Pneumokokus menjadi pembunuh utama anak-anak berusia di bawah lima tahun. Imunisasi Pneumokokus mulai digelar bertahap.
JAKARTA, KOMPAS- Pemerintah menargetkan vaksinasi pneumokokus bisa masuk dalam program imunisasi dasar lengkap secara nasional pada tahun 2022. Secara bertahap, vaksinasi ini mulai dilaksanakan pada Juni 2021 di 14 wilayah di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat.
` Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampai kan, setidaknya dari 5 juta bayi yang lahir setiap tahun, terdapat 500.000 anak tertular pneumonia. Dari jumlah itu, 30.000 orang di antaranya harus dirawat.
“Angka ini sangat besar. Padahal, mereka bisa berkontribusi bagi negara dalam 20-30 tahun ke depan. Karena itu, vaksinasi PCV (pneumococcal conjugate vaccine/vaksin pneumokokus konjugasi) menjadi penting sebagai langkah preventif (pencegahan),” ujarnya dalam acara Pencanangan Nasional Introduksi Imunisasi PCV di Gresik, Jawa Timur, yang diikuti secara daring dari Jakarta, Selasa (22/6/2021).
Budi menegaskan, di tengah gencarnya vaksinasi Covid-19, imunisasi dasar lengkap harus tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal. Adapun jenis vaksin yang diberikan dalam program imunisasi dasar lengkap, antara lain, adalah hepatitis B, polio, BCG, DTP, Hib, campak, dan varisela.
Tiga jenis
Pemerintah menargetkan akan ada tiga jenis vaksin lain yang akan diberikan dalam program imunisasi dasar, yakni PCV, HPV, dan rotavirus. Diharapkan, tiga vaksin tersebut bisa diberikan secara menyeluruh ke semua anak Indonesia mulai tahun 2022.
“Jadi, (pemberian vaksin) bukan seleksi, melainkan menyeluruh. Karena kita percaya, itu lebih efisien kalau intervensi di primary care (layanan primer), bukan secondary care (layanan lanjutan). Lebih efisien kalau di preventif, bukan kuratif (pengobatan). Penguatan primary care ini merupakan salah satu reformasi kesehatan yang kita lakukan,” ujar Budi.
Terkait dengan program imunisasi PCV, Indonesia telah menerima sebanyak 1,6 juta dosis pertama vaksin PCV melalui skema Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) Advance Market Commitment (AMC) yang didukung Bill & Melinda Gates Foundation dan Unicef. Kini, pembelian dari mekanisme tersebut dilakukan. secara langsung dari Divisi Pengadaan Global Dana PBB untuk Anak-anak (Unicef) dengan harga lebih terjangkau bagi negara-negara berkembang. (Kompas, 6/2/2020).
Sebelumnya, program demonstrasi imunisasi PCV telah dilaksanakan tahun 2017-2019 di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Bangka Belitung. Dalam kurun waktu tersebut, cakupan imunisasi mencapai lebih dari 80 persen dan tidak ada laporan kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) yang serius. Untuk mencapai kekebalan komunitas dari pemberian vaksin PCV, cakupan imunisasi setidaknya harus mencapai 95 persen dengan pemberian dosis lengkap.
Pelaksana Tugas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Maxi R Rondonuwu mengatakan, imunisasi PCV akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh wilayah Indonesia. Pelaksanaan introduksi imunisasi PCV diawali di delapan wilayah di Provinsi Jawa Timur pada Juni 2021 dan enam wilayah di Provinsi Jawa Barat pada Juli 2021.
“Sasaran diberikan kepada bayi usia 2 bulan untuk dosis pertama dan selanjutnya dilengkapi dengan dosis kedua pada usia 3 bulan dan dosis ketiga yang dilanjutkan pada usia 12 bulan,” ujarnya.
Perburukan kondisi
Vaksin PCV diberikan untuk mencegah terjadi pneumonia pada anak. Pneumonia atau radang paru akut bisa disebabkan infeksi virus atau bakteri. Infeksi itu merusak jaringan paru sehingga penyaluran oksigen dalam tubuh terganggu sehingga berisiko menyebabkan kematian.
Perburukan kondisi bisa terjadi karena kekebalan tubuh bayi dan anak balita rendah. Pada bayi, risiko terjadi pneumonia makin besar apabila bayi tersebut tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) secara eksklusif. terpapar asap rokok, terpapar asap dalam ruangan, kurang gizi, terinfeksi HIV, serta memiliki penyakit kronis, seperti penyakit ginjal kronis.
Kementerian Kesehatan pada 2019 mencatat, terdapat 153.987 kasus pneumonia pada bayi berusia kurang dari 1 tahun dan sebanyak 314.455 kasus pada anak berusia 1-5 tahun. Adapun jumlah kematian anak aki bat penyakit ini mencapai 550 kasus. Indonesia berada di pe ringkat ke-7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi.
Spesialis Imunisasi Unicef, Mohammad Ruhul Amin, mengatakan, penyakit pneumonia dapat dicegah dengan vaksinasi. Bakteri pneumococcus yang telah teridentifikasi pada 49,5 persen kasus pneumonia di Indonesia dapat dicegah dengan vaksin PCV.
Meski demikian, vaksin ini menjadi pelengkap dalam upaya pencegahan pneumonia. Upaya lain tetap harus diutamakan, seperti pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran, manajemen kasus yang tepat, serta mencegah faktor risiko, seperti paparan polutan dalam ruangan dan asap rokok.
“Seiring dengan program vaksinasi, sistem kesehatan, khususnya layanan puskesmas, harus diperkuat untuk mengatasi penyakit pneumokokus secara holistik. Penguatan sumber daya juga dibutuhkan untuk mewujudkan rencana perluasan dan peningkatan pemanfaatan vaksin PCV di Indonesia,” ujar Ruhul. (TAN)
Sumber: Kompas. 23 Juni 2021. Hal.8

