
Oleh Yoseph Pencawan
Kalangan medis percaya atau PGK pada bahwa risiko terjadinya penyakit ginjal kronik perempuan hampir sama tingginya dengan kaum laki-laki. Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pemefri) bahkan meyakini risiko terjad1nya PGK pada peremprian lebih tinggi dari laki-laki.
“Berdasarkan beberapa studi, PGK lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki dengan rerata prevalensi sebesar 14% pada perempuan dan 12% pada laki-laki,” ujar Ketua Pernefri Aida Lydia.
Gagal ginjal kronik adalah masalah kesehatao dunia dengan beragam hasil yang kurang baik, seperti gagal ginjal dan kematian awaL Registrasi Ginjal lndonesia 2014 mencatat dari 28.882 pasien GGK di Indonesia, sebanyak’ 16.108 di antaranya perempuan (55,77%) dan 12.774 lainnya adalah laki-laki (44,23%).
Saat ini sekitar 195 juta perempuan di seluruh dunia terkena gangguan ginial. Penyakit ginjal kronik juga merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia dengan komplikasi gagal ginjal dan kematian dini. PGK saat ini merupakan penyebab kematian ke-8 tertinggi pada perempuan yang mengakibatkan hampir 600.000 kematian setiap tahun.
Setidaknya ada tiga alasan utama yang menyebabkan kondisi tersebut. Pertama, perjalanan PGK yang lebih lambat pada perempuan; dan kedua, hambatan psiko-sosioekonomi. Misalnya karena rendahnya kesadaran akan penyakit ginjal atau tidak dimulainua dialisis. Ketiga adalah layanan kesehatan yang tidak merata. “Ini yang masih menjadi masalah utama di negara negara yang tidak memiliki jaminan layanan kesehatan semesta.”
Kondisi kesehatan yang dapat menjadikan tingginya resiko terjadinya PGK antara lain karena perempuan lebih banyak terkena lupus, suatu penyakit autoimun yang dapat menyerang ginjal. Kemudian risiko menderita preeklampsia dan eklampsia selama kehamilan serta tingginya kejadian infeksi saluran kemih pada permpuan akibat struktur anatomi saluran kimih permpian uang lebih pendek dari laki-laki.
Selanjutnya adalah tingginya kejadian penyakit kanker serviks (leher rahim) yang seringkali mengakibatkan gangguan fungsi ginjal. Berdasarkan data dari Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Nasional pada 2016, terjadi peningkatan beban biaya kesehatan untuk pelayanan penyakit Katastropik, termasuk gagal ginjal. Menurut Zamhir Setiawan, Kepala Sub Direktorat Penyakit Jantung dan Penibuluh Darah, Kementerian Kesehatan, pada 2014 penyakit Katastmpik menghabiskan biaya kesehatan sebesar Rp8,2 triliun, pada 2015 jadi Rp13,1 triliun, dan meningkat lagi pada 2016 menjadi Rp13,3
“Dan satu tahun terakhir, gagal ginjal sudah menjadi penyakit katastropik nomor dua setelah penyakit jantung yang paling banyak menghabiskan biaya kesehatan,” ujarya.
GESER KANKER
Beberapa tahun sebelumnya, kanker menempati urutan kedua penyakit yang menghabiskan biaya kesehatan terbesar, tetapi pada 2017 gagal ginjal sudah menggesemya. Data Global Burden of Disease menunjukkan bahwa penyakit ginjal kronis merupakan penyebab kematian nomor 27 dunia pada 1990 dan naik menjadi unotan 18 pada 2010.
Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2013 menyimpulkan prevalensi penduduk Indonesia yang menderita gagal ginjal sebanyak 0,2 atau 2 orang per 1.000 penduduk dan prevalensi batu ginjal sebanyak 0,6 atau 6 orang per 1.000 penduduk.
Adapun daerah dengan prevalensi penyakit gagal ginjal tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Tengah dengan angka 0,5% dan berdasarkan jenis kelamin, prevalensi gagal ginjal pada pria sebesar 0,3%, lebih tinggi dad wanita yang hanya 0,2%.
Dari catatan Kemenkes, lanjut Zamhir, jumlah pasien hemodialisis, balk pasien barn maupun pasien aktif, sejak 2007 sampai 2016 meningkat, terutama pada 2015 h(ngga 2016. Berdasarkan usia, pasien hemodialisis terbanyak adalah kelompok usia 45-64 tahun.
Dari gambaran di atas, pada peringatan Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day/ WKD) pada tahun ini, Pemefri meminta masyaralcat, khususnya kaum perempuan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan ginjal. Perempuan perlu meningkatkan pemahaman akan tingginya risiko gangguan ginjal serta upaya untuk mencegah beban kesehatan akibat penyakit ginjal.
Terlebih, kendati prevalensi penderita PGK perempuan lebih tinggi, tetapi perempuan yang menjalani dialisis lebih rendah dibandingkan dengan pria. Ditengarai setidaknya ada tiga alasan utama kondisi tersebut terjadi dan yang pertama adalah perjalanan PGK yang lebih lambat pada perempuan.
Selanjutnya yakni hambatan psiko-sosioekonomi, seperti rendahnya kesadaran akan penyakit ginjal yang mengakibatkan keterlambatan atau tidak dimulainya dialisis. Kemudian akses kesehatan yang masalah utama di negara negara yang tidak memiliki jaminan layanan kesehatan semesta.
Untuk ibu hamil yang menderita gagal ginjal kronik, berisiko menurunkan kondisi tersebut kepada bayi di dalam kandungan. Oleh karena itu, perempuan penderita gagal ginjal kronis yang sedang hamil atau merencanakan kehamilan harus menjalani konsultasi pra-kehamilan.
Sumber: Bisnis-Indonesia-Weekend.18-Maret-2018.Hal_.11
