Sejak lama, tradisi membuat keris menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan dusun banyusummurup, desa girirejo, kecamatan imogiri, kabupaten bantul, DI Yogyakarta. Wahyu aji sasmito (48) berusaha memastikan tradisi itu tidak akan putus dengan mendorng anak anak muda menekuni usaha pembuatan keris.

Orang orang di dusun banyusumurup tidak tahu persis kapan tradisi membuat keris dimulai di dusun itu. Beberapa sesepuh dusun yakin tradisi itu dimulai ketika kerajaan majapahit runtuh dan para empu pembuat keris lari ke sejumlah daerah, termasuk banyusumurup. Dari mereka, tradisi membuat keris diwariskan secara turun temurun hingga sekarang.

Seperti kebanyakan warga lainnya, wahyu yang biasa disapa aladin sejak kecil biasa melihat orang tua atau tetangganya membuat keris. Ketika duduk dibangku kelas IV, ia mulai belajar membuat komponen komponen keris. Begitulah, anak abak banyusumurup sejak beliau telah menjadi bagian dari tradisi pembuatan keris. Ia berusaha mengembalikkan ingatan dan keterampilannya membuat keris. Selama setahun ia bekerja sendirian hingga seorang warga dusun dating kepadanya mencari pekerjaan. Meski perlahan, usaha pembuatan keris milik aladin berkembang. Saat itu, belum banyak pedagang perantara sehingga para pengrajin harus memasarkan sendiri keris buatan mereka ke kota kota lain. Ditengah kesibukannya membuat keris, aladin dan pengrajin bisa menghidupkan terus usahanya. Tidak puas dengan pasar yang hanya di sekitar jawa tengah dan DIY, aladin pun berupaya merambah pasar yang lebih luas. Ia memberanikan diri menghubungi dinas perdagangan kabupaten bantul untuk minta dilibatkan dalam pameran produk kerajinan. Permintaannya diluluskan pada 1999. Untuk pertama kalinya aladin diikutsertakan sebagai peserta pameran di bantul. Sejak saat itu ia semakin rajin mengikuti pameran di sejumlah kota di seluruh Indonesia. Dia juga aktif mengajak perajin lain terlibat dalam pameran yang membuat keris produksi banyusumurup perlahan tetapi pasti dikenal disejumlah  daerah di Indonesia. Bahkan, keris buatan banyusumurup diminati orang asing.

Orang orang asing, cerita aladin, kerap datang kedusun banyusumurup untuk berwisata, melihat, dan belajar membuat keris. Setelah itu, mereka akan membeli keris dan memborong aneka candera mata.

Menoleh

Pada 1997-1998 ketika krisis moneter melanda Indonesia yang disusul dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh secara besar besaran, warga banyusumurup yang merantau sebagai buruh di sejumlah kota berbondong bondong pulang dengan status penganggur. Sepuluh diantara mereka mendatangi aladin untuk belajar membuat komponen keris, aladin menyambut mereka dengan tangan terbuka. Ia mengajari  dan menurunkan keterampilannya membuat keris. “mereka saya pekerjakan sebagai karyawan selama setahun. Setelah itu saya biarkan kerja dan membuka usaha secara mandiri,” ujarnya.

Aladin sadar semakin banyak anak muda yang belajar membuat keris, semakin kokoh tradisi pembuatan keris di banyusumurup. Karena itu, ia tidak hanya menunggu anak anak muda itu datang kepadanya untuk belajar membuat keris, tetapi juga aktif mencari mereka, terutama mereka yang masih menganggur atau putus sekolah. Setelah mereka menguasai keterampilan membuat keris, aladin akan mendorong anak anak mudah itu untuk merintis usaha sendiri.

“dengan menggerakkan aktivitas membuat keris, setiap generasi muda dari banyusumurup tidak perlu lagi bingung mencari pekerjaan hingga ke luar kota,” ujar aladin, akhir juni lalu. Ia mengajak kami menemui sejumlah anak muda yang telah mentas sebagai perajin keris. Salah seorang diantaranya dika widayanto (23) yang dilatih membuat keris sejak berusia 18 tahun. Setahun terakhir ini ia sudah mampu membangun usaha pembuatan keris sendiri. “Padahal, kakek, bapak, ibu saya, semuanya sama sekali tidak ada yang membuat keris dan komponennya,” ujar  dika. Jalan yang sama dilalui sudarwanto (30). Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh serabutan selama 10 tahun. Setelah belajar membuat bilah keris dari aladin, ia berhasil memproduksi bilah keris. Usaha pembuatan keris telah ia jalankan empat tahun terakhir. Aladin sampai sekarang terus membuka pintu rumah produksi miliknya sebagai tempat belajar bagi siapa saja yang ingin terampil membuat keris. Setiap tahun, rombongan siswa sekolah dan kelompok pemuda yang datang silih berganti untuk belajar membuat keris. Para pemuda yang datang biasanya sedang kebingungan mencari kerja dan tidak sanggup melanjutkan sekolah.

Semua yang datang dilayani dengan baik oleh aladin. Dia tidak keberatan ketika akhirnya dari 10 pemuda yang datang, hanya satu orang yang benar benar mandiri sebagai perajin. “sekalipun hanya sedikit yang berminat menekuni kerajinan keris, saya tetap optimistis. Dari merekalah semangat membuat keris bisa menular kepada orang lain. Dari merekalah semangat membuat keris tidak akan putus memotivasi anak muda untuk menekuni usaha pembuatan keris.

Dia yakin, lewat usaha pembuatan keris, dusun banyusumurup bisa mandiri. Anak anak muda tidak perlu ke luar dusun untuk mencari pekerjaan karena mereka bisa ciptakan lapangan pekerjaan di kampong sendiri. Jika semua orang meyakini hal yang sama, tradisi pembuatan keris di banyusumurup akan terus terjaga.

 

Sumber: Kompas, Senin 10 Juli 2017