Merangkul 125.000 WARGA
Lombok punya banyak tujuan wisata yang bisa dikembangkan, “Seperti Bali, Lombok punya banyak pantai yang indah. Akan tetapi, tidak sedikit yang kondisinya kotor karena sampah,” ujar gadis kelahiran 22 Februari 1984 ini. Tak hanya kondisi lingkungan kotor yang menjadi kegelisahannya, akan tetapi juga tingkat kehidupan social dan ekonomi masyarakatnya.
“Indeks pembangunan manusia di Lombok sangat rendah. Dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan masih belum berkembang. Dari segi pendidikan, angka putus sekolah masih tinggi, begitu pula dengan tingkat pengangguran,” tutur Febri.
Melihat fakta ini, ia memutuskan untuk tidak tinggal diam. Pengalamannya pernah tinggal di Kota Gibson, Kanada, saat mengikuti program pertukaran pemuda Kanada – Indonesia yang diadakan Kemenpora tahun 2005, telah membuka matanya.
“Saya kagum karena hampir semua penduduknya mengonsumsi makanan organic. Gibson punya mata air bersih sehingga mereka bisa minum di air keran. Masyarakatnya sangat menjaga air dari alam. Mereka memilah sampah dengan baik dan menghindari pemakaian bahan kimia,” ujar lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Mataram, Lombok, ini.
Kembali ke Lombok, Febri sedih menyaksikan banyak orang yang masa bodoh, buang sampah seenaknya ke sungai dan laut. “Di sini, sungai seperti sudah dilupakan fungsinya.”
Bersama suaminya, Syawaludin (33), ia membentuk bank sampah yang diberi nama Bintang Sejahtera NTB, berlokasi di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. “Tentu, sebelum mulai terjun, kami harus memastikan feasibility bisnisnya ada,” cerita Febri. Sampah seperti plastic, kardus, kertas, besi, dan aluminium, punya nilai ekonomi dan bisa dijual lagi.
Setelah yakin ada pasar yang bisa menerima olahan sampah daur ulang, Febri dan suaminya mulai membangun system, yakni dengan memberi insentif berupa pinjaman untuk masyarakat. Besarnya, dari Rp100.000, Rp200.000, sampai Rp500.000. Masyarakat cukup membayar pinjaman itu dengan sampah.
Tapi, baru beberapa waktu berjalan, Febri menghadapi kredit macet. “Para nasabah mulai banyak yang nakal. Mereka ambil pinjaman di kami, tapi sampahnya mereka jual ke orang lain. Kami rugi sangat banyak, hampir Rp100-an juta. Gara-gara merugi, kami pun set back,” kenang Febri.
Mulai lagi dari nol, Febri pun memutuskan untuk mengubah system pinjaman menjadi system tabungan tidak ada lagi yang boleh meminjam. Ia pun mengajak orang untuk menabung di bank sampahnya, atau cash and carry. Mereka bisa langsung mendapatkan pembayaran dari sampah yang disetorkan. Tapi untuk itu, Febri juga harus bekerja keras menyebarkan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Dari sampah yang dikumpulkan itulah, dalam sebulan, Febri bisa mengirim sampah plastik untuk didaur ulang, sekitar 27-35 ton. Omzetnya? Mencapai Rp150 juta.
Kendati demikian, Febri mengaku tidak ingin menyebut bank sampahnya ini sebagai bisnis, melainkan kewirausahaan social. “Orientasinya bukan untuk keuntungan pribadi, tapi bisnis yang menguntungkan masyarakat. Segala keuntungan yang kami dapat, kami kembalikan ke masyarakat,” tuturnya. Ia berharap, dari aktivitasnya ini bisa menggerakkan roda ekonomi lokal.
Selain nasabah, ada pula yang memang menjadi pekerja di bank sampah, terlibat dalam proses pengumpulan, pengangkutan, penggilingan, penjemuran, dan gudang. Untuk itu, mereka mendapat gaji. Jumlah mereka yang mendapat penghasilan di bank sampah Febri, ada sekitar 150-175 orang.
Di luar itu, ada komunitas-komunitas yang dirangkul untuk ikut bekerja sama, antara lain terdiri dari karang taruna, posyandu, dan desa. Belum lagi, sekolah-sekolah yang terlibat, ada sekitar 50 sekolah. Meurut Febri, kalau ditotal bisa 125.000 warga yang terjaring program ini.
Khusus untuk sekolah-sekolah, Febri melakukan program edukasi, bekerja sama dengan Kak Wawan dari Kerajaan Dongeng, juara dongeng nasional asal NTB.
Selain sekolah, Febri juga berkeliling melakukan edukasi ke komunitas RT, kader PKK, posyandu, dan karang taruna. “Saya memutar video tentang bahayanya sampah. Ada banyak sekali zat dan logam berat beracun yang disebabkan oleh sampah. Saya ingin membongkar mindset mereka. Bukan asal yang penting sampah hilang dari mata mereka. Saya ajak mereka berpikir, ke mana sampah itu dibawa dan apa yang terjadi setelahnya,” tutur Febri.
Melepas Karier Mapan
Fokus Febri pada dunia pengolahan sampah juga karena terinspirasi dari suami. Berasal dari latar belakang keluarga yang penuh keterbatasan. Orang tua Syawaludin yang berasal dari kawasan Lombok Tengah bagian selatan sering menghadapi paceklik. Mereka tidak bisa menanam sawah, dan akhirnya hidup dari mengumpulkan sampah.
Suami Febri bertekad ingin memutus mata rantai kemiskinan. Dari hasil memulung sampah, Syawaludin akhirnya berhasil mengenyam kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Mataram.
Kagum pada kegigihan suami, Febri mengatakan pada Syawaludin. “Kalau kakak berhasil sekolah tinggi dari memulung sampah, kenapa tidak dibagi cerita ini. Jadi, tidak ada alas an bagi orang tua untuk tidak menyekolahkan anaknya. Tidak ada alasan bagi anak untuk putus asa dengan kondisi seperti itu,” cerita Febri.
Setelah lulus kuliah, Febri beruntung mendapatkan pekerjaan bergaji lumayan di sebuah lembaga asing, Jerman Internasional Coorperation (GIZ) yang bertempat di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTB. Selain itu, ia sempat bekerja di Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) NTB.
Begitu pula Syawaludin, sempat bekerja sebagai staff ahli di DPRD Provinsi NTB. “Dari segi finansial, tidak ada masalah. Tapi, ini semua berawal dari keresahan, mau sampai kapan fenomena seperti ini terus terjadi dan Lombok makin kotor,” ujar Febri
Di Juni 2010, tak mau menunda-nunda lagi, Febri dan suaminya memulai dengan mengumpulkan apa yang mereka punya. Seluruh tabungan dan cincin maskawin mereka jual. Febri juga mengajak temannya, 3 pasang suami-istri, menginisiasi program bank sampah bersama-sama.
Namun, seiring waktu, karena kesibukan yang lain, praktis yang aktif di bank sampah tinggal Febri dan suaminya. “Kami pun berpikir, ini harus digeluti secara full. Saya pun memutuskan untuk tidak lagi bekerja di GIZ. Suami juga resign dari kantor dewan,” ujarnya.
Tak bisa dipungkiri, melepas karier demi bank sampah, sempat membuat Febri dan suaminya dianggap tidak waras. “Saya sering ditanya orang dan diremehkan. ‘Kalian ini lulusan S-1, ngapain ngurus sampah. Tetangga juga heran, ‘Kalian pasangan suami istri gila!’ Sdah dapat pekerjaan bagus, kok, malah ditinggal,” kenang Febri. Tentangan itu tak hanya datang dari orang-orang sekitar mereka, tapi juga dari keluarga yang mempertanyakan keputusan mereka.
Setelah 4 tahun berjalan, barulah mulai banyak yang paham. Ternnyata, sampah itu bisa, kok, dikelola dengan baik, tanpa membuat orang yang mengelola tampak hina. Bahkan, perubahannya bisa dirasakan.
“Dari cakupan paling kecil di kawasan RT dan sekolah, sekarang terlihat lebih bersih dan terkelola,” tutur Febri, yang pada Maret lalu memperoleh penghargaan Indonesia Women of Change 2015 dari Kedubes Amerika Serikat.
Febri juga percaya, perubahan itu dimulai dari tataran rumah tangga. “Dengan cara yang simple, tiap rumah bisa menerapkan pemilahan sampah. Kalau di rumah sudah terkelola, akan jauh mengurangi volume sampah yang diangkut.
Sumber : Femina , Juli 2015

