moon dan Yakuza,” ucapnya. “Yakuza itu seksi, feminim, dan independen,” lanjutnya.

Untuk unsur lokalnya, laki-laki yang akrab disapa Bram tersebut mengambil batik kawung yang berpola teratai. Menurut dia, bunga teratai berarti pengharapan. Itu sesuai dengan cita-citanya yang mengangkat harapan bagi orang lain. Dia juga mengambil batik parang berbentuk ombak. “Banyak motif sih di Indonesia, nggak bikin kering ide. Lagi pula mengangkat batik lokal sebagai identitas bahwa saya orang Indonesia,” ungkapnya.

Tidak hanya Bram, Geraldus Sugeng juga unjuk kemampuan desainnya. Dia merupakan salah seorang desainer senior yang telah malang melintang di dunia mode selama 19 tahun. Geraldus menyatakan bahwa acara semacam Fashion Momentum sangat bagus bagi perkembangan dunia fashion. “Senior dan pemula bisa saling kenal elbih akrab dan bertukar pengalaman,” paparnya.

Perkataan Geraldus diperkuat ucapan Elizabeth Njo May Fen, pemilik sekolah mode Pison. “Ini adalah wadah untuk bisa bersama-sama unjuk kemampuan. Fashion show kali ini menggabungkan desainer top dan desainer muda,” ujarnya. Selain fashion show, juga ada pameran, kompetisi, workshop, talk show. (cik/c20/ai)

 

UNDANGAN party akhir tahun mulai bertebaran. Tetapi, tidak jarang orang yang bingung soal pemilihan baju untuk hangout bareng kawan-kawan itu. Silvia Siantar, fashion blogger, menyarankan agar orang tetap berani memakai sesuatu yang glamor dengan aksen mealik di beberapa sisi.

Kata Silvia, gaun dengan pola seperti itu akan tetap menjadi tren yang pas untuk pesta. “Gaun yang pas lebih ke mermaid sama high low,” ujarnya. Untuk warnanya, lebih cocok yang muda. Tetapi, ujar dia, gaun biru pun tetap “aman” dipakai.

Mermaid dress, gaun dengan pola sirip kaki ikan duyung tersebut, dipermanis dengan bagian transparan di bawah. Dengan begitu, long dress itu bisa memperlihatkan bentuk betis. “Kalau dipakai, bentuknya melengkung hingga menyerupai mermaid,” ungkap perempuan berambut panjang tersebut.

Sementara itu, gaun high low memiliki bagian depan yang lebih pendek ketimbang belakangnya. “Dua jenis dress tersebut nggak ribet. Modelnya juga simpel, cocok untuk acara semiformal dan pesta koktail,” paparnya.

Agar outfit tidak monoton, ia bisa dipadu dengan blus. Di sisi lain, bawahan putri duyung bisa dikombinasikan dengan bahan jacquard dan tile. Tetapi, kalau ingin lebih sederhana, jangan ragu memakai rok ketimbang dress. Pilih saja ball skirt. Pola cutting-nya sederhana dan bersahaja daripada ball gown, tetapi tetap punya unsur mewah. (cik/c20/dos)

Sumber: Jawa Pos/17 November 2014/Hal 36